[BOGOR] Sebagian warga di Kota dan Kabupaten Bogor terpaksa menggunakan kayu bakar, menyusul sulitnya mendapat minyak tanah dan harganya pun naik dari Rp 2.500 menjadi Rp 3.500 per liter. Mereka pun menyatakan keberatan dengan program konversi minyak ke gas karena dinilai akan menambah beban hidup.
Mumuh Sunandi (49) warga Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, yang ditemui SP, Minggu (13/1) mengatakan, sejak tiga bulan terakhir keluarganya terpaksa memasak dengan kayu bakar. Setiap hari, istrinya harus mencari kayu ke perkebunan karet.
Hal itu dilakukan karena minyak tanah sulit didapat, dan kalaupun ada, harganya mencapai Rp 3.500 per liter. Sementara, Mumuh yang bekerja sebagai buruh bangunan hanya mendapat penghasilan Rp 15.000 per hari. "Uang sebesar itu saya paksakan untuk mencukupi kehidupan keluarga di rumah, ketimbang keluarga enggak makan," ujar ayah tiga anak ini.
Nasib serupa dialami Ade Suganda (50), warga Kelurahan Cipaku, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Meski dirinya tinggal di kota yang hanya berjarak 60 kilometer dari Jakarta, tapi sehari-hari tetap memasak dengan kayu bakar. "Kayu bakar saya peroleh dari bekas-bekas bangunan rumah yang sedang dipugar. Soalnya saya tidak punya uang untuk membeli minyak tanah. Uang yang ada saya pakai membeli beras yang harganya terus naik," ujar buruh bangunan ini.
Antrean
Pengamatan SP dalam sepekan ini, antrean warga untuk membeli minyak tanah di sejumlah pangkalan kian panjang. Di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, antrean bisa mencapai satu kilometer dengan harga jual minyak Rp 2.700. Antrean yang menyita badan jalan raya itu memacetkan arus lalu lintas.
Hilam, salah seorang agen minyak tanah di Kecamatan Ciomas mengatakan pasokan minyak tanah dari Pertamina memang terbatas. Untuk kebutuhan di pangkalannya saja, pasokan 5.000 liter per hari, masih dirasakan kurang.
Ia membantah kalau harga minyak tanah dinaikkan. Harga jual masih mengikuti harga eceran yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 2.300 sampai Rp 2.500 per liter. "Untuk memesan minyak tanah, kami harus menyetor uang terlebih dahulu, baru truk tangki datang membawa minyak. Dari satu truk tangki, laba kami Rp 700.000," ujarnya.
Jika program konversi minyak tanah ke gas terus meluas, menurut Hilam, pihaknya harus menambah modal usaha karena harga tabung gas cukup mahal. Sementara, daya beli masyarakat juga masih rendah, sehingga dikhawatirkan penjualan gas tidak terlalu laris.
"Penghasilan mereka pas-pasan, kalau beli gas harus Rp 15.000 untuk ukuran 3 kilogram, sementara beli minyak tanah bisa diketeng," katanya. [126]