
ore itu di Hotel The Ritz-Carlton Jakarta, di tengah-tengah pameran lukisan karya dari para pelukis ternama yakni D Ardikana, Nyoman Erawan, Ronald Djaling, dan Rukmini Affandi, terlihat empat orang anak. Mereka adalah Salsabila (12). Asha (8), Nia Gobel (9) dan Abian Gobel (8). Mereka seakan tidak memperdulikan sekeliling yang ramai dengan hilir mudik pengunjung pameran. Mereka juga tidak menoleh ke arah karya seni yang bernilai tinggi di sekitarnya. Soalnya mereka sedang asyik dengan gambar mereka sendiri.
Salsabila sedang mencoret-coret krayon warna biru di gambar unicorn, si kuda terbang.. Sebaliknya Asya malah termenung. Rupanya dia ingin menggambar air terjun di samping gambar kuda terbang miliknya. Kedua kakak-beradik Nia dan Abyan Gobel, juga melakukan hal yang serupa. Anak-anak ini adalah murid-murid terbaik Yudacitra Kelas Melukis Anak, bagian dari Yulindra Gallery yang menggelar pameran luksan di hotel mewah tersebut.
Mereka memang belum dapat menghasilkan gambar seperti dalam lukisan berharga puluhan hingga ratusan juta yang tengah dipamerkan. Namun mereka berusaha untuk dapat menuangkan ide, khayalan, dan kreativitas di atas kertas gambar. "Kami menggelar demo mewarnai dari murid-murid ini adalah untuk memotivasi anak agar mereka dapat menjadi pelukis besar atau maestro seperti lukisan-lukisan yang terpajang di sekeliling pameran ini. Mudah-mudahan mereka terinspirasi dari karya-karya mereka. Selain itu mereka dapat menambah wawasan dan bersosialisasi dengan lingkungan di luar ruang belajar," ucap Yulie Indra Setyohadi pimpinan galeri dan kelas melukis tersebut.
Bagaimana pendapat anak-anak itu sendiri ketika ditanya, susah nggak sih melukis? "Susah juga sih. Tapi kalau terus berlatih melukis itu gampang kok," ucap Salsabila. Setelah tiga tahun belajar di sekolah lukis, sekarang siswa kelas 6 SD itu sudah bisa melukis dengan akrilik dan cat minyak. Dia bahkan telah berulang kali menjuarai lomba menggambar, yang terbaru juara III lomba menggambar di pusat perbelanjaan Senayan City.
Lain halnya dengan Asha, yang mengaku memang hobi menggambar. "Karena saya sejak kecil sering coret-coret dan menggambar apa saja, akhirnya oleh mama saya di masukkan ke kelas melukis anak Yudacitra," kata putri tertua pengusaha Erick Thohir dan Lisa Thohir itu.
Asha yang baru enam bulan belajar melukis mengaku senang menggambar binatang. Hal senada juga diungkapkan Nia dan Abyan. Nia dan Abyan menambahkan, bahwa mereka mengaku menggambar dengan warna-warna yang cerah.
Menurut Yulie yang juga dikenal sebagai seorang pelukis beraliran modern, susah tidaknya melukis tergantung dari keinginan untuk belajar. "Untuk menjadi seorang pelukis diperlukan kesadaran untuk belajar dan terus berlatih. Saya tidak ingin mencetak pelukis yang seperti saya, saya ingin mereka menjadi pelukis yang mengembangkan diri sendiri dan bukan peniru," katanya.
Kegiatan pameran yang melibatkan anak-anak ini memang berbeda. Para orang tua yang turut mendampingi putra-putrinya itu mengaku bangga anaknya dapat tampil dalam kegiatan semacam ini. "Ini pertama kalinya Asha ikut. Saya senang dia dapat menyalurkan hobi seperti ini. Sebab dia memang dari kecil memang tertarik dengan gambar dan lukis. Karena itu saya putuskan untuk ikut kegiatan ini. Selain untuk merangsang kreativitas juga memberi kesibukan yang positif baginya," kata Lisa, ibu dari Asha.
Hal yang sama juga dikemukakan Okke, ibu dari Salsabila. "Salsabila itu senang menggambar. Saya tinggal mengarahkan minatnya saja dengan memberi dukungan dan fasilitas atas hobi itu. Jika dia ikut lomba dan menang itu lebih untuk membangun rasa percaya diri saja," ucap ibu anak tunggal itu. Karena itu dia mendukung aktivitas anaknya, termasuk bila Salsabila ingin menjadi pelukis atau komikus.
Hobi melukis memang jika dikembangkan akan dapat memberi hasil yang positif. Ini sudah menjadi modal awal untuk menjadi calon maestro seni negeri ini di masa datang. Ayo melukis lagi! [W-10]