SUARA PEMBARUAN DAILY

Silvia Kristina

Tertarik Kostum

istimewa

Hampir tidak ada pemain anggar di seluruh Indonesia yang tidak mengenal nama Silvia Kristina. Dia boleh disebut Ratu Anggar Indonesia. Digelari demikian, karena hampir tiga puluh tahun menjadi atlet nasional tak terkalahkan, sejak 1976 hingga tahun 2004.

Prestasinya amat luar biasa. Satu-satunya pemain anggar Indonesia yang berhasil merebut medali perak pada Asian Games Bangkok tahun 1978. Meskipun usianya kini sudah hampir 50 tahun, sudah memiliki sertifikat sebagai pelatih internasional, dan sudah terjun sebagai pelatih, Silvia Kristina masih tetapi ingin bertanding. Bahkan dia mengatakan bila tidak dibatasi usia dia mau turun di PON XVII 2008 di Kaltim, dan bertekad untuk dapat mempersembahkan medali emas. Silvi tampak protes atas pembatasan usia tersebut. Itu termasuk melanggar hak azasi seseorang, katanya. Berikut perbincangan SP dengannya baru-baru ini:

Sejak usia berapa Anda mengenal anggar?

Saya mengenal anggar sejak usia remaja, sewaktu saya masih tinggal di Makassar. Mulai tertarik dengan olahraga itu, mula-mula karena kostumnya. Anda bisa menilai sendiri, seperti apa apiknya orang yang mengenakan kostum anggar. Bajunya berwarna putih bersih, dan tampak gagah berani bagi mereka yang mengenakannya. Itulah kesan pertama saya. Tetapi pada waktu itu, sekitar tahun 1975, saya belum berlatih anggar. Pada waktu itu saya masih latihan karate. Baru pada tahun 1976, saya mulai berlatih anggar. Pada waktu itu saya diminta oleh tetangga saya untuk ikut berlatih anggar. Kebetulan saya memang sudah senang sama pakaiannya. Tetangga saya inilah yang menjadi orang pertama yang mengantar saya masuk ke dunia anggar hingga sekarang ini. Dialah yang membujuk saya, dia juga yang mengantarkan saya ke tempat latihan. Pada waktu itulah saya memutuskan berhenti karate, lalu banting setir ke anggar.

Hanya dalam waktu enam bulan berlatih anggar, saya dipercayakan oleh Provinsi Sulawesi Selatan untuk mengikuti kejuaraan nasional anggar Pra-PON IX/1976. Itu juga bukan karena kemampuan saya. Saya bisa cepat meningkat hanya dalam waktu enam bulan itu karena di Makassar waktu itu, ada banyak sekali pelatih yang berkualitas. Merekalah yang menciptakan saya. Di antara pelatih berkualitas itu adalah Bapak Hidayat, Bapak Tick Suratman yang sekarang tinggal di Lembang, Bandung, Bapak Jack, Bapak Norman Suratman, dan Pak Kahar. Dalam waktu singkat teknik permainan anggar saya dipoles, sehingga pada bulan yang keenam saya diperbolehkan untuk mengikuti kejuaraan nasional anggar junior untuk Pra PON IX di Makassar. Pada waktu itu saya juga cukup kaget, karena baru turun pertama kali di tingkat nasional, tahu-tahu bisa merebut medali emas untuk jenis senjata floret junior putri. Persiapan PON IX berjalan cukup baik, sehingga pada waktu PON IX tahun 1977, lagi-lagi saya mengukir prestasi yang belum pernah saya dapatkan dalam hidup saya. Saya berhasil merebut medali emas di PON IX untuk nomor floret beregu. Nomor perorangannya belum bisa, karena saya masih junior. Masih kalah yang sama senior saya Ny. Zus Undap dari Jabar.

Lalu tahun 1978 saya dipanggil untuk ikut seleksi Asian Games VIII di Bangkok. Waktu itu saya merasa bangga sekali. Bangga, karena usia masih muda belia, tetapi sudah dipercaya untuk siap mewakili Indonesia di Asian Games. Itu luar biasa untuk seorang remaja putri di daerah seperti di Makassar. Dalam hati saya pikir, yah, hitung-hitung cari pengalaman. Tidak menang, atau pulang tanpa medali di Asian Games pun tidak mengapa, asalkan bisa bertanding dengan pemain-pemain dari negara Asia lainnya.

Ternyata, hasilnya cukup memuaskan. Saya bisa merebut medali perunggu di floret beregu. Perolehan perunggu inilah meyakinkan saya bahwa garis hidup saya adalah di anggar.

