
SP/Alex Suban
Warteg Warmo di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.
engan mulut dipenuhi makanan di warung Tegal (warteg) di bilangan Dewi Sartika, Jakarta Timur, seorang pelanggan wanita nyerocos menimpali keadaan Indonesia. Wanita tersebut mengeluh dengan nada tinggi, "Mau jadi apa rakyat Indonesia sekarang? Harga-harga mahal, kalau sudah naik susah turun!"
Sekilas keluhan pelanggan mirip seperti keluhan pemilik warteg, Saerah dan Atun. Kedua wanita asli Tegal tersebut sehari-hari bergumul masalah harga sembako. Ironisnya, harga sembako enggan turun. Mereka mengaku tidak ada penurunan berarti harga kebutuhan pokok, malahan hampir setiap hari melonjak drastis.
Saerah (50) pemilik warteg Ridho Ibu, sadar zaman telah berubah, tetapi dia tidak mengerti mengapa kehidupan rakyat kecil seperti dirinya tidak diperhatikan pemerintah. Keadaan rakyat kecil semakin hari semakin sulit, harga kebutuhan melambung sedangkan daya beli masyarakat berkurang.
Atun (48) berpendapat hampir sama dengan pemilik warteg Saerah, dia sudah terlihat pasrah. Atun tidak habis pikir mengapa harga terus naik dan semakin membebani rakyat kecil seperti dirinya. Dia sudah tidak tahu mau usaha apa, hanya usaha seperti ini yang mampu dilakukan. Dia mengaku kehidupan pertanian di kampung juga susah karena kekeringan berkepanjangan.
Keadaan yang dihadapi Atun dan Saerah bagaikan makan buah simalakama. Bila menaikkan harga, mereka akan untung banyak tapi pelanggan banyak protes dan pasti meninggalkan mereka. Tetapi bila tidak menaikkan harga, mereka akan untung lebih sedikit walaupun pelanggan tetap setia.
Atun dan Saerah tidak kehilangan akal menyiasati dagangan mereka. Terkadang kalau harga sembako sedang naik, mereka akan mengurangi jatah porsi nasi atau sayur ke pelanggan. Pelanggan setia cukup mengerti keadaan yang menimpa Atun dan Saerah, tetapi pelanggan lain yang tidak peka kadang-kadang protes bila jatah makanan mereka dikurangi.
Kehidupan sulit para pelanggan dapat dirasakan Atun dan Saerah. Atun dan Saerah tidak tega menaikkan harga seporsi makanan. Mereka tahu bila menaikkan harga, dampaknya akan terasa menekan para pelanggan termasuk penjual.
Cara "tambal-sulam" juga merupakan siasat terapan Atun dan Saerah. Contoh konkretnya, jika harga ayam sedang turun, tetapi harga sayur naik, maka keuntungan harga jual pelanggan yang makan nasi plus ayam akan menutupi keuntungan minim pelanggan yang makan nasi plus sayur saja.
Atun dan Saerah lebih mementingkan masakannya habis dibeli, dibandingkan mematok keuntungan besar pada satu jenis makanan. Atun menceritakan kalau dia lebih memilih masakannya habis karena uang yang diperoleh harus diputar untuk membeli keperluan sembako esok harinya.
Sementara Saerah juga cerdik memantau perkembangan harga sembako. Bila harga salah satu bahan pokok naik, maka dia akan berbelanja sedikit pada hari itu sambil terus melihat fluktuasi harga keesokan hari. Dia tidak terlalu memaksakan berbelanja banyak demi stok, hal terpenting baginya makanan yang dimasak hari itu bisa habis semua.
Saerah hapal kapan wartegnya ramai dikunjungi pelanggan berkat pengalaman selama 33 tahun berjualan. Dia harus "gigit jari" saat masa liburan tiba, apalagi kalau ada pelanggan berhutang tidak mau membayar. Risiko seperti itu dijalani Saerah dengan lapang dada.
Nasib Saerah lebih baik dibandingkan Atun yang tak henti berkeluh kesah mengenai persaingan penjual. Sampai saat ini, Saerah telah membuka tiga cabang warteg untuk keperluan hidup keluarganya. Sedangkan, Atun hanya membuka satu warteg tanpa nama dari tahun 1986, namun nasibnya tidak berubah dan merasa makin susah.
Sedangkan Saerah lebih optimis menghadapi masa depan. Dengan siasatnya berjualan dengan mengamati fluktuasi harga, ibu lima anak ini mampu menyekolahkan dua anak sampai lulus sekolah menengah atas dan satu anak masuk kuliah. Kedua anak lainnya dibukakan warteg meneruskan jejak yang telah dirintisnya bersama sang suami, Sanap Haryono (59).
Atun bernasib sedikit berbeda dengan Saerah. Ibu lima anak ini mengaku tidak bisa pulang kampung tahun lalu. Walaupun demikian, Atun ingin pendidikan anak-anaknya tetap nomor satu. Satu anaknya telah lulus kuliah dan sedang mencari kerja. Dua anaknya masih menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah atas. Sedangkan, dua anaknya yang lain membantu kegiatan di warteg.
Kedua wanita ini, Saerah dan Atun, memiliki harapan sama di masa akan datang. Mereka tidak ingin anak-anaknya mengikuti jejak orang tuanya membuka usaha warteg kecuali sangat terpaksa. Mereka berharap anak-anaknya menjadi pegawai negeri atau pegawai swasta dan hidup tenang dengan gaji kecil. [HES/N-5]