
abak Delapan Besar Liga Djarum Indonesia 2007 di Solo, Jateng dan Kediri, Jatim,16-21 Januari mendatang, menjadi ajang ujian sesungguhnya bagi tim-tim calon juara. Di babak ini, semua tim dituntut untuk siap lahir dan batin karena di situlah nasib mereka akan ditentukan apakah akan masuk "surga" atau "neraka".
Hal ini pasti sudah disadari oleh delapan tim peserta. Tidak hanya itu, Babak Delapan Besar ini juga kental dengan aroma dendam, di samping target juara.
Aroma dendam itu mulai menyeruak setelah babak penyisihan berakhir. Dari hasil babak penyisihan itu, Wilayah Barat diwakili juara grup Sriwijaya FC, kemudian Persija Pusat, PSMS Medan, dan Persik Kediri. Dari Wilayah Timur akan dipimpin jawaranya Persipura Jayapura, yang didampingi Persiwa, Deltras, dan Arema Malang. Peringkat pertama dan ketiga Wilayah Barat akan tampil di Kediri, bersama peringkat dua dan empat Wilayah Timur. Di Solo diisi juara dan peringkat ketiga Wilayah Timur, serta peringkat dua dan empat Wilayah Barat.
Dengan demikian, empat tim yang akan baku "bunuh" di Kediri adalah Sriwijaya FC, PSMS Medan, Persiwa Wamena, dan Arema Malang, sementara Persipura, Deltras, Persija Pusat, dan Persik Kediri berlaga di Solo.
Dari Kediri, aroma dendam bakal diusung tim "Ayam Kinantan" PSMS Medan . Tentu saja dendam itu akan ditujukan kepada rivalnya sesama Sumatra Sriwijaya FC. PSMS gagal melaju ke semifinal Piala Indonesia, setelah kalah menyakitkan 4-0 pada pertandingan kedua di Palembang, 3 Januari lalu. Padahal pada pertandingan pertama di Medan, PSMS menang 2-0. Apalagi, kekalahan 0-4 itu dibumbui dengan tuduhan adanya permainan di balik semua itu.
Secara materi, PSMS tidaklah kalah dari Sriwijaya FC. PSMS memiliki barisan depan yang cukup produktif dengan adanya Saktiawan Sinaga, Miguel Formento, Boy Jati Asmara, dan Putut Waringin Jati. Mereka didukung barisan gelandang elegan yang terdiri dari James Koko Lomel, Gustavo Chena, Mbom Julien, Legimin Rahardjo, Mahyadi Panggabean. Begitu juga di belakang, tim besutan Freddy Muli ini sangat solid dengan adanya Murphy Kumonpole, Supardi, Ndongo Mpessa dan Usep Munandar. Apalagi di bawah mistar gawang berdiri salah satu kiper terbaik nasional Markus Horison Ririhena.
"Kekalahan di Palembang itu sangat menyesakkan. Kami akan balas di Delapan Besar nanti," begitu komentar Markus menanggapi rencana pertemuan kembali PSMS dan Sriwijaya FC.
Dari kubu Sriwijaya FC, pelatih Rahmad Darmawan memilih enggan terlalu frontal. Menurutnya, sepakbola adalah permainan sehingga kalah atau menang itu hal yang biasa. Dia pun enggan menanggapi hal-hal semacam itu terlalu berlebihan.
"Kalau kami menang, maka saya akan mengucapkan bahwa tim Anda hari ini belum beruntung. Sebaliknya bila kalah, saya juga harus jantan mengatakan bahwa tim lawan memang tampil lebih baik hari ini," ujar Rahmad.
Rahmad jelas merendah. Apalagi secara materi Sriwijaya FC adalah salah satu tim dengan materi terbaik musim ini. Di sana terdapat dua penyerang haus gol Christian Lenglolo, Keith Kayamba Gumbs dan Korinus Fingkrew. Di tengah, siapa yang tak kenal dengan Zah Rahan, salah satu playmaker terbaik di Liga Djarum Indonesia, serta Anoure Obiora, Oktavianus, Tony Sucipto, Benben Berlian, dan Vijay. Barisan belakang tim ini dihuni dua bek nasional Charis Julianto, Firmansyah, serta Isnan Ali, Carlos Renato, dan Christian Warobay. Di bawah mistar tidak ada yang berani meragukan kemampuan Ferry Rotinsulu.
Perang bintang Sumatra yang dibumbui aroma dendam ini pasti akan banyak ditunggu masyarakat sepakbola Indonesia. Kendati demikian, mereka tentu saja tidak boleh menganggap remeh kekuatan dua wakil wilayah dua Persiwa Wamena dan Arema Malang.
Persiwa selama dua musim terakhir tampil konsisten dan selalu masuk jajaran papan atas. Tim yang diarsiteki Joko Susilo dikenal dengan semangatnya yang pantang menyerah. Kendati kualitas pemain mereka tidak sebaik tiga tim lainnya, tetapi tim dari dataran tinggi Jayawijaya ini tidak bisa dianggap remeh. Apalagi sepanjang musim ini Persiwa menjadi satu-satunya tim dari timur yang tidak pernah kalah di kandang sendiri.
Kekuatan tim ini terletak dari kerjasama dan semangat tinggi pemainnya, kecepatan dan akurasi striker Boakay Eddy Foday.
