SUARA PEMBARUAN DAILY

Konser Lee Hom Sukses

SP/Ignatius Liliek - Mega bintang asal Taiwan, Lee Hom Wang, saat tampil pada konser di Jakarta, Jumat (11/1).

Pertama kali ke Jakarta, penyanyi multitalenta, Wang Lee Hom, dihadiahi ular. Tetapi tunggu dulu! Ular tersebut bukan sungguhan, melainkan sebuah boneka. Hadiah unik itu dikalungkan seorang penggemar ketika Lee Hom tampil dalam konser promo album keduabelasnya Change Me, di Sands, Mangga Dua Square pekan lalu.

Selain boneka ular, Lee Hom juga dihujani buket bunga oleh penggemar wanita, serta karikatur wajahnya. Sambutan meriah itu sontak membuat wajah pria kelahiran New York '17 Mei 1976' tampak bahagia.

Lee Hom memang layak dipuja banyak wanita. Selain tampan, dia juga mahir bermain alat musik. Kepiawaiannya dalam bermusik ditunjukkannya dengan memainkan beberapa alat musik di setiap repertoar yang dibawakannya.

Penampilan Lee Hom Jumat (11/1) bisa dikatakan prima. Aksi panggungnya yang matang menyita perhatian dari ribuan pasang mata penonton yang sebagian besar wanita. Tidak jarang teriakan histeris penonton menggema hingga ke sudut-sudut ruang berkapasitas 3.000 - 4.000 orang tersebut.

Dibalut celana kargo hitam, kaos tanpa lengan putih dan rompi abu-abu, penyanyi yang meraih empat kali penghargaan Golden Melody Award ini tampil prima membawakan 16 lagu. Dia diiringi kelompok musik dan penari-penarinya yang mengenakan busana serba putih.

Sebelum Lee Hom tampil, penonton dihibur aksi Delon, Mike, Lucky, dan Judika, penyanyi-penyanyi Indonesian Idol yang mengklaim diri mereka Idols Divo menjadi penampil pembuka. Mereka tampil dengan gaya bernyanyi klasik bak kelompok vokal Il Divo melantunkan Unbreak My Heart, I Believe I Can Fly, Angels Brought Me Here, When You Believe, dan Somewhere.

Kemudian berlanjut dengan penampilan Lee Hom yang diawali dengan Heroes of Earth, hit dari album ke-11nya dengan judul yang sama. Dalam lagu bertempo cepat tersebut, Lee Hom menunjukkan kebolehannya bermusik dengan memetik melodi gitar.

Aksinya kembali menuai pujian ketika tampil bernyanyi sambil mengetuk not-not piano melantunkan Ai de Gui Li. Masih dengan iringan piano, dia membawakan lagu bertempo lambat lewat Crying Palms, dan Love Love Love, lagu bernuansa jazz yang dipadukannya dengan gaya bernyanyi rap.

Unjuk Kemampuan

Seolah ingin unjuk kemampuan memainkan alat musik, Lee Hom kembali tampil dengan alat musik gitar akustik dalam lagu Don't Be Afraid, dan Big City Small Love. Penyanyi yang memulai debut pertamanya di tahun 1995 itu juga memamerkan kebolehannya menabuh dram dan menggesek biola dalam lagu Julia.

Penampilannya malam itu memang memukau. Inilah yang ingin ditunjukkan pria yang pernah tampil dalam film Lust, Caution. Selain tampil melantunkan lagu-lagu bergenre hip hop, rhythm & blues, dan rap, Lee Hom juga menyelipkan kebolehannya ber-country seperti dalam lagu W.H.Y.

Hingga 10 lagu pertama, Lee Hom tampil seolah tak kenal lelah. Meski keringat terus mengucur dari tubuhnya, dia tetap tampil maksimal melantunkan setiap lagu. Lee Hom tampak menikmati waktunya di atas panggung. Dia bernyanyi, bermain musik dan menjaga komunikasinya dengan penonton.

Selain komunikatif, Lee Hom juga menyapa penggemarnya hingga ke sudut panggung. Bahkan, dia tak ragu-ragu menuruni panggung dan menghampiri penonton. Namun, aksi berani Lee Hom tersebut dicegah oleh beberapa penjaga keamanan yang mengkhawatirkan keselamatan bintang asal Taiwan itu.

Penonton yang mengeluarkan uang untuk tiket berkisar Rp 300.000 hingga Rp 2.500.000 merasa puas. Pasalnya, Lee Hom tampil maksimal, dan sangat menghibur penonton yang didominasi wajah-wajah oriental.

Lee Hom beberapa kali tampak berguyon dengan penonton dan teman sepanggungnya. Dia dengan nada gemas sembari bercanda mengusir seorang teknisi yang dianggapnya telah mengganggu. Ketika itu, teknisi naik ke atas panggung memperbaiki posisi kabel microphone Lee Hom, namun yang terjadi justru timbul suara-suara mengganggu pada microphone.

Penyanyi yang kerap melibatkan diri dalam proses kreatif albumnya itu menutup penampilannya dengan lagu tempo lambat berjudul The Only One. Sepanjang pertunjukan Lee Hom berkomunikasi dengan bahasa Mandarin, sehingga tidak semua orang mengerti. [CNV/N-4]


Last modified: 14/1/08