
Film : Otomatis Romantis
Sutradara: Guntur Soeharjanto
Pemain: Marsha Timothy, Tora Sudiro, Wulan Guritno, Tukul Arwana, Poppy Sovia, Dwi Sasono, Chintami Atmanegara, dan Tarzan
Skenario: Monty Tiwa
Genre: Komedi Romantis
Produksi: ISI Production
Foto-foto: ISI Production
Tora Sudiro dan Mpo Atik di salah satu adegan "Otomatis Romantis".
Otomatis Romantis punya cerita yang sejenis dengan film televisi Ujang Pantry, namun balutan budaya dalam komedinya membuat film ini lebih segar. Kehadiran Tukul, Tarzan, dan Tora Sudiro semakin menguatkan kesegaran komedi lokal ini.
untur Soeharjanto dan Monty Tiwa kembali berkolaborasi dalam Otomatis Romantis. Sebelumnya mereka pernah bekerja sama pada produksi film televisi Ujang Pantry tahun 2006. Dalam Otomatis Romantis, Guntur sebagai sutradara, sementara Monty menjadi produser sekaligus penulis skenario. Dalam kolaborasi ini, Guntur dan Monty menyuguhkan cerita yang mirip dengan film televisi itu. Kisah seorang bawahan yang menjalin hubungan dengan bosnya. Tentu saja, sang bos adalah wanita karier yang sedikit putus asa dengan perjalanan cintanya.
Nadia (Marsha Timothy), seorang wanita muda, cantik, dan sukses sebagai jurnalis di sebuah majalah wanita. Dia menduduki posisi sebagai pemimpin redaksi. Namun kesuksesan itu tidak selaras dengan kehidupan pribadinya. Nadia merasa dirinya tidak mampu menemukan pasangan yang ideal. Tak disangka, sosok Bambang Setiadi (Tora Sudiro), pria desa yang lugu, bersahaja, asli produk Yogyakarta, justru menyentuh relung hatinya yang terdalam.
Bambang adalah karyawan administrasi di penerbitan majalah itu. Bambang pernah bercita-cita menjadi seorang penulis, tetapi nasib berkata lain. Meski sudah merantau ke Jakarta, cita-citanya tetap di atas bintang. Nasib Bambang sedikit bercahaya ketika secara tidak sengaja dia menjadi model sebuah produk yang diiklankan dalam majalah itu. Pengiklan ternyata menyukai Bambang, sehingga ditunjuk menjadi model, selain juga bekerja di bagian administrasi.
Cerita yang diusung Monty Tiwa sangat ringan. Dia menyusupkan kisah-kisah yang dekat dengan realita di tengah masyarakat, seperti realita pernikahan. Orang tua Nadia (Tarzan dan Chintami Atmanegara), memaksanya untuk segera menikah, padahal Nadia merasa belum mendapatkan pasangan yang cocok. Ditambah lagi Nadia mengetahui sang kakak, Nabila (Wulan Guritno) berencana membubarkan penikahannya dengan sang suami, Dave. Pendirian Nadia untuk tidak menikah juga dikuatkan oleh sang adik, Nana (Poppy Sovia). Nana yang paling kecil masih senang berpacaran saja.
Di balik itu semua, Nadia menganggap wanita-wanita di keluarganya mendapat "kutukan". Menurut Nadia wanita-wanita dalam keluarga tidak mendapat pasangan yang setimpal.
"Coba lihat, kalau dipikir-pikir kita-kita ini bisa dibilang cantik, tapi lihat pasangannya," ujar Nadia.
Memang kisah dalam film ini menampilkan karakter fisik yang agak "tidak seimbang". Seperti Chintami yang dipasangkan dengan Tarzan, atau Poppy Sovia yang dipasangkan dengan Wifnu Wikana yang dalam film ini disebut "Si Beruk". Sementara itu Nabila (Wulan Guritno) bersuamikan Dave, yang diperankan oleh Tukul Arwana.
"Hal itulah yang memang ingin jadi salah satu kekuatan film ini. Ditambah lagi para pemain seperti Tukul atau Tarzan semakin menguatkan komedi lokal dalam film ini," ujar Monty Tiwa yang sebelumnya juga pernah mengemas komedi lokal dengan balutan budaya Batak dalam Maaf, Saya Menghamili Isteri Anda.
Bagi Monty, yang pernah menjadi produser, sutradara, dan penulis skenario, genre komedi lebih pas untuk dirinya. Komedi menurutnya memiliki keunggulan tersendiri untuk menyampaikan pesan pada penonton.
"Ada hal-hal yang mungkin sulit untuk disampaikan, tetapi dengan gaya humor hal itu akan lebih mudah diterima. Baik itu nasehat atau kritikan sekalipun. Saya merasa lebih punya kekuatan pada genre komedi ini," ujarnya.

Mogok
Kehadiran Tukul, Tora, dan Dwi Sasono, memang berhasil mengaburkan kesan melankolis yang biasa hadir dalam film-film romantis. Duet Tukul dan Tora Sudiro menghadirkan guyonan segar tanpa melepaskan gaya mereka di luar karakter film.
Tukul dengan citra ndeso-nya masih mampu menghadirkan humor di layar lebar. Mengandalkan gaya ndeso yang English, Tukul menghadirkan dialog-dialog yang segar. Memang tidak ada yang baru dari Tukul dalam film ini, tetapi justru kehadirannya dapat menghibur.
Para pemain berhasil menyuguhkan karakter dengan baik. Hanya Aurel (Hansel Batara) yang mungkin kurang menghidupkan suasana. Maklum saja Hansel yang berperan sebagai anak pasangan Dave dan Nabila belum genap berusia tiga tahun.
"Dia selalu mogok bicara kalau tingkahnya sedang direkam kamera, jadi kita harus berlagak santai dan buru-buru merekam aksinya begitu mau mengucapkan dialog," ujar Guntur.
Sementara itu, Dwi Sasono yang berperan sebagai Trisno, kakak Bambang, terpaksa harus sering berjemur agar kulitnya bertambah gelap. Otomatis Romantis memang menampilkan guyonan-guyonan yang segar. Film ini bahkan diharapkan dapat menyaingi film komedi yang tayang sebelumnya.
"Rencananya, kami akan putar serentak di delapan kota di Indonesia," tambah Monty. [SP/Kurniadi]