SUARA PEMBARUAN DAILY

TOKOH MINGGU INI

Orang Muda yang Bergegas

AP/Sergey PonomarevMikheil Saakashvili

Pada 25 Januari 2004, seorang pria muda berusia 36 tahun untuk pertama kali di benua Eropa tampil menjadi presiden. Mikheil Saakashvili, naik menjadi Presiden Georgia atas dukungan rakyat setelah revolusi mawar yang berhasil menggulingkan Presiden Eduard Shevardnadze. Tidak tanggung-tanggung, 96 persen suara diperoleh Saakashvili dan mengantarkannya menjadi presiden di negara seluas 350 km persegi itu. "Lebih baik saya mati daripada mengecewakan orang-orang," kata Saakashvili di hadapan 10.000 orang di depan katedral kuno Gelati, Kutaisi, Georgia Barat, ketika itu.

Peristiwa empat tahun silam itu, kembali terulang setelah Misha, panggilan akrab rakyat Georgia untuk Saakasvhili, kembali memenangkan pemilihan umum Georgia (5/1) di usianya yang ke empat puluh. Kemenangan Misha mengalahkan enam kandidat presiden lain pada pemilu, telah membuktikan reputasinya sebagai seorang politisi. Namun, banyak kalangan oposisi yang masih meragukan kemampuan Misha dalam memimpin rakyat Georgia.

Saakashvili, lahir di Kota Tbilisi, kota terbesar sekaligus ibu kota Georgia, 21 Desember 1967. Sebelum menjadi kepala negara, Saakashvili dikenal sebagai seorang hakim, karena latar belakang pendidikan Misha lebih banyak berkutat pada masalah hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM). Saakashvili lulus dari Fakultas Hukum Internasional Universitas Negara Kiev, Ukraina pada tahun 1992. Dua tahun kemudian, 1994, ia menerima gelar di bidang hukum dari Universitas Columbia, New York, Amerika Serikat, dan menerima gelar serupa dari Universitas George Washington tahun 1995.

Pada tahun yang sama, Misha menerima diploma dari Institut Internasional Hak-hak Asasi Manusia di Strasbourg, Prancis. Perjalanan karir presiden yang pandai berbicara dalam tujuh bahasa, termasuk Inggris, Prancis, dan Rusia itu, diawali sebagai pengacara di Patterson, Belknap, Webb & Tyler awal tahun 1995 di New York.

Presiden Eduard Shevardnadze, yang sedang mencari bakat muda yang brilian dan memiliki visi, meliriknya. Ia didekati Zurab Zhvania yang bekerja untuk Presiden Shevardnadze dengan tugas merekrut orang muda untuk memasuki dunia politik. Kemudian, ia tampil sebagai anggota Parlemen Georgia pada Desember 1995 bersama Zhvania. Dua orang ini mewakili Uni Rakyat Georgia. Partai ini didirikan Shevardnadze.

Misha kemudian menjabat Ketua Komite Parlemen Georgia yang menangani penyusunan sistem pemilihan umum, badan hukum independen, dan kekuatan polisi bebas politik. Dia sangat dikenal publik dan merupakan orang nomor dua terkenal setelah Shevardnadze. Ia dijuluki sebagai Man of the Year oleh kelompok jurnalis dan pendukung hak asasi manusia tahun 1997. Pada Januari 2000, Misha diangkat sebagai Wakil Presiden dari Parliamentary Assembly of the Council of Europe.

Pada 12 Oktober 2000, dia menjadi Menteri Kehakiman pada Pemerintahan Shevardnadze. Dia memulai reformasi utama untuk memberangus korupsi dan merombak sistem peradilan yang korup dan terkooptasi kepentingan politik. Pertengahan tahun 2001, dia berseberangan dengan Menteri Ekonomi Vano Chkhartishvili, Menteri Negara Keamanan Vakhtang Kutateladze, dan Kepala Polisi Tbilisi Soso Alavidze. Misha menuduh mereka mengambil keuntungan dari kesepakatan bisnis yang korup.

Misha mundur dari Pemerintahan Shevardnadze pada 5 September 2001. Dia menyatakan korupsi telah menyusup ke pusat pemerintahan dan pimpinan tidak punya niat mengatasinya. Dia mengingatkan, keadaan tersebut akan membuat negaranya terbenam menjadi kantong-kantong kriminal dalam satu atau dua tahun. Langkah sebagai oposan dibuktikan dengan mendirikan Gerakan Nasional Bersatu (UNM) pada Oktober 2001 dan memusatkan perhatian pada reformasi. Dia bergabung dengan Demokrat Bersatu yang diketuai Zurab Zhvania dan Nino Burjanadze untuk membentuk aliansi.

Kritik kepada pemerintahan terus bergema hingga pemilu parlemen 2 November 2003. Misha dan kawan-kawannya kalah, tetapi, menurutnya, ia menang, hingga akhirnya rakyat pun mendukungnya melalui pemilu 2004. Sejak pertama kali memimpin negara di kawasan Eropa Timur itu, Misha dianggap telah membawa banyak perubahan.

Dari pembangunan fisik seperti jalan raya, bandara internasional, hingga merubah bendera negara pun ia lakukan. "Anda datang ke negara yang tiga tahun lalu tidak memiliki penerangan jalan," kata Misha sesaat setelah kemenangannya, Senin (7/1). [Berbagai Sumber/SYH/N-3]


Last modified: 11/1/08