![]()
ANTARA/Eric Ireng
Beberapa bocah bermain di lokasi munculnya semburan baru berupa air di teras salah satu rumah warga di Pejarakan, Jabon, Porong, Jumat (11/1). Semburan air berwarna agak kekuningan tersebut, kadang mengeluarkan bau menyengat seperti gas.
[SIDOARJO] Semburan liar (bubble) ke-76 muncul di rumah Junaidi RT 1/RW 5 Kelurahan Pejarakan, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim), Jumat (11/1). Bubble tersebut akibat terjadi penurunan permukaan tanah di sekitar pusat semburan lumpur panas bercampur gas Lapindo.
Semburan itu dipastikan tidak mengandung gas berbahaya seperti hydrogen sulfide, tetapi mengandung gas mudah terbakar dengan persentase 3-5 persen. Meskipun demikian, warga di sekitar semburan liar diminta tidak menyalakan api, dikhawatirkan terbakar.
"Kandungan gas yang ke luar naik turun. Jika kandungannya naik, maka akan mudah terbakar," kata petugas Fergaco Indonesia, Dodi Ermawan, Jumat (11/1). Perusahaan tersebut dipercaya memantau gas di sekitar semburan lumpur.
Menurut Dodi, berdasarkan pemeriksaan timnya, gas yang ke luar tidak berbahaya jika dihirup manusia. Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pihaknya akan memasang pembatas untuk warga yang ingin melihat langsung. Upaya ini dilakukan, jangan sampai di antara mereka ada yang iseng menyalakan api.
Semburan liar merupakan dampak dari terjadinya penurunan tanah di sekitar pusat semburan. Penurunan tersebut kemudian menekan lapisan batu-batuan di perut bumi, yang berdampak pada ke luarnya air dari rongga-rongga perut bumi. Di antarnya ke luar dari sumur bor yang dimiliki warga.
Sebelum semburan liar ke-76 terjadi, bubble muncul di berbagai tempat dan sebagian besar ke luar dari sumur bor milik penduduk. Munculnya semburan liar selalu mendapat perhatian dari masyarakat yang ingin melihat langsung.
Belum Tuntas
Sementara itu, penyaluran Bantuan Presiden (Banpres) sebesar Rp 10 miliar, kepada korban semburan dan luberan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jatim, belum tuntas karena 960 dari 10.277 keluarga korban lumpur rekening bank mereka sudah mati.
Banpres sebesar itu digunakan untuk bantuan tunai langsung, setiap keluarga sebesar Rp 500.000. Selebihnya untuk bantuan nontunai berupa penguatan modal usaha, sosial keagamaan, dan diwujudkan dalam bentuk pelatihan berbagai keterampilan.
Kepala Badan Keluarga Berencana Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan Sidoarjo, Tri Ratih Agustina mengatakan, dari 960 keluarga yang belum menerima bantuan tunai, sebanyak 690 keluarga warga Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, yang mengungsi di Pasar Baru Porong. Sisanya 260 keluarga warga beberapa desa yang terkendala matinya rekening bank milik mereka.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyerahkan bantuan tunai secara simbolis ketika berkantor di Lanudal Juanda tiga hari pada Juli 2007. Kedatangan Kepala Negara untuk menyelesaikan kemelut terjadinya semburan dan luberan lumpur Lapindo tersebut.
Warga Renokenongo yang mengungsi di Pasar Baru Porong menyatakan, pihaknya belum pernah ditawari bantuan uang tunai Rp 500.000 per keluarga. Jika ada Banpres, itu amat membantu. Mereka berharap bantuan segera diberikan dan tidak ada kata terlambat. [080]