SUARA PEMBARUAN DAILY

Ba dan Kepala-kepalanya

Oleh M Arman AZ

Kamar belakang ibarat ruangan terasing dalam rumah kami. Sudah lama Ba menghuni kamar itu sendirian. Berjam-jam. Berhari-hari. Purnama demi purnama. Aku tak habis pikir bagaimana Ba bisa betah mengurung dalam kamarnya. Keluar cuma untuk makan, menyeduh kopi, atau ke WC. Tapi, apa pun yang Ba lakukan di dalam sana, itu lebih baik ketimbang dia gentayangan di luar rumah dan bikin ulah yang membuat kami malu.

Orang bilang Ba stres. Ah, tentu di belakangku mereka menempelkan telunjuk dengan posisi miring di dahi sambil mencibir bahwa Ba gila. Sepintas Ba nampak normal, tapi di waktu-waktu tak tentu, perilakunya berubah drastis. Ngoceh sendirian, merintih ketakutan, atau menatap hampa sambil meneteskan air mata. Mak yang cemas tidur sekamar dengan Ba, mengungsi ke kamar Ros. Setelah kakak sulungku itu menikah dan ikut suaminya ke Jawa, Mak sendirian menempati kamar tengah.

Perangai aneh Ba muncul beberapa tahun setelah pensiun. Awalnya, Ba mengaku mendengar rintih kesakitan dan suara besi di seret-seret di luar rumah. Suara sayup-sayup yang di dengarnya hampir tiap malam itu terbawa sampai ke alam mimpi. Dalam mimpinya, Ba melihat sekelompok orang berjalan tertatih-tatih di kejauhan dengan kaki di rantai satu sama lain. Pakaian mereka compang-camping penuh jejak darah kering. Aku cuma nyengir kuda mendengarnya. Ba kian tua kian pikun. Begitu mudah di tipu oleh telinga, mata, dan perasaannya sendiri.

Bagaimana bisa kulupakan awal aib kami? Petang itu Mak menjerit panik di trotoar. Aku menghambur keluar rumah. Telunjuk Mak menjelaskan padaku. Di ujung jalan kulihat Ba, berkain sarung dan kaus dalam, membubarkan sekelompok bocah yang sedang main perang-perangan. Ba menjumputi batu-batu lalu menimpuki mereka hingga kocar-kacir. Setengah berlari kuhampiri Ba. Diiringi tatapan dan gumaman orang-orang, kucengkeram lengannya kuat-kuat. Ba menggeram meronta saat kuseret pulang.

*

Waktu kecil, aku anak emas Ba. Dua kakakku, Ros dan Zul, cuma bisa cemburu melihat rasa sayang Ba yang berlebih padaku. "Anak bungsu yang manja!," gerutu mereka. Biasanya kubalas gerutuan itu dengan menjulurkan lidah atau menjulingkan mata. Hidup yang fana merubah segalanya. Merekalah yang kini lebih sayang pada Ba. Jika Zul mampir ke rumah sepulang dari kantor, dia pasti membawakan putu mayang atau serabi dengan kuah santan kental manis, penganan kesukaan Ba. Ros pun rajin interlokal. Menanyakan kabar Ba, ngobrol lama dengannya.

Sementara aku dan Ba persis dua orang asing di rumah sendiri. Jarang kami bertegur sapa. Kalau pun sempat terjadi percakapan, biasanya Ba yang memulai. Kalimatnya singkat, kaku, seperlunya saja, seperti "Belikan rokok!" atau "Kemana Makmu pergi?". Dan aku pasti buru-buru mengelak jika kebetulan mata kami bertemu. Bagai kulihat api di bola mata Ba. Mungkin Ba kesal karena kerap tak kuladeni. Atau, bisa jadi, karena dari tiga anaknya, akulah yang masih luntang-lantung hingga kini.

*

Ba pernah bertugas di sebuah kota, jauh di pulau seberang. Konon di sana ada gerombolan separatis yang ingin merdeka. Ba termasuk serdadu yang di kirim untuk memulihkan keamanan. Surat-surat Ba jadi obat rindu kami. Saat Mak membacakan surat itu, kami menyimaknya seperti mendengar dongeng sebelum tidur. Kagum campur cemas kami bayangkan Ba jalan kaki membelah lebat hutan dan lereng bukit, memburu para pemberontak. Iba kami bayangkan penduduk setempat yang ramah tapi dicekam ketakutan. Anehnya, Mak tak pernah mengizinkan kami membaca sendiri surat itu. Seperti ada yang dirahasiakan Mak dari kami. Entah apa.

Kami pangling kala Ba pulang. Sosoknya jauh beda di banding saat kami melepasnya pergi. Kulitnya legam. Tubuhnya liat kekar. Cenderung pendiam. Gerak gerik dan logatnya lucu. Yang membuat kami heran, jika terdengar suara keras sedikit saja, Ba pasti panik. Balon pecah, jerit bocah, raung motor, ketukan pintu, bahkan denting sendok jatuh ke lantai pun bisa membuat Ba kaget gelagapan. Kata Mak, Ba trauma. Suara-suara itu mengingatkan Ba pada desing peluru, ledakan granat atau dentuman mortir. Untuk melupakan semua itu, Ba butuh waktu.

