![]()
AP/Pablo Martinez Monsivais
Presiden Amerika Serikat George W Bush disambut Presiden Uni Emirat Arab Sheik Khalifa bin Zayed Al Nahyan di Istana Al Mushref, Abu Dhabi, Minggu (13/1).
[ABU DHABI] Presiden AS George W Bush memperingatkan negara-negara Arab, sekutu AS di Teluk, tentang ancaman yang mereka hadapi dari negara tetangga mereka, Iran. Bush juga menyerukan agar negara-negara Arab memberikan dukungan bagi tercapainya kebijakan-kebijakan Washington di Timur Tengah. Dalam pidato kunci kunjungan ke Timur Tengah selama sepekan, yang disampaikan di Abu Dhabi, Bush juga menyampaikan imbauan yang ditujukan secara langsung kepada rakyat Iran. Bush, tertuju langsung kepada rakyat Iran, mengatakan, mereka punya hak untuk hidup di bawah sebuah pemerintahan yang dapat "menyimak" apa harapan dan keinginan mereka.
Bush dalam pidato tersebut menggarisbawahi keyakinan dia, bahwa kebebasan-kebebasan yang demokratis dapat menjadi perisai untuk menghadapi terorisme dan ekstrimisme. "Perlawanan terhadap kekuatan ekstrimisme adalah perjuangan ideologis kita yang besar saat ini. Dan dalam perlawanan ini, bangsa-bangsa kita memiliki senjata yang punya kekuatan lebih dahsyat ketimbang bom atau peluru," kata Bush.
"Kekuatan tersebut adalah hasrat kita terhadap kebebasan dan keadilan yang ditorehkan ke dalam hati kita oleh Tuhan Yang Maha Esa dan tidak ada teroris atau tiran manapun yang dapat merenggutnya dari hati kita," ungkap Bush, menandaskan. Bush dalam pidato itu juga menyerang rezim Teheran. "Iran, saat ini adalah negara sponsor teror terdepan di dunia. Bersama-sama dengan Al-Qaeda, Iran merupakan ancaman terbesar bagi stabilitas di kawasan," kata Bush.
Menurut Bush, Iran berniat mengintimidasi negara-negara tetangganya dengan rudal dan retorikanya yang cenderung menyulut perkelahian. "Tindakan-tindakan Iran mengancam keamanan negara-negara kita di manapun," kata Presiden AS tersebut. Dengan demikian, Amerika Serikat kini berupaya memperkuat komitmen-komitmen keamanan dengan negara-negara sahabatnya di Teluk. AS, kata Bush, juga menggalang kebersamaan dengan negara-negara sahabatnya di seluruh dunia untuk melawan bahaya, yang dimunculkan Iran dan Al-Qaeda, sebelum segala sesuatunya menjadi terlambat.
Uni Emirat Arab (UAE) adalah partner dagang terbesar Iran. Lebih dari 10.000 perusahaan Iran beroperasi di pusat perdagangan Dubai. Bush sendiri berkeinginan memanfaatkan keberadaan Iran sebagai partner dagang Uni Emirat Arab untuk menghantam rezim Teheran. "Kepada rakyat Iran, kalian punya kekayaan baik di bidang kebudayaan maupun bakat. Kalian punya hak untuk hidup di bawah pemerintahan yang dapat menyimak keinginan dan harapan kalian, menghargai bakat kalian, dan memberikan peluang bagi kalian untuk membangun kehidupan yang lebih baik bagi seluruh keluarga kalian," kata Bush.
"Tetapi sayang sekali, pemerintahan kalian mengesampingkan peluang-peluang ini bagi kalian, dan justru mengancam perdamaian dan stabilitas negara-negara tetangga kalian," kata Bush lebih jauh.
Pernyataan IAEA
Pernyataan Bush kemarin disampaikan bersamaan munculnya keputusan Badan Pengawas Atom Internasional (IAEA) untuk menetapkan tenggat waktu baru bagi Iran agar memberikan penjelasan secara tuntas tentang program nuklirnya. IAEA, dalam pengumuman Minggu (13/1) menyebutkan, Iran setuju untuk menguraikan secara tuntas sejumlah pertanyaan yang masih tersisa tentang program nuklir negara itu, termasuk aktivitas militer apa pun yang dilakukannya, dalam empat minggu mendatang.
Direktur Jenderal IAEA, Mohamed ElBaradei, serta pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan Presiden Mahmoud Ahmadinejad, menyetujui bahwa "rencana kerja" untuk diakhirinya ketegangan nuklir Iran harus dirampungkan dalam empat minggu mendatang, ungkap IAEA dalam pernyataan kemarin.
Wakil Ketua Badan Energi Atom Iran, Mohammed Saidi, membenarkan disepakatinya tenggat waktu tersebut, ungkap Kantor Berita IRNA. "Iran akan merespons dalam kurun waktu empat minggu sejumlah pertanyaan yang masih tersisa, sehingga IAEA dapat membuat laporan yang transparan tentang program nuklir Iran," kata Saidi.
"Republik Islam Iran tidak memilih apa pun untuk disembunyikan. Itulah mengapa Iran tidak memiliki ketakutan apa pun untuk menjawab sejumlah pertanyaan yang masih tersisa. Saya optimistis," ungkap Saidi, menandaskan.
Dibayangi ketegangan
Kunjungan ke Timur Tengah yang diawali Bush di Israel pada Rabu (9/1) telah dibayang-bayangi munculnya kembali ketegangan AS-Teheran. Ketegangan kembali muncul setelah kapal induk AS dicegat oleh patroli laut Garda Revolusioner di Selat Hormuz awal Januari.
Pidato Bush, yang menyebutkan Iran sebagai ancaman bagi negara-negara Arab di Teluk, tak urung menyulut reaksi keras Teheran. Menteri Luar Negeri Iran, Manouchehr Mottaki, dalam pernyataan di Televisi Al-Jazeera yang berbasis di Qatar, balik menuding Bush berupaya merusak hubungan baik Teheran dengan negara-negara tetangganya. Mottaki juga menganggap kunjungan Bush ke kawasan Timur Tengah sebagai sebuah "kegagalan".
Bush juga menggunakan pidatonya di Abu Dhabi untuk mendesak Israel dan Palestina untuk yakin akan keberhasilan dilanjutkannya kembali perundingan damai yang diluncurkan di Konferensi Annapolis, pada 27 November 2007. Israel dan Palestina juga diserukan untuk tidak menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan perang dan perjuangan bersenjata.
Kepada negara-negara Arab di Teluk yang kaya minyak, Bush untuk kesekian kalinya meminta dukungan mereka bagi tercapainya cita-cita AS, termasuk di Lebanon dan Irak. "Kami mohon kepada Anda semua untuk bergabung bersama kami dalam berkomitmen memberikan dukungan kepada rakyat Palestina agar dapat membangun institusi-institusi masyarakat sipilnya, membantu rakyat Lebanon menyelamatkan pemerintahan dan kedaulatan mereka, serta memperlihatkan kepada rakyat Irak bahwa Anda mendukung upaya-upaya mereka membangun sebuah bangsa yang lebih punya harapan," kata Bush.
Keamanan di Dubai diperketat menjelang kedatangan Bush pada hari Senin (14/1) sebelum ia bertolak ke Arab Saudi. Kunjungan Bush ke Timur Tengah akan berakhir di Mesir pada Rabu (16/1). [AFP/AP/E-9]