'buatkan aku sajak cinta,' katamu
seketika aku termangu
kemana seribu yang telah kugubah
apakah menjadi bulir embun di pucuk daun
kau biarkan saja tertegun
tapi seperti biasa aku anggukkan saja
karena buatku itu ingin dan manja
padahal sederhana saja
aku mencintaimu karena dirimu
bukan soal inginkan permainan
pada rasa atau badai nafsu
sesederhana awan berarak pulang
dan dirimu yang menjadi bayang
'apakah cinta itu hanya kata-kata?'
tanyamu lagi tadi pagi
aku kembali terdiam
kuanggap kau bercanda seperti biasa
karena telah beribu kubisikkan
bahwa kaulah kata itu, yang menjelma puisi
maafkan aku tak bisa menulis sajak hari ini
sore, 26Nov07
*
dari dua belas purnama
tercipta sajak dan cerita
terselip di dedaunan
alam memeliharanya
dengan air kehidupan
kadang gemercik hujan
memberi basah pada kata
hingga matahari menjadikannya
sekering daun yang gugur
awan bertutur dengan lembut
tentang perjalanan sajak
dengan dingin mencipta gigil
dan gelombang menghentak
masih banyak purnama lagi
untuk mengukir cerita baru
bagi cinta yang biru
di ujung merahnya senja
yang merajut rindunya
omah, 24juni07
: indarti
lebih dari tujuh ratus purnama
lebih dari ribuan kisah
seperti katamu saat senja memeluk malam
'masa lalu adalah ibu dari segala kenangan'
sepeda tua yang basah dengan peluhmu
sudah tak ada lagi di rumah kita
tenggelam bersama kanak-kanakku
yang terenggut pusaran waktu
'tua hanya angka, bukan ukuran dewasa,' katamu kemarin
saat aku datang dengan mata lelah
kau basuh aku dengan tatapanmu
yang tak pernah berubah dari dulu
purnama itu masih ada
berpendar di wajahmu
bagai hari-hari lalu
dengan gelap dan terangnya
nanti aku akan datang lagi
memetik sehelai rambutmu
untuk temani langkahku kembali
susuri lorong hati yang makin letih
<em>siang, 25Nov07</em>
mungkin ada yang tahu namamu
juga tuturmu yang gulirkan embun-embun
mungkin ada yang mengerti
dan juga tak mau mencoba memahami
tapi aku tak peduli
aku hanya kaki lembah yang menyembah
memuja suaramu yang lelehkan muramnya cahaya
bukan puisi yang menaklukkanmu
karena penyairnya telah bersimpuh di bening matamu
ketika senyummu mengalir
sunyi yang sertai langkahku segera mencair
wangi melati kuhirup saat telusuri rambutmu
menjauhkan ribuan tanya yang sering mampir
mungkin tak ada yang melihat langit di wajahmu
dengan awan di rimbun alis mata
yang membuatku kembali menggenggam masa lalu
: lebur atas nama cinta
pagi, 27Nov07