Ah, waktu. Siapa bisa menerka perangai waktu? Perilaku aneh Ba justru kian parah. Sempat kupergoki Ba bicara pada batu-batu di belakang rumah. Diam-diam kusimak omongannya. "Lalu, orang-orang itu melompat keluar dari bak truk. Ada yang meratap minta ampun. Ada yang mengaku tahu apa-apa. Mereka di suruh berderet menghadap lubang besar. Begitu terdengar aba-aba, kami mulai pesta di bawah sinar purnama. Lolong anjing dan jerit serangga malam kontan berhenti mendengar rentetan peluru kami. Angin bau anyir darah dan mesiu, meniup tubuh-tubuh itu ke dalam lubang, di sambut mayat-mayat lain yang lebih dulu bertumpuk di dalamnya." Aku menelan ludah. Celoteh Ba itu, kenyataankah, atau hanya celoteh orang pikun?

Tahun-tahun belakangan, Ba punya mainan baru. Dia merasa ada kepala-kepala yang terbang berputar-putar dalam rumah. Sering kali Ba menghambur keluar dari kamarnya sambil menjerit histeris.

"Lihat itu! Lihat itu!" telunjuk Ba menuding langit-langit ruang tamu. Melompat-lompat dari satu sudut ke sudut lain.

"Ada apa, Ba?!" Mak cemas.

"Kepala-kepala itu terbang berputar-putar! Kepala-kepala penuh darah! Matanya marah! Usir mereka dari rumah ini!" Ba mengibas-ngibas kedua tangannya seolah menangkis serbuan tawon.

"Itu perintah! Aku cuma menjalankan perintah!" rintih Ba sambil jongkok mendekap lutut dan menyandarkan punggung di tembok. Tubuhnya menggigil. Wajahnya pucat pasi. Nafasnya acak-acakan. Aku dan Mak susah payah menenangkan Ba yang diganggu halusinasinya sendiri. Andai bisa kupinjam biji mata Ba untuk membuktikan apa yang dilihatnya.

*

Pernah saat Ba buang hajat, aku menyelinap masuk kamarnya. Memasuki ruang 3 x 3 meter di sisi kiri ruang makan itu serasa memasuki alam lain. Aku disambut bau apak. Jendela kamar Ba jarang dibuka. Neon 25 watt menyala 24 jam. Sprei dan sarung bantal sudah lama tak diganti. Lemari keropos di gerogoti rayap. Di atas meja ada setumpuk koran dan dua gelas bekas kopi. Laba-laba merajut sarang di sudut plafon. Almanak tahun lalu masih menempel di tembok, diapit dua pigura seukuran buku tulis. Sebelah kiri foto Ba berseragam dinas. Sebelah kanan foto kami sekeluarga.

Aku tergoda menggeledah isi lemari. Dulu, beberapa bulan sepulang Ba dari pulau seberang, aku dan Zul menemukan benda unik di dalamnya: kalung perak berhiaskan potongan kuping sebelah kiri. Kering, keras, warnanya cokelat kehitaman. Kami bergidik membayangkan nasib si empunya kuping. Apesnya, Ba menangkap basah kami yang terlampau berisik saat mereka-reka asal muasal kuping itu. Ba murka. Dua hari perih di pipi kami bekas tamparan Ba baru hilang. Mungkin kalung itu masih ada. Aku ingin melihatnya lagi. Namun niatku gagal. Begitu terdengar derit pintu WC dan suara batuk Ba, aku buru-buru keluar kamar.

Saat kami berembug mencari jalan keluar untuk mengobati sakit batin Ba, aku usul Ba di kirim ke RSJ saja. Ros marah. Dia menolak Ba diperlakukan seperti itu. Saking gusarnya, Ros menuduhku tak berbakti pada Ba. Aku tersinggung dan membela diri. Dia bisa bilang begitu karena tak lagi tinggal di rumah ini. Tak lagi dibuat pusing, was-was, dan malu dengan kelakuan Ba.

Zul coba menengahi. Ayah dua anak yang sering gugup saat bicara itu, usul agar Ba dibawa ke orang pintar. Kali ini aku yang gusar.

"Orang pintar zaman sekarang cuma kulitnya saja, Zul. Kemana-mana berkoar ikhlas menolong. Nyatanya, tak sesuai iklan. Jika tak blak-blakan minta uang, mereka pasti nyuruh beli ini itu. Dalihnya syarat pengobatan. Ujung-ujungnya keluar duit juga, kan?!"

Menumbur jalan buntu, kami serempak menoleh ke arah Mak, menyerahkan keputusan padanya. Mak yang sejak awal lebih banyak bungkam, berkata: "Seburuk apa pun jadinya, Mak ingin Ba tetap di sini. Di rumah ini. Mak masih sanggup merawatnya."

