[RAMALLAH] Para pemimpin perundingan damai Israel dan Palestina akan memulai pembicaraan mengenai permasalahan konflik di Timur Tengah, Senin (14/1) ini. Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan hal itu di Tepi Barat, Ramalah, Minggu (13/1).
"Mantan Perdana Menteri Palestina Ahmed Qorei dan Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Livni akan memulai perundingan besok," kata Abbas.
Selain itu, Abbas juga mengatakan, pemerintahan yang dipimpinnya siap untuk berunding dengan kelompok radikal Hamas, jika mereka sepakat untuk menyerahkan kendali pengawasan di Jalur Gaza, meskipun Washington menentang perundingan itu. "Saya bersedia melakukan perundingan dengan Hamas, meskipun Amerika Serikat tidak menerima itu, dialog merupakan hal paling penting" ujar Abbas.
Hamas telah menguasai Jalur Gaza sejak Juni 2007, ketika pasukan Fatah berhasil mengusir pasukan pemerintah dari wilayah itu dalam pertempuran selama seminggu.
Sementara itu, Tzipi Livni membenarkan rencana pertemuan Israel-Palestina itu. Livni mengatakan, pertemuan akan digelar di Yerusalem sebagai bagian dari pertemuan lanjutan kedua belah pihak.
Pertemuan tersebut, lanjut Livni, akan membicarakan seputar masalah konflik di Timur Tengah, termasuk Yerusalem, pelarian politik Palestina, dan perbatasan negara Palestina di masa mendatang.
Pertemuan Senin ini akan ditandai sebagai pertemuan pertama di antara kedua pihak sejak kunjungan Presiden AS, George W Bush ke wilayah itu, minggu lalu. Kunjungan Bush bertujuan untuk mendorong perundingan damai yang telah ditetapkan sebelumnya pada konferensi di Amerika Serikat, November silam.
Selama kunjungannya, Bush mengatakan, Israel dan Palestina dapat menandatangani perjanjian damai pada tahun ini. Keyakinan Bush itu diucapkan setelah mendengar pernyataan dari kedua pemimpin negara itu.
Terkait perundingan itu, seorang pejabat resmi Pemerintah Amerika Serikat mengatakan, perdamaian antara Israel dan Palestina akan sangat tergantung dari nasib Hamas, terutama dalam menjalankan Jalur Gaza.
"Saya menyangsikan kesepakatan itu akan bertahan lama dan dapat berjalan jika Hamas tetap menguasai Gaza," kata pejabat yang enggan disebutkan namanya tersebut. [AFP/SYH/N-3]