SUARA PEMBARUAN DAILY

Sajak Johannes Sugianto

Tak Bisa Menulis Sajak Hari Ini

'buatkan aku sajak cinta,' katamu

seketika aku termangu

kemana seribu yang telah kugubah

apakah menjadi bulir embun di pucuk daun

kau biarkan saja tertegun

tapi seperti biasa aku anggukkan saja

karena buatku itu ingin dan manja

padahal sederhana saja

aku mencintaimu karena dirimu

bukan soal inginkan permainan

pada rasa atau badai nafsu

sesederhana awan berarak pulang

dan dirimu yang menjadi bayang

'apakah cinta itu hanya kata-kata?'

tanyamu lagi tadi pagi

aku kembali terdiam

kuanggap kau bercanda seperti biasa

karena telah beribu kubisikkan

bahwa kaulah kata itu, yang menjelma puisi

maafkan aku tak bisa menulis sajak hari ini

sore, 26Nov07

*

Tentang Perjalanan Sajak

dari dua belas purnama

tercipta sajak dan cerita

terselip di dedaunan

alam memeliharanya

dengan air kehidupan

kadang gemercik hujan

memberi basah pada kata

hingga matahari menjadikannya

sekering daun yang gugur

awan bertutur dengan lembut

tentang perjalanan sajak

dengan dingin mencipta gigil

dan gelombang menghentak

masih banyak purnama lagi

untuk mengukir cerita baru

bagi cinta yang biru

di ujung merahnya senja

yang merajut rindunya

omah, 24juni07

Masih Ada Purnama

: indarti

lebih dari tujuh ratus purnama

lebih dari ribuan kisah

seperti katamu saat senja memeluk malam

'masa lalu adalah ibu dari segala kenangan'

sepeda tua yang basah dengan peluhmu

sudah tak ada lagi di rumah kita

tenggelam bersama kanak-kanakku

yang terenggut pusaran waktu

'tua hanya angka, bukan ukuran dewasa,' katamu kemarin

saat aku datang dengan mata lelah

kau basuh aku dengan tatapanmu

yang tak pernah berubah dari dulu

purnama itu masih ada

berpendar di wajahmu

bagai hari-hari lalu

dengan gelap dan terangnya

nanti aku akan datang lagi

memetik sehelai rambutmu

untuk temani langkahku kembali

susuri lorong hati yang makin letih

<em>siang, 25Nov07</em>

Rahasia

mungkin ada yang tahu namamu

juga tuturmu yang gulirkan embun-embun

mungkin ada yang mengerti

dan juga tak mau mencoba memahami

tapi aku tak peduli

aku hanya kaki lembah yang menyembah

memuja suaramu yang lelehkan muramnya cahaya

bukan puisi yang menaklukkanmu

karena penyairnya telah bersimpuh di bening matamu

ketika senyummu mengalir

sunyi yang sertai langkahku segera mencair

wangi melati kuhirup saat telusuri rambutmu

menjauhkan ribuan tanya yang sering mampir

mungkin tak ada yang melihat langit di wajahmu

dengan awan di rimbun alis mata

yang membuatku kembali menggenggam masa lalu

: lebur atas nama cinta

pagi, 27Nov07


Last modified: 11/1/08