*

Sejak Ba jadi rahasia bersama di kampung kami, tetangga jarang datang ke rumah. Kerap kupergoki tetangga sedang menggunjingkan Ba. Kerap pula aku adu mulut sampai adu jotos dengan mereka.

Terakhir aku berkelahi dini hari lima bulan silam di gardu ronda. Di sela obrolan ngalor-ngidul, entah keceplosan atau tak sadar ada aku di dekatnya, tiba-tiba Mas Yus mencemooh Ba. Hatiku api. Kukepal tangan kanan kuat-kuat. Kujotos wajah mantu Pak RT itu. Belum puas, kuterjang dadanya hingga dia terjengkang. Mukanya mutung. Dia bangkit, pasang kuda-kuda, siap membalas. Lelaki-lelaki lain keburu melerai. Ada yang mendekapnya. Ada yang merangkul dan mengantarku pulang. Tiba di rumah, kuambil golok di dapur, kuselipkan di pinggang, lalu kembali ke gardu. Aku sudah gelap mata. Ingin kulihat dia mandi darah, sekaligus menjadikannya peringatan terakhir buat orang-orang yang suka menghina Ba. Tapi, setiba di sana, gardu sudah sepi. Orang-orang sudah bubar. Tinggal aku termangu sendirian.

Semua teman sudah kuwanti agar jangan sering ke rumah. Aku tak mau ketiban malu lagi seperti malam itu, ketika seorang teman lama datang. Kepala Ba menyembul dari balik pintu mirip kepala penyu keluar dari tempurungnya. Dugaanku bahwa Ba cuma mau melihat siapa yang ngobrol di teras ternyata salah. Ba mendekati temanku lalu menamparnya tanpa sebab. Kuseret Ba ke kamarnya. Malu bukan kepalang saat kujelaskan kondisi Ba pada temanku yang syok.

Menjelang pernikahan Ros dan Zul adalah saat-saat merisaukan kami. Betapa malu jika Ba kumat saat acara berlangsung. Demi mencegahnya, Mak menghubungi orang-orang yang disegani Ba. Untunglah kakak sulung Ba dan adik almarhum Kakek datang jauh-jauh hari. Mereka berduet menjaga Ba. Hasilnya mujarab. Dari akad sampai resepsi, Ba jadi anak manis. Tak muncul kelakuan anehnya. Kupikir kepala-kepala yang kerap mengusik Ba itu pun tak ingin melukai perasaan kami.

*

Sepulang pemakaman Ba, aku letih dan ingin sendiri. Sembunyi di kamar belakang, bekas istana Ba yang kini resik wangi melati. Duduk di tepi ranjang menghadap jendela yang terbuka lebar. Senja tumpah di langit. Kuingat lagi hari-hari terakhir bersama Ba. Di wajahnya terpahat hari-hari penuh duri. Tubuhnya menolak semua makanan yang masuk. Ba tak mau dibawa ke rumah sakit. Badannya menciut. Tulang belulangnya menyembul. Nafasnya tersengal-sengal. Kami pasrah.

Sempat kudengar bisik-bisik langu saat Ba kritis. Ada yang bilang Ba punya jimat atau susuk di badannya. Sebelum benda itu dilepas, Ba akan tetap tersiksa menunggu ajalnya tiba. Seorang tetua kampung dijemput. Beliau menyuruhku mencari daun kelor. Daun itu ditumbuk halus lalu diborehkan di perut dan punggung Ba. Tak sampai sejam kemudian, meninggallah Ba, mewariskan sederet pertanyaan tak terjawab.

Pahlawan atau pembunuhkah Ba? Berapa nyawa melayang di tangannya? Di mana kalung kuping itu? Di mana surat-surat Ba dulu? Benarkah ada jimat di tubuh Ba? Apa kaitannya dengan daun kelor itu?

Pintu terbuka. Mak masuk. Duduk di sampingku. Diam. Sunyi terasa menyakitkan. Kugenggam jemari tangan Mak. Kami saling tatap. Lewat bola mata sembab kuyu itu, aku melompat dan menyelam ke lubuk hatinya. Di dalam sana kutemukan sesuatu yang sulit kupahami. Sesuatu yang tak akan pernah bisa kumengerti.

"Apakah Mak bahagia?" Suaraku gamang. Mak terkesiap. Mendesah. Memalingkan wajah. Menyapukan pandangannya ke langit-langit kamar. Pertanyaan itu membuatku merasa bersalah. Mestinya kubiarkan saja sunyi menyakiti kami. Kuikuti apa yang barusan dilakukan Mak. Menyapukan pandanganku ke langit-langit kamar.

Ah, kepala-kepala yang terbang dalam rumah kami, di mana mereka kini berada?*

Catatan:

*) Ba adalah panggilan khas untuk Bapak, umumnya di wilayah Sumatera bagian selatan.


Last modified: 11/1/08