![]()
Foto Istimewa
Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan DR James T Riady (kiri) bersama Kepala SPH Lippo Karawaci & Koordinator Sekolah-sekolah Pelita Harapan Brian Cox M Ed (kanan) dan perwakilan Sahid Group, Yanti Sukamdani di sela-sela seminar pendidikan bertema "A Refreshing Moment, Reflecting on Family and Education " di Kemang Village, Jakarta, Sabtu (12/1). Seminar tersebut membahas pendidikan dan "parenting" anak usia TK hingga remaja.
[JAKARTA] Pendidikan anak-anak usia dini dan remaja Indonesia kurang mendapat perhatian keluarga. Orangtua saat ini lebih condong melihat hasil akhir pendidikan di sekolah berupa prestasi akademik dari nilai rapor atau indeks prestasi yang didapat, sementara hubungan antaranggota keluarga sebagai proses pendidikan di rumah kurang mendapat perhatian.
Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan, James T Riady mengatakan, keluarga adalah fondasi utama dalam pendidikan. Sementara fungsi sekolah sebagai kontraktor pendidikan dari rumah.
"Jadi harus ada hubungan komunikasi yang kuat antara rumah (orangtua) dan sekolah" ujar James ketika membuka acara A Refreshing Moment, Reflecting on Family and Education di Jakarta, Sabtu (12/1). Acara bertemakan Education In A Changing World ini merupakan hasil kerja sama antara Majalah Globe Asia, Kemang Village dan Sekolah Pelita Harapan (SPH).
Dalam kesempatan itu, Brian Cox, Kepala SPH mengungkapkan, perkembangan dunia sangat cepat termasuk di dalamnya masalah pendidikan. Mengutip laporan Richard Riley, mantan Menteri Pendidikan AS, ada 10 jenis pekerjaan baru pada 2010 yang belum ada di tahun 2004.
"Lembaga pendidikan harus memperhatikan hal tersebut dengan mengubah sistem pendidikan," ujar Brian. Selanjutnya tiga hal penting dalam pendidikan adalah knowledge, faith and character ( pengetahuan, kepercayaan dan karakter).
James Riady dalam pidato bertopik Youth with a Vision atau bagaimana mempersiapkan pemuda pemudi yang memiliki visi masa depan itu, mengemukakan pengalaman pribadi keluarganya sebagai referensi dalam membentuk identitas generasi muda.
Berdasarkan pengalamannya dikatakan, orangtua harus memperhatikan perkembangan anak dari usia 8 sampai 12 tahun, karena masa penting pertumbuhan berada pada kisaran usia tersebut.
Pada rentang usia tersebut anak dinilai masih polos sehingga rentan terkena pengaruh dari luar. Setiap anak memiliki bakat atau talenta- nya sendiri, tidak bisa dipaksakan, namun harus terus didorong.
Terhadap lembaga pendidikan anak, James lebih condong pada lembaga pendidikan lokal. James menilai lembaga pendidikan lokal sudah memenuhi standar interna- sional.
Lembaga pendidikan lokal menjadikan anak bisa merasakan beban hidup masyarakat disekitar yang membentuk identitas dan menentukan arah kehidupan mereka.
Dikatakan, pembentukan identitas anak seperti dua mata uang. Apabila beban hidup sangat sedikit akan menjadikan anak seperti mesin uang. Sebaliknya bila beban terlalu banyak bisa menyebabkan anak frustrasi. James sendiri memilih menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan lokal.
"Kebutuhan pertumbuhan progresif pendidikan harus ditingkatkan karena pendidikan tetap merupakan solusi utama masalah-masalah yang ada dalam masyarakat" papar James.
Perihal pendidikan anak ke mancanegara pada umumnya pengunjung setuju pendapat James. "Saya setuju untuk memperoleh pendidikan bermutu tidak harus ke mancanegara, supaya dapat mengontrol anak" ujar Agus, salah seorang pengunjung. [PR/M-15]