Arema Malang, tim biru yang kurang "biru" musim ini memang sedikit kehilangan gregetnya. "Bedol Desa" yang dilakukan Benny Dolo saat meninggalkan Arema akhir musim 2006, membuat tim ini harus mencari bentuk baru di bawah kendali Miroslav Janu. Kabar terakhir, Arema tidak diarsiteki Janu di Babak Delapan Besar ini, setelah ada masalah dengan dana kontraknya. Perginya Benny Dolo, yang dua kali membawa Arema juara Piala Liga dan semifinalis Liga Djarum Indonesia 2006, dengan membawa Firman Utina, Putu Gede, Leo Soputan, dan Kerry Yudiono, membuat tim ini sedikit "ompong". Apalagi itu ditambah dengan cedera berkepanjangan striker Emalue Serge dan hengkangnya Joao Carlos (PSIS) dan Franco Hita (Persema).
Hadirnya nama-nama tenar seperti Ponaryo Astaman, Elie Aiboy, Ortizan Solossa, belum mampu mengembalikan taring "Singo Edan" seperti dulu. Beruntung Arema masih mampu lolos ke Delapan Besar, meski musim ini mereka kehilangan mahkota Piala Indonesia.
Solo Membara
Bau dendam juga bertiup kencang di Solo. Bagaimana tidak, di Stadion Manahan akan bertemu tim-tim unggulan yang semuanya mematok target juara. Di sana akan terjadi perang gengsi dan ambisi antara Persipura Jayapura, Persija Pusat, Deltras dan Persik Kediri. Keempatnya adalah tim-tim mapan dengan segudang torehan prestasi dan ambisi. Kecuali Deltras, ketiganya adalah tim-tim yang pernah merasakan manisnya menjadi juara Liga Indonesia. Persik bahkan berstatus juara bertahan, Persipura juara 2005, sementara Persija juara 2001.
Kendati kurang diperhitungkan, Deltras tetap tidak bisa dipandang remeh. Tim yang pada dua musim sebelumnya selalu terkena degradasi, tetapi tertolong oleh keputusan PSSI, musim ini menjelma menjadi kekuatan yang cukup menakutkan. Itu tidak lepas dari kepintaran Jaya Hartono memadukan pemain asing dan pemain lokal mereka.
Tentu saja, babak Delapan Besar ini akan sangat berarti bagi Deltras. Di arena inilah, Deltras telah bertekad untuk membalas sakit hati mereka terhadap Persija Jakarta, yang menyingkirkan mereka di perdelapan final Piala Indonesia . Yang pasti, pada pertemuan kali ini, Jaya Hartono tidak akan gegabah lagi, khususnya dengan duet Persija Bambang Pamungkas dan Aliyudin.
Di kubu Persija, pertemuan kembali dengan Deltras akan menjadi pembuktian bagi mereka. "Macan Kemayoran" juga terus memaksimalkan diri menjelang Delapan Besar itu. Kali ini, Persija dituntut untuk selalu tampil konsisten karena tiga lawan-lawan di Solo adalah kekuatan utama.
Di lini tengah, Persija memiliki kekuatan mereka. Satu-satunya kelemahan tim ibukota ini adalah di lini belakang. Di sini hanya Abanda Herman dan Hamka Hamzah yang tampil cukup konsisten. Hal ini diakui Isman Jasulmei, Asisten Pelatih Persija. Kendati demikian, Persija optimistis pada pertandingan nanti, Kendala itu akan teratasi.
Langkah Persija di babak Delapan Besar ini memang berat. Apalagi mereka telah dipatok target juara. Bahkan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo meminta Persija musim mampu menggabungkan gelar Liga Djarum Indonesia dan Piala Indonesia .
Persipura kendati tidak terdengar gembar-gembornya tetap saja menjadi kekuatan yang menakutkan. Tim "Mutiara Timur" ini memiliki barisan lokal dan asing nomor satu. Albeto dan Ian Kabes akan menjadi andalan lini depan Persipura. Di tengah duet playmaker senior-junior Eduard Ivakdalam dan Emanuel Wanggai akan mengurai serangan dan peluang. Di belakang Victor Igbonefo, Ricardo Salampessy, dan Jack Komboy akan memegang kendali, sementara di bawah mistar Jandri Pitoy akan menjadi "laba-laba" yang akan menutup rapat gawang Persipura.
Berbeda dengan Persik. Tim "Macan Putih" ini sedikit kehilangan irama permainannya di akhir babak penyisihan wilayah. Beruntung, juara bertahan itu masih berada di peringkat empat wilayah satu dan mendapat tiket ke Delapan Besar. Di tim ini juga dihuni segudang pemain berstatus bintang.
Dari deretan pemain lokal terdapat Budi Sudarsono, Erol FX Iba, Aris Indarto, Khusnul Yuli, Haryanto, Aris Budi Prasetyo, Bertha Yuwana dan Kurnia Sandy. Dari jajaran ekspatriat tim ini dihuni langganan topskor yang musim ini juga memimpin daftar pencetak gol Christian Gonzalez. Selain itu juga ada gelandang elegan Ronald Fagundez, Fallah Johnson, dan Danilo Fernando. Kalau mereka tampil maksimal, rasanya sulit menghentikan laju tim besutan Daniel Rukito ini. Apalagi dari faktor geografis, Solo akan dikuasai Persikmania karena jarak Solo dan Kediri relatif dekat.
Kendati demikian, harap diingat, seluruh tim di babak Delapan Besar adalah tim terpilih. Rasanya tidak akan dominasi tim tertentu yang terjadi. Memang aroma dendam dan target juara akan menjadi 'senjata' untuk memburu kemenangan. Tetapi harus diingat pula bahwa bola itu bundar. Artinya, segala sesuatu bisa terjadi di lapangan. Jadi, waspadalah.Waspadalah! [SP/Ferry Kodrat]