Sejak itulah, hingga tahun 2004 PON XVI di Palembang saya masih mendapatkan medali perunggu.

Anda masih aktif sebagai pe- main hingga sekarang ini?

Saya masih tetap ingin menjadi pemain. Meskipun usia saya saat ini sudah 49 tahun. Tetapi keinginan itu terpaksa saya simpan dalam hati, karena ada peraturan yang dikeluarkan oleh PB Ikasi (Ikatan Anggar Seluruh Indonesia) yang melarang atlet anggar berusia 35 tahun untuk turun bertanding di PON dan di Kejuaraan Nasional (Kejurnas).

Kalau PB Ikasi tidak membatasi umur, saya kira PON XVII di Kaltim tahun 2008 ini, saya masih mau turun. Saya yakin kalau turun saya masih bisa mempersembahkan medali emas di PON Kaltim. Miminal medali perak untuk jenis senjata degen. Sebenarnya saya ingin protes, mengapa harus dibatasi umur di PON? Tidak perlu dibatasi hanya yang berusia 35 tahun ke bawah yang boleh ikut. Mestinya wanita setua saya boleh saja ikut sepanjang belum ada atlet lain yang lebih mudah bisa mengalahkan. Bahkan, turunnya atlet tua ini akan lebih baik, karena bisa menjadi sparing partner bagi mereka yang masih muda. Di federasi anggar dunia saja tidak ada pembatasan usia. Anggar itu mau umur berapa saja boleh bertanding, selama dia masih belum terkalahkan. Mungkin PB Ikasi ini maksudnya supaya memberi kesempatan kepada junior. Namun itu salah kaprah. Sebab, kalau mau yang yunior berprestasi, harusnya menyertakan yang senior agar yang yunior lebih dimatangkan.

Anda merasa peraturan itu tidak adil?

Saya kira iya. Peraturan itu tidak adil. Saya merasa masih bisa menjadi partner yang baik bagi atlet yang muda-muda. Selama saya masih belum bisa dikalahkan saya merasa wajib turun untuk bertanding. Itu juga salah satu cara untuk memajukan atlet-atlet muda. Selama mereka belum bisa mengalahkan saya, untuk apa mereka dikirim ke luar negeri? Menang lawan saya baru mereka layak dikirim. Itulah semangat dan jiwa seorang atlet sejati. Kok ini pakai dibatasi segala, menurut saya itu tidak adil.

Mengapa tidak ajukan Yudisial Review ke Mahkamah Konstitusi?

Kalau boleh saya ingin mengajukan hal ini ke Mahkamah Konstitusi. Saya dengar dari orang-orang bahwa KONI Kota Surabaya, dan KONI Sumsel mengajukan yudisial review ke Mahkamah Konstitusi karena mereka menilai pasal 40 UU SKN diskriminatif. Pasal tersebut melarang pejabat daerah memimpin KONI Daerah. Saya kira pembatasan usia juga termasuk dalam kategori membatasi hak-hak atlet untuk melakukan tugas pokoknya sebagai atlet yaitu bertanding demi membela daerahnya atau membela negara. Ini tidak benar. Kalau memungkinkan saya ingin mengajukan ke Mahkamah Konstitusi bahwa pembatasan usia itu termasuk melanggar hak azasi seseorang. Kita ada wadahnya sekarang yaitu IANI (Ikatan Atlet Nasional Indonesia). Mungkin kita akan mencoba menggunakan jalur organisasi itu untuk memperjuangkan hak-hak kita sebagai atlet.

Anda sekarang terjun sebagai pelatih?

Sudah lama saya terjun sebagai pelatih. Itu anak saya, Dessyana Koeswandi, yang ikut tim SEA Games XXIV 2006 di Thailand, siapa yang latih? Sejak usia 7 tahun saya sudah melatih dia, dan sekarang dialah pengganti saya. Selain itu, saya juga membuka klub sendiri di dekat rumah. Klub ini bernama Makairan Fencing Club. Klub itu menghimpun sejumlah pelajar SD dari berbagai sekolah di sekitarnya. Cukup banyak dan saya melatih mereka agar kemudian mereka harus lebih berprestasi dari saya. Waktu ditunjuk sebagai pelatih SEA Games Manila 2005, anak asuhan saya yang merebut medali emas di jenis senjata degen. Itu medali satu-satunya bagi Indonesia. Selain menjadi pelatih, saya juga adalah seorang wasit anggar internasional. Saya memperoleh sertifikat itu pada tahun 2001 di Malaysia. Sekarang ini, wasit anggar dari Indonesia yang bersertifikat internasional hanya sembilan orang. Umumnya, wasit anggar itu adalah mantan pemain. Saya sendiri, sudah menjadi wasit anggar, tetapi masih terjun sebagai pemain pada PON XVI Palembang tahun 2004. Sebenarnya sudah ingin pensiun dari pemain, tetapi saya belum mau karena belum ada yang bisa mengalahkan saya. Rasanya kurang enak, karena saya sudah menjadi atlet hampir 30 tahun (1976-2004).

