SUARA PEMBARUAN DAILY

TAJUK RENCANA II

Menggugat Strategi Pertanian

Dari dulu Indonesia disebut sebagai negara agraris, tapi kenyataannya saat ini hampir semua bahan pangan kita seperti beras, kedelai, jagung, gula dan terigu masih tergantung kepada impor. Akibatnya, bangsa ini sangat tergantung dengan harga pangan dunia.

Kedelai merupakan bahan baku untuk makanan khas Indonesia yaitu tempe yang menjadi menu sehari-hari kebanyakan orang Indonesia. Juga tahu, kecap dan tauco.

Beberapa hari terakhir ini, harga kedelai impor naik sangat tinggi yaitu dari Rp 3.500 per kg menjadi Rp 7.000 per kg. Akibatnya, perajin tempe dan tahu yang kebanyakan industri kecil terancam berhenti berproduksi. Padahal, saat ini ada sekitar 1,2 juta usaha kecil dan rumah tangga dengan tenaga kerja 2,5 juta orang dan 5.000 perusahaan skala besar dengan tenaga kerja 780.000 orang, mengandalkan bahan baku kedelai.

Departemen Pertanian mengakui produksi kedelai dalam negeri tahun 2007, sesuai dengan ramalan BPS hanya 608.000 ton atau 64 persen dari target yang dicanangkan yaitu 950.000 ton. Sedangkan impor kedelai tahun 2007 sekitar 1,2 juta ton atau setara 66 persen dari total kebutuhan kedelai setahun.

Produksi kedelai turun karena petani lebih memilih menanam padi dan jagung karena lebih untung dibandingkan dengan menanam kedelai. Dengan harga jual kedelai lokal Rp 3.000 - Rp 3.500 per kilogram, penghasilan bersih petani hanya Rp 2 juta per musim tanam. Sementara dengan menanam jagung atau padi, penghasilan bersih per musim tanam bisa mencapai Rp 4 juta-Rp 5 juta.

Keinginan Departemen Pertanian untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri juga sudah dilakukan jauh sebelum pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, kenyataannya selalu meleset dari target, karena strateginya tidak jelas.

Deptan selalu menggunakan luas tanam sebagai basis peningkatan produksi komoditas pangan, sehingga ketika padi dan jagung digenjot produksinya, kedelai yang kalah ekonomis, mengalami penurunan luas tanam.

Seharusnya, basis perhitungan pemerintah lebih kepada produktivitas per satuan luas lahan, bukan luas tanam. Apalagi saat ini Deptan sudah menemukan varietas kedelai unggul dengan produktivitas tinggi yang bisa menghasilkan kedelai tiga ton per hektar.

Kita menyadari, meningkatkan produksi kedelai dalam negeri adalah solusi jangka panjang. Sekarang para perajin tahu dan tempe memerlukan keputusan yang cepat, sehingga mereka tidak perlu menutup usahanya dan memberhentikan karyawannya. Jalan keluar yang dapat ditempuh adalah keputusan pemerintah untuk menurunkan, bahkan jika perlu menghapus bea masuk (BM) kedelai impor, agar harga bisa ditekan.

Menteri Pertanian Anton Apriyantono seperti diberitakan harian ini mendukung BM kedelai impor diturunkan dari 10 persen menjadi 5 persen, bukan menghapus agar petani kedelai di dalam negeri tidak dirugikan.

Namun, mengingat kenaikan harga kedelai sudah mencapai 100 persen, tidak salah bila pemerintah dalam hal ini Departemen Keuangan menghapus BM kedelai yang sebesar 10 persen tersebut agar industri kecil tahu dan tempe serta yang berbahan baku kedelai lainnya tidak harus gulung tikar.

Tugas pemerintah adalah melindungi pada pengusaha kecil yang bergerak dalam industri tahu dan tempe ini dengan menyediakan kedelai dengan harga yang terjangkau. Atau membiarkan tahun dan tempe bukan makanan rakyat lagi. Apalagi yang menjadi lauk rakyat, jika tahu dan tempe sudah tak terbeli?


Last modified: 14/1/08