SUARA PEMBARUAN DAILY

Konversi Minyak Tanah ke Gas

Pusat Telat Libatkan Pemda

SP/Alex Suban

Seorang warga menunjukkan kupon minyak tanah empat liter di pangkalan minyak tanah di Jalan Raya Kalibata, Jakarta Timur, Senin (14/1). Kupon tersebut dapat digunakan pada Rabu (16/1) untuk membeli minyak tanah empat liter seharga Rp 2.500 per liter.

[JAKARTA] Kebijakan konversi minyak tanah ke gas menuai banyak masalah dalam implementasinya, karena pemerintah pusat terlambat melibatkan Pemerintah Daerah (Pemda) terutama yang dijadikan proyek percontohan seperti DKI Jakarta.

Hal itu terlihat dari belum dikeluarkannya Peraturan Gubernur (Pergub) tentang konversi yang mengatur pelaksanaan di lapangan. Padahal, Pertamina sudah mengurangi pasokan minyak tanah ke masyarakat dan mengganti dengan distribusi tabung dan kompor gas.

Kepala Dinas Pertambangan Pemprov DKI Jakarta, Peni Susanti kepada SP di Jakarta, Senin (14/1), mengakui lemahnya koordinasi dan monitoring dalam pelaksanaan konversi tersebut.

"Kebijakan ini memang baru di mulai, sehingga masih banyak kekurangan dalam implementasinya, apalagi melibatkan banyak instansi," kata Peni.

Dinas Pertambangan, papar dia, akan segera memanggil Pertamina dan pihak-pihak lain yang terlibat seperti wali kota-wali kota untuk mengevaluasi berbagai masalah yang selama ini timbul seperti kelangkaan minyak tanah, mekanisme peralihan, temuan penjualan kembali kompor dan tabung gas di masyarakat serta instansi dan aparat yang akan mengawasi.

"Peraturan Gubernur tentang distribusi gas elpiji dengan kapasitas tiga kilogram akan dikeluarkan pekan depan. Pergub ini akan mengatur mekanisme, pengawasan dan penanggungjawabnya," kata Peni.

Pedagang Diuntungkan

Sementara itu, pelaksanaan program konversi tersebut membuat beban hidup rakyat semakin berat. Namun di sisi lain, program tersebut juga disambut gembira oleh sebagian warga dan pedagang. Demikian rangkuman pendapat yang dihimpun SP dari sejumlah warga dan pedagang di Jakarta, Bekasi, dan Tangerang.

Muji (33), pedagang kompor gas di Pasar Rumput Manggarai, Jakarta Selatan, mengatakan, sejak program konversi, penjualan kompor gas naik 25 persen. "Kalau biasanya dalam sebulan hanya menjual tiga sampai empat kompor gas, saat ini bisa 10 kompor gas," katanya.

Berbeda dengan Muji, Maman (40), penjual gas di Kelurahan Kayuringin Jaya, Bekasi Selatan, mengaku dalam setahun terakhir, keuntungannya malah menurun. "Saya hanya mendapat keuntungan Rp 1.000 dari setiap tabung gas ukuran 3 kg. Dari tabung isi 12 kg mendapatkan Rp 3.000," ujar dia.

Mistar, warga Pisangan Baru, Jakarta, yang menjadi pedagang mie rebus, mengakui gas lebih efektif dan efisien dibanding minyak tanah. Tetapi kekurangan gas hanya sati, tak bisa dibeli ketengan. Sekalipun efektif dan efisien, Mistar mengaku masih memiliki kompor minyak tanah dan mencadangkan beberapa liter minyak tanah. "Ini untuk jaga-jaga saja. Jadi kalau gas habis, dan agen sudah tutup toko, saya tetap bisa memasak," lanjutnya.

Mengenai dampak terhadap perekonomian keluarga, Mistar mengaku tak terganggu oleh program konversi minyak tanah ke gas. Kualitas kompor dan tabung gas dari pemerintah pun diakui cukup baik. "Kalau tidak tahu pemasangan dan perawatan kompor dan tabung, ikuti saja panduannya atau tanya tetangga yang mengerti," ujarnya.

Terpaksa Beralih

Harga minyak tanah yang naik menjadi Rp 5.000 membuat masyarakat terpaksa beralih menggunakan kompor gas. Nur (30), warga Kelurahan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, mengatakan, sebulan ini ia beralih ke kompor gas karena harga gas lebih murah. Satu tabung gas kecil isi 15 kilogram bisa dipakai 20 hari. Sedangkan bila menggunakan minyak tanah perharinya ia membutuhkan 2,5 liter.

Hal senada juga diungkapkan penjual pangsit di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, Misdi (55). Ia mengungkapkan, karena minyak tanah langka dan harganya mahal ia terpaksa menggunakan gas. Sedangkan, Inem warga kelurahan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, meskipun telah mendapat kompor dan tabung gas gratis, ia tetap memilih menggunakan minyak tanah.

Hal itu diungkapkannya karena harga minyak tanah lebih murah daripada harga gas. Ia yang biasanya hanya mampu membeli satu liter perhari. "Kalau gas mahal mba Rp 17.000, kemampuan saya hanya Rp 5.000 sehari jadi lebih murah apalagi minyak kan bisa beli setengah liter sehari," katanya. [DLS/HTS/ATW/ASR/132/B-15]


Last modified: 14/1/08