[JAKARTA] Universitas Paramadina berobsesi menjadikan dirinya sebagai jembatan penghubung antaretnis, ideologi dan agama. Peran yang sangat penting bagi bangsa Indonesia yang majemuk ini, dan sejauh ini, fondasi yang dibangun Universitas Paramadina dalam aktivitas di bidang pendidikan tampak mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan.
Hal itu disampaikan Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan PhD dalam acara syukuran 10 tahun perguruan tinggi itu di Jakarta, pekan lalu. Namun, Anies mengakui, jika ada keberhasilan yang mulai bisa dipetik, itu tidak terlepas dari dukungan nyata yang datang dari berbagai pihak, termasuk para tokoh Yayasan Paramadina, relasi luas Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan segenap civitas akademika Universitas Paramadina maupun dukungan dari komunitas bisnis di Indonesia.
Di masa mendatang, Paramadina akan menempatkan kemitraan dengan kalangan bisnis yang peduli terhadap masa depan bangsa melalui peningkatan kualitas institusi pendidikan, sebagai bagian dari rencana strategis kami, termasuk melalui pemberian beasiswa.
Selanjutnya, ahli Kebijakan Publik, Perbandingan Politik dan Ekonomi Politik dan Pembangunan, Departemen of Political Science, Northern Illinois University, AS, itu mengatakan, untuk mewujudkan ide-ide besar itu, perlu kepercayaan penuh dari para pendiri kampus ini dan dukungan kuat baik moral maupun material dari wali mahasiswa.
"Kami sangat menghargai kerendahan hati mereka yang telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk meneruskan estafeta kepemimpinan kampus ini dan juga kepada wali mahasiswa yang telah mempercayai kami untuk ikut mendidik putra dan putri terbaik mereka. Selain itu, partisipasi para dosen, staf dan karyawan serta kolega-kolega semua menjadi fondasi kuat berdirinya Universitas Paramadina. Semoga apa yang telah mereka sumbangkan menjadi investasi kemanusiaan yang tak ternilai harganya," katanya.
Perguruan tinggi yang didirikan tokoh Muslim Indonesia ternama, Prof Dr Nurcholish Madjid itu, mulai tahun ini akan memberikan beasiswa kepada 100 siswa SMA berprestasi untuk menempuh program sarjana di Universitas Paramadina, ini equivalent dengan 25 persen mahasiswa baru angkatan 2008. Universitas yang berdiri pada 10 Januari 1998 itu kini berlokasi di jantung Jakarta.
Sejak awal, Universitas Paramadina dirancang sebagai terobosan pendidikan alternatif. Lembaga pendidikan ini menge- depankan kemampuan aktualisasi kecerdasan kreatif mahasiswa dengan imbangan etika religius.
Dengan semangat menggabungkan kecerdasan pikir dan kepekaan iman tersebut, secara perlahan-lahan Universitas Paramadina mulai 'unjuk gigi' lewat berbagai program baru. Beasiswa salah satunya.
Selain itu, Paramadina kini tengah merealisasikan kerja sama dengan Harvard University (AS) untuk membuat portal bertema Peace Building and Conflict Resolution yang bertujuan menyebarkan cerita sukses Indonesia dalam memerangi konflik di tanah air kepada bangsa-bangsa lain di dunia agar mereka dapat mengambil pelajaran berharga.
Dalam usianya yang ke-10 ini, Universitas Paramadina akan melakukan langkah nyata untuk terus memperbaiki diri dengan sejumlah inisiatif baru di Tahun 2008, misalnya masalah etik dan pemberantasan korupsi akan men- jadi mata kuliah wajib. [PR/M-15]