
www.epitech.eu
Para wisatawan berselancar internet di Bandara Beijing, Tiongkok. Pekan lalu, Pemerintah Tiongkok membatasi keberadaan video internet.
erkat kemajuan teknologi, aliran informasi di dunia semakin cepat. Penduduk dunia bisa mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi di seluruh penjuru dengan cepat dalam hitungan detik.
Namun, banyak negara yang mulai mengkhawatirkan kecepatan informasi yang dihadirkan oleh kemajuan teknologi itu. Pemerintah Tiongkok telah membatasi penggunaan internet di kalangan warganya.
Kekhawatiran terhadap keberadaan internet juga dirasakan junta militer Myanmar. Berkat kecepatan informasi itu pula, kerusuhan berdarah pada September tahun lalu cepat menyebar ke seantero dunia dan menimbulkan reaksi keras dari pemerintahan negara lain. Junta pun dikabarkan langsung membatasi akses internet di kalangan warga.
Pembatasan-pembatasan seperti itu tidak dirasakan warga Maroko. Keberadaan blog yang kian menjamur di negara itu semakin mengukuhkan kebebasan informasi di negara Muslim yang terletak di Afrika Utara itu.
"Blogoma", istilah yang digunakan bagi dunia maya di Maroko, saat ini memiliki lebih dari 30.000 situs. Warga Maroko tampaknya mulai melihat kalau situs-situs pribadi dapat digunakan untuk mengemukan pendapat terkait masalah-masalah yang dianggap tabu oleh pemerintah dan norma-norma masyarakat.
"Ini sebuah revolusi karena semua orang bisa berkomentar secara bebas, terutama terkait isu-isu yang sensitif," ujar seorang blogger, Larbi El Hilali, yang mengelola Larbi.org. Situs pribadi Larbi yang dibuat sejak akhir 2004 telah diakses oleh 18.000 orang.
Bahkan, kini ada lebih dari 3.500 pengunjung situs itu setiap hari, yang kebanyakan berdiskusi soal konstitusi. Topik itu menjadi pembicaraan hangat, terutama terkait pemberian kekuasaan lebih besar kepada raja dan masalah kebebasan pers.
El Hilali cukup bangga dengan perkembangan jumlah situs pribadi di negaranya, meski masih jauh dibandingkan jumlah di negara-negara Eropa. Kebanggaan itu beralasan karena jumlah situs pribadi di negara tetangga Maroko, Aljazair, lima kali lebih sedikit.
Menurut data DZBlog.com, hanya ada sekitar 5.892 blogger di Aljazair dengan dua juta pengunjung dan tujuh juta halaman sejak Januari 2006.
Keberadaan situs pribadi di Tunisia dan Mesir juga lebih sedikit. Situs-situs pribadi di dua negara itu mendapatkan perhatian yang amat sedikit dari warga. Hanya ada sekitar 1,6 juta warga Tunisia yang menjelajahi internet, sedangkan di Mesir hanya 1 dari 10 orang yang berselancar di dunia maya.
Berisiko
Meski demikian, kehadiran situs pribadi mulai dirasakan. Wael Abbas (33 tahun) asal Mesir mendapatkan penghargaan dari International Centre for Journalist pada November tahun lalu. Penghargaan diberikan organisasi bermarkas di Washington, AS, itu karena situs pribadi Abbas memberitakan dua polisi yang menyiksa tahanan.
Namun, kehadiran blog di Afrika Utara bukan tanpa risiko. Karim Amer (22 tahun) harus mendekam di dalam penjara selama empat tahun karena dalam situs pribadinya, Al Azhar, dia mengkritik Presiden Mesir Hosni Mubarak dan Islam.
Lalu, pada 2002, blogger Tunisia Zouhair Yahyaoui dijebloskan ke dalam penjara karena dianggap "menyebarkan informasi palsu" tentang tuduhan pelanggaran hak asasi manusia.
Seorang blogger yang menamakan diri Mehdi7 mengatakan kalau Maroko telah menjadi surga bagi orang-orang seperti di. "Saya belum pernah mendengar kalau ada blog yang disensor di Maroko," ujarnya.
Namun, sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama Global Voices Advocacy mengatakan ada 17 negara yang membatasi akses internet. Tujuh dari jumlah itu adalah negara-negara Arab, termasuk Maroko.
Pada Mei lalu, pemerintah memblok akses situs video internet YouTube selama enam hari karena menayangkan "kekaisaran" Raja Mohammed VI. Lalu, pada Juni lalu situs Live Journal yang menjadi "markas" bagi dua juta blog, diblokir setelah menayangkan materi-materi yang mendukung kelompok pemberontak Front Polisario. Kelompok itu kerap terlibat pertempuran dengan militer Maroko.
Upaya-upaya untuk menghalau perkembangan arus informasi di Maroko tampaknya belum membuahkan hasil yang maksimal. Para blogger masih merasakan kebebasan. "Di Maroko, banyak kelompok politik yang mencoba untuk menginfiltrasi Blogoma. Namun, mereka harus menghadapi sistem pertahanan diri dari para blogger," ujar Othmane Boummalif, seorang konsultan web. [AP/O-1]