SUARA PEMBARUAN DAILY

Industri Diminta Beralih ke Tepung Lokal

[JAKARTA] Kisruh mengenai mahalnya harga tepung gandum impor yang mengancam krisis bahan baku bagi industri berbasis tepung seharusnya menjadikan pemerintah bergegas mendorong penggunaan tepung lokal. Indonesia memiliki potensi umbi-umbian sebagai sumber karbohidrat sekaligus bahan baku tepung lokal yang tak kalah dari tepung gandum.

Demikian pendapat sejumlah pihak saat dimintai komentarnya mengenai krisis harga tepung impor kepada SP, Senin (14/1).

Sekjen Wahana Masyarakat Tani Indonesia (WAMTI), Agusdin Pulungan mengatakan, ada lebih dari 30 jenis umbi-umbian yang biasa ditanam dan dikonsumsi rakyat Indonesia. Dibandingkan dengan gandum, membudidayakan umbi-umbian itu jauh lebih mudah dan murah. Sebagai contoh, menanam ubi kayu secara intensif membutuhkan biaya hanya sepertiga dari biaya budi daya padi. Di sisi lain, kandungan karbohidrat umbi-umbian juga setara dengan beras dan lebih baik dari gandum.

Umbi-umbian itu kemudian dapat diproses menjadi tepung. Nantinya dalam bentuk tepung, umbi-umbian dapat difortifikasi dengan berbagai zat gizi yang diinginkan seperti roti, mie, dan aneka produk olahan siap saji lainnya. Bentuk tepung juga mempermudah dan memperlama penyimpanan hingga dapat tahan berbulan-bulan, bahkan hingga tahunan.

Teknologi pengolahan umbi-umbian menjadi tepung sangat sederhana dan murah. Dengan teknologi itu, usaha skala kecil-menengah mampu menghasilkan tepung dengan kualitas yang tidak kalah bagus dibandingkan tepung terigu yang diproduksi perusahaan besar.
Sementara itu Ketua Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MAI), Andinuhung Iskandar mengatakan, peta zona agroekologi mengungkapkan fakta bahwa nyaris seluruh wilayah Indonesia dapat ditanami umbi-umbian. Katakanlah 500.000 hektare di antaranya ditanami ubi kayu secara intensif, maka akan dihasilkan setidaknya 10 juta ton ubi kayu segar atau setara dengan 3 juta ton tepung ubi kayu.

Jika diasumsikan konsumsi tepung per kapita sebesar 100 kg per tahun, kata Andihunung, jumlah sebesar itu dapat menjadi bahan pangan untuk 30 juta orang. Itu baru dari lahan 500.000 hektare, padahal kita memiliki lahan telantar jutaan hektar.

Belum lagi jika dilihat efeknya dari penciptaan lapangan kerja baru. Lahan seluas itu dapat menyerap setidaknya 300.000 pekerja baru atau setara dengan kontribusi satu persen terhadap pertumbuhan ekonomi.

Gizi

Sementara itu ahli pangan dari Institut Pertanian Bogor, Rinrin Jamriati mengatakan beberapa tanaman karbohidrat memiliki kandungan gizi setara dengan beras/terigu, misalnya garut (Maranta arrundinaceae L) atau ubi kayu (Manihot esculanta). Dengan demikian tanaman ini potensial mensubstitusi beras/gandum. Tidak banyak yang menyadari bahwa penanaman dan pemeliharaan komoditas-komoditas tersebut relatif sangat mudah dan memiliki tingkat produktivitas yang tinggi. Ketela pohon mampu menghasilkan 30-60 ton per hektare, garut 40 ton per hektare, ganyong 30 ton per hektare, dan sukun 30 ton per hektare.

Pilihan untuk mensosialisasikan ubi jalar, bukan pilihan tanpa alasan. Menurut Rinrin, ada empat alasan memilih ubi jalar yaitu sesuai dengan agroklimat sebagian besar wilayah Indonesia, mempunyai produktivitas yang tinggi, sehingga menguntungkan untuk diusahakan.

Selain itu ubi jalar mengandung zat gizi yang berpengaruh positif pada kesehatan (prebiotik, serat makanan dan antioksidan), serta potensi penggunaannya cukup luas dan cocok untuk program diversifikasi pangan.

Namun demikian, pemerintah harus menodorong berkembangnya iklim bisnis yang tepat untuk produksi tepung lokal. "Saat ini dukungan pemerintah bagi tumbuh kembangnya iklim bisnis berbasis pertanian masih sangat lemah," ujarnya. [L-11]


Last modified: 13/1/08