
SP/Ignatius Liliek
Sejumlah warga antre minyak tanah di pangkalan minyak tanah, Jalan Asem Baris, Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (4/1).
Harga-harga kebutuhan pokok yang terus naik, agaknya menjadi hal biasa bagi masyarakat. Masyarakat bisa jadi sudah lelah memper- tanyakan kenaikan-kenaikan harga itu. Sebab, alasannya selalu "ada aja"! Mulai dari yang permintaan banyak saat jelang hari raya dan yang terkini adalah naiknya harga minyak mentah dunia.
emerintah boleh saja menutupi kepanikan dengan mengatakan kenaikan harga minyak mentah dunia belum mempengaruhi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun, sejak harga menyentuh US$ 80 per barel pada September 2007, pengamat telah mengingatkan lonjakan harga minyak tetap akan mempengaruhi perekonomian nasional, meski pemerintah berkilah APBN masih bisa aman.
Pengamat migas dari Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Pri Agung Rakhmanto mengatakan, kenaikan harga minyak dunia akan berdampak pada naiknya harga sejumlah barang. Secara berantai, harga minyak dunia naik, Pertamina menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) industri mengikuti mekanisme pasar dan biaya operasional maupun produksi industri pun otomatis naik. Tak mau rugi, pengusaha memilih membebankan kenaikan biaya itu pada konsumen dengan menaikkan harga produk.
Saat harga minyak dunia menembus US$ 80 per barel pada September 2007, Pri Agung mengingatkan pemerintah agar mengambil langkah bijak mengantisipasi lonjakan harga barang-barang terutama produk industri. "Industri kita masih sangat bergantung pada BBM. Seiring kenaikan harga minyak dunia, harga BBM akan semakin mahal. Ketika harga BBM mahal. Imbasnya akan ke mana-mana, termasuk kenaikan harga barang kebutuhan pokok," katanya.
Memasuki hari ketiga tahun 2008, harga minyak dunia akhirnya menembus US$ 100 per barel. Angka psikologis yang sudah diprediksi para pengamat jauh hari sebelumnya, saat harga masih di level US$ 70 per barel pada 2005. "Kalau pemerintah mengatakan APBN masih aman, tidak demikian dengan sektor riil. Kenaikan harga minyak dunia jelas sangat memukul industri. Karena kita sudah menjadi negara pengimpor minyak, maka setiap satu dolar AS kenaikan harga minyak dunia akan berat dampaknya," kata pengamat perminyakan Kurtubi.
Lebih celaka lagi, Indonesia yang kaya akan sumber alam, nyatanya kini tak hanya menjadi pengimpor minyak. Beberapa bahan baku kebutuhan pokok, seperti biji-bijian kedelai dan jagung pun sekitar 70 persen dari yang dibutuhkan di dalam negeri harus diimpor. Jadi, jangan heran bila yang terimbas kenaikan harga minyak dunia bukan hanya industri skala besar. Penjual gorengan di pinggir jalan pun dibuat pusing.
Seiring melonjaknya harga minyak dunia, pengembangan bahan bakar alternatif dari bahan baku nabati, misalnya jagung dan biji-bijian termasuk kedelai, mulai marak di beberapa negara. Meski saat ini belum termasuk negara yang agresif mengembangkan bahan bakar nabati (BBN), Indonesia harus menelan pil pahit dari gencarnya pengembangan BBN di sejumlah negara maju.
Jangan pula heran bila makanan kesukaan Anda tempe goreng atau mendoan, kini juga menjadi mahal. Harga satu mendoan, yang semula rata-rata dihargai paling mahal Rp 500, oleh beberapa pedagang di Jakarta saat ini dijual Rp 700. Bukan semata karena pedagangnya sulit mendapatkan minyak tanah yang belakangan harganya sampai Rp 7.000 per liter. Ini karena tempe, makanan asli Indonesia ini pun bahan bakunya mengandalkan impor.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Thomas Dharmawan mengatakan kenaikan harga minyak dunia juga memicu naiknya harga kedelai. "Beberapa negara mulai mengembangkan bahan bakar alternatif dari biji-bijian, seperti kedelai dan jagung. Pa-sokan kedelai dunia menjadi terbatas dan sangat mahal. Sekarang ini, Indonesia mengimpor kedelai dari Amerika Serikat dan
Argentina, mencapai 70 persen dari total kebutuhan nasional. Kalau harga kedelai naik, tidak bisa dihindari, harga tempe juga pasti naik," katanya.
Dampak
Lain halnya pendapat Melissa Karim. Penyiar radio, presenter, dan penulis skenario itu mengaku belum merasakan dampak dari kenaikan harga minyak mentah dan emas tersebut.
"Sekarang belum ada pengaruhnya, soalnya saya tidak investasi di minyak dan emas. Tapi nanti pasti akan ada, terutama harga barang-barang konsumsi pasti akan naik lagi. Padahal barang-barang itu adalah bagian dari profesi," ucapnya sambil menyebut sejumlah produk bermerek ternama kepada SP.
Maklum dengan segala kesibukannya di dunia hiburan, Melissa harus menjaga penampilan. Dia juga mengaku tidak mungkin meninggalkan kenyamanan berkendaraan pribadi. "Dunia yang saya geluti sekarang menuntut saya tampil baik dan itu berarti harus berdandan. Masakan dengan penampilan seperti itu saya harus naik angkutan umum. Apalagi dengan kondisi angkutan umum Jakarta yang seperti itu. Namun belum terpikir ide yang terbaik untuk mengantisipasi ke-naikan BBM nanti," ucapnya.
Lain halnya pendapat Udin, pengemudi angkutan kota jurusan Kampung Melayu - Pasar Minggu itu mengaku sudah mulai merasakan dampak dari kenaikan BBM di pasar dunia. "Saya sih hanya dengar dari berita tentang kenaikan harga minyak itu. Tapi beritanya saja baru di luar sana, kita di sini sudah merasakan harga barang-barang kebutuhan pokok makin naik saja," ucapnya. [W-10/H-13]