Anda kelihatan begitu cepat menjadi pemain nasional. Itu karena bakat?

Itu anugerah Tuhan. Bahasa olahraganya, mungkin itu karena bakat. Saya cepat menyerap instruksi pelatih, dan dalam tempo yang singkat, enam bulan, saya bisa juara untuk tingkat junior. Saya yakin itu bukan kelebihan saya, tetapi itu sesuatu yang dianugerahkan Tuhan pada saya. Tetapi bila ditilik lebih jauh, sebetulnya, cepat dan lambat seorang bisa menjadi atlet top nasional, tergantung dari beberapa hal. Pertama, ada pelatih yang luar biasa hebat, seperti yang saya alami di Makassar. Yang kedua, perlu ada motivasi yang kuat dari dalam diri sendiri untuk maju, dan lebih berprestasi. Ada motivasi untuk mengalahkan pemain-pemain yang lebih hebat dari kita. Itu yang membuat kita tertantang, dan organisasi olahraga yang menaungi kita, harus bisa memfasislitasi atletnya yang berkemauan seperti itu. Jangan pengurusnya tidak mau mengirimkan atletnya ke luar. Di samping itu perlu ada pengorbanan. Menjadi atlet itu membutuhkan adanya kemauan untuk berkorban. Misalnya, orang-orang lain bisa bermain, pergi kemana-mana seenaknya, sementara atlet harus hidup dalam disiplin latihan yang tinggi. Berbulan-bulan berada di Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas), sudah pasti jenuh. Setiap atlet harus memiliki cara untuk dapat mengusir kejenuhan. Kalau tidak, bisa bubar, bisa tidak karuan, keluyuran kemana saja, karena jenuh menghadapi rutinitas yang membosankan. Apalagi menghadapi orang yang sama dari hari ke hari, dari bulan ke bulan. Bahkan dari tahun ke tahun seperti saya alami.

Selama menjadi atlet, pernahkah mendapatkan bonus yang berlimpah?

Wah, kalau bonus berlimpah itu tidak pernah. Selama jadi atlet saya cuma pernah mendapat bonus sebesar Rp 1 juta dari KONI Pusat. Kalau dari PB Ikasi (Ikatan Anggar Seluruh Indonesia) selama menjadi atlet, hanya pada waktu saya merebut medali perak pada Asian Games Beijing 1990, saya terima dapat Rp 10 juta. Tetapi pada waktu itu, saya juga lihat, cabang olahraga lain, seperti teman saya Hengky Phie dari Sulsel mendapatkan bonus cukup besar, Rp 25 juta. Pada waktu itu Pak Wismoyo yang jadi Ketua PB. PJSI (Persatuan Judo Seluruh Indonesia). Jadi mungkin lebih mudah mencari dananya, kebetulan Pak Wismoyo itu memang orangnya mencintai atlet. Tapi pada waktu Wismoyo jadi Ketua KONI Pusat, saya pernah mencatat mendapatkan bonus yang terbesar dalam sejarah hidup saya. Itu terjadi pada waktu saya merebut medali emas di SEA Games 1997 di Jakarta. Itu saya dapat bonus sebesar Rp 25 juta. Itulah bonus saya yang terbesar. Ditambah sama bonus terakhir, yaitu hadiah dari negara, melalui Menegpora tahun 2007 yang lalu. Saya diberi satu buah rumah tinggal senilai Rp 100 juta. Kalau saya tidak beprestasi di anggar, mana mungkin saya bisa dapat rumah dan lain-lain.

Bertahun-tahun ada di pelatnas. Bagaimana dengan keluarga?

Setiap orang yang menikah dengan seorang olahragawan, harus mengerti bahwa pekerjaan pokok sebagai olahragawan adalah berlatih, dan bertanding demi membela Merah Putih. Itu membutuhkan kesepakatan, atau komitmen bersama. Kalau sepakat bahwa akan berbulan-bulan tidak ada di rumah, karena ada di Pelatnas, semua harus konsisten pada komitmen yang dilakukan bersama. Tanpa komitmen, pasti akan menemui banyak kendala.

