SUARA PEMBARUAN DAILY

Memberi Lebih Baik daripada Menerima

Oleh Andri Suryadi

Terbiasa hidup dari belas kasihan orang dengan mengemis membuat masyarakat malas. foto-foto: dok sp

Di akhir tahun 2007 saya bersama pasangan berjalan- jalan ke sebuah toko buku yang baru saja direnovasi dan memberikan potongan harga sampai 30 persen. Atas sebuah rekomendasi dari teman lewat milis saya mencari sebuah buku yang cukup menghentakkan dari judulnya Jadi Kuli di Negara Sendiri yang ditulis atas dasar nukilan pemikiran Ir Iman Taufik.

Saya sebenarnya tidak mengetahui penulis ini, namun karena judulnya yang menurut saya lain daripada yang lain, saya akhirnya membeli buku tersebut. Keesokan harinya saya mulai membaca buku ini dan menemukan betapa si penulis sangat berani mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi di Indonesia.

Betapa kita kaya akan sumber daya alam tapi penduduk miskin kita sangat banyak. Begitu banyaknya manusia-manusia Indonesia yang moralnya sangat tidak mendukung akan kemajuan bangsa di masa akan datang. Inginnya serba cepat, tidak mau berusaha keras dan lebih suka menjadi peminta-minta daripada berusaha lebih keras lagi.

Saya kira pemikiran ini benar adanya. Lihat saja di lampu merah Tomang sesaat keluar dari tol Kebun Jeruk yang setiap hari saya lewati, banyak pengemis yang tidak pernah berubah gayanya dari hari ke hari. Membawa anak sambil membawa alat musik kecrekan dari bekas tutup botol minuman.

Tidak menyanyi seperti pengamen pada umumnya, hanya dengan pandangan kosong menghentakan alat musiknya tersebut. Orangnya pun masih muda-muda.

Saya kira tidak berkisar jauh dari usia 30 tahunan walau ada beberapa yang sudah tampak lebih tua, tapi secara fisik mereka gemuk dan terlihat sehat. Saya sempat berpikir dan ini merupakan pemikiran saya sejak dulu, mengapa mereka tidak bekerja saja.

Malas

Mungkin menjadi pencuci pakaian di sekitar rumahnya atau jadi pemulung saya rasa akan lebih baik daripada jadi pengemis. Namun, setelah saya membaca buku Iman Taufik tersebut saya menjadi sadar tentang apa yang dikatakannya bahwa banyak di antara masyarakat kita yang malas dan tidak mau mengejar sesuatu dengan bekerja keras.

Untuk kasus pengemis misalnya, mereka lebih suka meminta-minta daripada berusaha bekerja, karena dengan meminta-minta saja mereka sudah cukup bisa hidup. Lebih parahnya lagi jika melihat ternya orang-orang kita memang suka memberi.

Makanya tidak heran bila ada usul untuk memberikan sangsi kepada para pengemudi kendaraan yang memberikan uang kepada para pengemis atau pengamen jalanan terutama anak-anak kecil.

Hal ini sudah dilakukan oleh bangsa lain, yaitu Vietnam. Laporan perjalanan wisata salah satu harian nasional di Vietnam baru-baru ini mengatakan di Vietnam para pemandu wisata bahkan melarang turis untuk membeli barang-barang kerajinan dari anak-anak. Mereka mengatakan bila demikian, hal itu akan mendorong si anak untuk meninggalkan sekolah dan mencari uang.

Tidak heran Vietnam segera keluar dari kesulitan negaranya pascaperang dan menjadi salah satu kekuatan di Asia Tenggara sekarang.

Lalu bagaimana bila sudah begini keadaan negara kita. Apakah kita akan terus seperti ini dan menunggu kehancuran negara kita? Atau kita akan berusaha keluar dari semua ini.

Tidak mudah memang apalagi dengan kondisi keadaan negara kita yang sepertinya sudah mengakar. Pembangunan karakter bangsa (character building) yang didengungkan oleh berbagai macam politisi tidak pernah mencapai implementasi yang jelas dan terarah di lapangan.

Hal ini dikarenakan kebanyakan dari politisi kita lebih suka berwacana namun tidak mampu melakukan secara nyata di lapangan.

Kita banyak sekali berslogan, tapi tidak pernah mampu mengaplikasikan slogan itu. Pembaca tentu ingat tentang Gerakan Disiplin Nasional di jaman Orde Baru. Saat pemerintah mengharapkan rakyatnya untuk disiplin, namun atasan tidak pernah memberi contoh tentang apa dan seharusnya disiplin itu sendiri.

Sebab itu, senada dengan apa yang diungkapkan oleh Iman Taufik bahwa pendidikan me-megang peranan yang sangat penting untuk membangun masyarakat yang lebih baik lagi. Tidak hanya asal membangun sekolah, universitas atau memberikan gelar saja tapi bagaimana menciptakan lulusan yang berkualitas.

Para pemimpin negara kita pun harus mau memperbaiki diri. Tentunya tidak adil hanya mengharapkan Presiden yang memperbaiki kinerjanya tapi tentunya juga harus disertai dengan semua pimpinan bangsa ini dari tingkat yang paling atas sampai tingkat RT.

Karakter mengabdi kepada masyarakat harus dikembangkan. Membuat sesuatu yang dapat diberikan kepada rakyat dan bukan hanya ingin mendapatkan pemberian dari rakyat adalah sesuatu yang dapat dikembangkan.

Segala kekuatan dan kekuasaan yang dipunyai haruslah diberikan kembali kepada rakyat dalam bentuk yang sesuai dan bukan dihabiskan sendiri saja. Saya rasa bila kita semua mendapatkan panutan yang baik, maka bukan mustahil semua masyarakat akan menjadi seperti apa yang diharapkan untuk dapat membangun bangsa ini ke arah yang lebih maju.

Penulis adalah Pengamat Kesehatan Jiwa andri_dr@rsgm.co.id


Last modified: 11/1/08