SUARA PEMBARUAN DAILY

Esai Foto, Rumit Namun Memikat

SP/Luther Ulag

Salah satu foto dari bagian esai foto menggambarkan seorang anak menyadap karet di perkebunan di Sumatera. Dalam Esai Foto, gambar harus mampu menggantikan kata-kata.

Cerita tentang ragam peristiwa dan pendapat, selain dalam bentuk tulisan, dapat pula kita saksikan dari esai foto. Namun sayang apresiasi kita terhadap esai foto masih kurang jika dibandingkan dengan esai tulisan. Ini dapat dimaklumi, sebab kehadiran esai foto yang terhitung masih baru di Indonesia. Tidak lebih dari sepuluh tahun terakhir saja. Gaya dan penyajiannya yang beragam dari masing-masing media, tak urung semakin membuat pembaca bingung.

Jika begitu, lantas mungkin Anda akan bertanya, "Apa sih sebenarnya esai foto itu?". Menurut pakar fotografi, Erik Prasetya, secara umum, sebuah esai foto tidak berbeda jauh dengan esai tulisan.

Hanya saja di sini yang menjadi media utama adalah foto. Dalam menyampaikan permasalahan yang diangkat, foto merupakan elemen utama, sementara naskah yang menyertai - bisa juga tanpa naskah - menjadi sekunder, atau hanya menjadi pelengkap sifatnya.

Karena elemen utamanya foto, maka konsekuensinya foto harus mampu menggantikan kata-kata. Sementara hal-hal yang tidak bisa digambarkan oleh foto, terungkap sebagai naskah atau caption.

Perbedaan esai foto dan tulisan terletak pada media yang dipilih untuk bertutur. Maka pada prinsipnya batasannya pun sama, batasan sebuah esai. Lalu apa sebenarnya esai itu? Menurut Ensiklopedia Britannica, esai adalah sebuah tulisan yang sedang panjangnya. Biasanya prosa yang mempersoalkan suatu persoalan secara mudah, sejauh persoalan tersebut merangsang hati penulisnya.

Dalam perumusan ini, esai bukanlah studi ilmiah yang kaku, lengkap dengan data teknis dan tanggung jawab ilmiahnya. Walaupun kedua-duanya sama-sama mengangkat sebuah persoalan, tapi pada esai hanya sejauh menarik minat penulisnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa esai adalah sebuah tulisan yang sangat pribadi sifatnya.

Arthur Christopher Benson dalam sebuah esainya yang berjudul The Art of The Essayist, menyatakan,"Seseorang tidak boleh mengharapkan keterangan atau pemecahan yang jelas dari sebuah esai tentang kehidupan yang kompleks." Esai memang tidak memecahkan persoalan, tapi melukiskannya. Atau tepatnya, esai melukiskan kehidupan sebagai fenomena kehidupan manusia, dalam aspek intelektual maupun emosionalnya.

Dalam keseharian kita meyakini sebuah kebenaran secara empiris, tanpa keinginan lebih jauh untuk membuktikan kebenaran tersebut secara teoritis. Dalam situasi ini tulisan berbentuk esai menjadi pilihan yang paling tepat. Karena tujuan esai adalah untuk memancing opini pembacanya.

Mesir Purba

Cara bercerita melalui gambar telah dikenal sejak masa Mesir Purba, yang ditorehkan pada dinding-dinding makam, sampai ke zaman modern macam komik Kungfu Boy.

Dalam fotografi, hal ini telah diawali oleh Mathew Brady, ketika ia merekam perang saudara Amerika, dan oleh Roger Fenton dalam perang Crimean pada akhir abad ke-18.

Seiring dengan ditemukannya teknologi half-tone (menggantikan wood-cut), yang memungkinkan foto bisa tampil lebih akurat dan cepat, esai foto mulai berkembang sebagai alternatif bagi cara bercerita. Pada awalnya, foto tampil hanya sebagai kumpulan foto yang tidak beraturan. Tak tersusun sehingga tak dapat bercerita secara runtut.

Keadaan ini berlangsung selama puluhan tahun. Barulah pada 1915, The Illustrated London News menampilkan Perang Dunia I dalam bentuk esai foto, dengan memperhitungkan tata letak (walaupun bentuknya seperti mosaik).

Hambatan terbesar pada waktu itu adalah peralatan kamera yang besar dan berat, serta berbukaan kecil, mengakibatkan sebagian besar foto yang tampil adalah foto serdadu mejeng.

Pada tahun 1925, ketika kamera format kecil ditemukan, dengan lensa yang mampu merekam lebih leluasa pada kondisi cahaya minim terbukalah kemungkinan untuk menampilkan aktivitas manusia seperti apa adanya. Fotografi candid pun mulai berkibar, tokohnya Erich Solomon. Untuk pertamakalinya potensi yang sebenarnya dari sebuah esai foto mulai dieksploitasi.

Adalah Munich Illustrated Press, sebuah majalah bergambar asal Jerman, yang menghadirkan atraksi sirkus dengan gaya laporan pandangan mata. Editor majalah tersebut, Stefan Lorant, menampilkannya sebagai esai foto, dengan memperhitungkan tata letak yang sangat apik. Kemudian berbagai kemungkinan terus dicobanya, dalam memanfaatkan tata letak dan pemilihan foto untuk mendapatkan impresi yang diinginkan.

Lorant bahkan memakai warna dasar hitam untuk menampilkan nuansa malam bagi esai foto karya Brassai, Midnight in Paris. Rekaman Brassai mulai dari monumen-monumen di Paris hingga penghibur night club, kafe sampai pemuda mabuk di trotoar. Satu persatu, foto demi foto, nuansa malam sebuah kota dibangun menjadi esai foto yang memikat.

Paling Rumit

Editor dan staf redaksi pada majalah Life, Maitland Edey dalam bukunya Great Photographic Essay from Life menyatakan bahwa esai foto merupakan bentuk yang paling rumit dan karena itu paling menantang dalam dunia fotografi. Pekerjaan ini melibatkan tidak hanya fotografer tapi sekaligus editor dan artis tata letak.

Dalam membangun sebuah esai foto, dibutuhkan seleksi dan pengaturan yang tepat, agar foto-foto tersebut mampu bercerita dalam satu tema. Masalah yang diangkat seyogyanya secara keseluruhan tampil lebih utuh, lebih dalam, lebih imajinatif, dan lebih menyentuh, dibandingkan dengan yang dapat dicapai oleh foto tunggal.

Subjek dalam esai foto sangat beragam pula: secara kronologis, tematik atau apa saja, esai bentuknya fleksibel, yang penting secara keseluruhan foto-foto tersebut saling memperkuat tema. Membentuk sinergi, penggabungan dua kekuatan atau lebih sedemikian rupa sehingga jumlahnya menjadi lebih besar daripada penjumlahan tiap bagiannya dalam menonjolkan tema.

Foto yang dipilih untuk menjadi esai foto harus disusun menjadi cerita yang mempunyai narasi atau plot line. Foto pertama haruslah memikat (eye catching) sehingga menarik minat pembaca untuk mengetahui kelanjutannya.

Selanjutnya foto-foto yang membangun badan cerita dan menggiring pemirsa ke foto puncak yang biasanya dipasang besar. Foto terakhir akan berfungsi sebagai pengikat, sekaligus memperluas kedalaman dan arti. Foto itu juga berfungsi sebagai penutup cerita, dan tak selalu dipasang besar. [Rony Simanjuntak]


Last modified: 11/1/08