Bagaimana pandangan Anda terhadap atlet sekarang?

Ada perbedaan dengan atlet zaman dulu. Atlet zaman dulu, terpilih mewakili negara ke pertandingan internasional, apalagi untuk multi event (SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade), sangat bangga sekali. Dengan kebanggaan itu, kami berlatih habis-habisan agar bisa merebut juara. Kalau sekarang tidak. Motivasinya adalah bonus. Saya khawatir, dengan model motivasi seperti itu. Nanti kalau tidak ada bonus, bagaimana? Tidak mau bertanding? Semangat berlatih menurun? Saya yakin akan terjadi seperti itu. Wah, kalau sudah begitu, bahaya sekali. Menjadi atlet nasional jangan mereka cuma mau bonusnya, tapi tidak fokus. Dulu kami tidak pernah menanyakan berapa bonus yang bakal kami terima.

Anda bangga menjadi atlet?

Jelas bangga dong. Hanya presiden saja yang kalau ke luar negeri, bendera Merah Putih dikibarkan, dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Warga negara yang lain tidak, meskipun dia seorang pejabat tinggi negara. Tetapi kecuali presiden, hanya olahragawan yang merebut medali emas di arena internasional bendera Merah Putih dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Jadi jelas saya bangga menjadi atlet.

Apa yang Anda cari di Anggar. Materi, meneruskan hobi atau ingin membangun dan mengembangkan anggar di Indonesia?

Karena saya bertahun-tahun di anggar, otomatis saya tidak bisa hidup di luar itu lagi, kecuali di anggar. Keinginan saya cuma satu, mau mengembangkan anggar di Indonesia. Pengembangan di Indonesia harus dimulai dari usia dini. Kalau tidak dimulai dari usia dini tidak akan bisa mendapatkan atlet yang bagus. Karena itu orientasi klub saya itu adalah anak usia Sekolah Dasar (SD). Memang di tingkat nasional PB Ikasi sudah membuat kejuaraan segala umur, yaitu kejuaraan senior, junior, kadet dan pra kadet. Itu artinya mereka yang usia 12 tahun sudah diakomodir untuk bertanding. Berarti anak seusia itu bahkan kurang dari itu sudah mulai berlatih anggar. Itu akan lebih baik.

Hanya sayangnya kompetisi kita di dalam negeri sangat minim. Satu tahun hanya satu kali kompetisi yaitu kejuaraan nasional. Mana mungkin bisa berprestasi kalau hanya itu saja kejuaraannya. Minimal tiga kali setahun. Di samping itu sering mengirimkan pemain ke luar negeri. Minimal kita bisa kirim dua sampai tiga kali. Kalau ke Eropa mungkin jauh, ya, di ASEAN. Bisa di Singapura. Kalau tiap tahun dikirim mengikuti kejuaraan internasional otomatis teknik bermain kita akan berkembang. Tetapi apabila kita tidak mengikuti kejuaraan atau event besar di luar, ada kemungkinan perkembangan teknik baru tidak kita ikuti atau kita dapatkan. Bisa-bisa kita ketinggalan dengan negara lain. Itulah yang terjadi sekarang ini. Negara-negara ASEAN lain yang sepuluh tahun silam jauh berada di bawah Indonesia, sekarang ini justru mereka sudah jauh lebih maju dari kita. Tahun 1995 kita masih merebut juara umum di SEA Games, tetapi pada SEA Games tahun 2007, kita pulang tanpa medali emas. Itu adalah akumulasi dari minimnya kompetisi dalam negeri yang terjadi bertahun-tahun, dan itu adalah kegagalan pengurus seka- rang ini.

Banyak pelatih Indonesia melatih di luar negeri. Apakah Anda pernah ditawari hal serupa?

Saya berkali-kali diminta melatih di Malaysia. Di sebuah klub, karena mereka ingin memajukan klubnya dalam kompetisi nasional. Itu tawaran menggiurkan buat saya. Terakhir Malaysia menawarkan lagi pada tahun 2006. Saya katakan saya tidak bisa karena saya kasihan sama murid-murid saya di klub saya. Kasihan, mereka mau dikemanakan? Postur, dan bakat yang dimiliki mereka sangat berpotensial untuk dikembangkan, mengapa saya memilih melatih pemain di negeri orang? Ah, tidak. Saya pilih melatih di klub saya sendiri, meskipun tawaran gajinya menggiurkan sekali.

Pewawancara: Mike Wangge


Last modified: 11/1/08