![]()
SP/Luther Ulag
Penjaga gawang Persija Pusat Jakarta, Evgeny Khmaruk gagal menghalau bola yang dilepaskan pemain Persipura Jayapura Albeto (kanan) pada semifinal Copa Dji Sam Soe 2007 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (10/1). Persipura menang 3-2.
[JAKARTA] Masih satu langkah lagi yang harus dilakukan pasukan "Mutiara Hitam" Persipura Jayapura untuk menjadi juara baru Copa Dji Sam Soe. Pada final di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (13/1), keindahan dan ketaktisan permainan juara Liga Indonesia 2005 ini akan ditantang "Laskar Wong Kito" Sriwijaya FC.
Namun sebenarnya, atmosfer juara sudah dilakukan para pendukung Persipura ketika tim kesayangannya ini mengalahkan "Macan Kemayoran" Persija Pusat 3-2 pada babak semifinal di tempat yang sama, Kamis (10/1). Di pertandingan kedua, melalui pertarungan yang membosankan, Sriwijaya menyingkirkan Pelita Jaya Purwakarta dengan skor 6-5 melalui adu penalti setelah selama 120 menit pertandingan kedua tim bermain imbang tanpa gol.
Kemenangan Persipura atas Persija itu mendapat sambutan luar biasa dari sekitar 1.000 pendukung mereka. Begitu wasit Purwanto menghentikan pertandingan, para pendukung Persipura yang semula disibukkan oleh ulah tidak sportif pendukung Persija atau Jakmania di sektor 17, 18, dan 19, menyeruak masuk ke tengah lapangan dengan menjebol pagar pembatas.
Di atas lapangan hijau, selain menari-nari menyambut kemenangan Eduard Ivakdalam dan kawan-kawan, sebagian pendukung, ada juga yang memakai pakaian adat, melakukan atraksi salto berkali-kali di atas lapangan hijau. Sebagian lagi, berfoto bersama rekan dan kerabat. Yang jelas, suasana juara benar-benar kental tergambarkan.
Jika melihat permainan yang ditampilkan pasukan yang diarsiteki pelatih asal Malaysia, Raja Isa ini, Persipura layak untuk menjadi juara. Meskipun bermain di bawah tekanan sekitar 50.000 pendukung Persija, kuatnya mental bermain pasukan Persipura membuat teriakan-teriakan atau yel-yel Jakmania, menjadi tidak ada artinya.
Gara-gara Jakmania
Bahkan, teriakan-teriakan Jakmania yang membahana di seluruh sudut stadion itulah yang menjadi salah satu faktor kekalahan Persija. "Para pemain bermain di luar koordinasi pelatih. Dan, kami tidak bisa melakukan itu di saat pertandingan berlangsung karena stadion terlalu berisik oleh teriakan-teriakan Jakmania," kata asisten pelatih Persija, Isman Jasulmei.
Bukan hanya dukungan Jakmania yang dinilai Isman mengganggu kinerja pelatih di saat sedang bekerja, tetapi kemalasan para pemain Persija juga menjadi dasar lahirnya tiga gol Persipura yang dilancarkan melalui serangan baliknya yang cepat, akurat, dan indah.
Dengan mengubah pola dari 4-4-2 yang biasanya menjadi andalan Persija menjadi 3-5-2, kata Isman, diharapkan Persija bisa menguasai sektor tengah. Akan tetapi, justru hal yang bertolak belakang terjadi. Selain sektor tengah gagal menguasai lapangan vital ini, para pemain belakang Persija juga sudah malam turun setelah gagal menyerang.
Sepertinya bukan terlalu percaya diri yang menyebabkan Persija tidak mampu memperagakan permainan terbaik mereka. Faktor antiklimaks menjadi jawaban yang tepat atas hancurnya ambisi Persija untuk menjadi juara.
Persija sempat menyengat lebih dahulu lewat gol yang dicetak Bambang Pamungkas. Ia mencetak gol melalui sontekannya yang memanfaatkan umpan Atep, setelah sebelumnya sundulannya mampu dibendung kiper Jendri Pitoy menit ke-29.
Dua puluh detik kemudian, Persipura berhasil membuat gol balasan yang dicetak pemain asal Brasil, Albeto Gonchalvez melalui tendangannya dari sektor kiri pertahanan lawan memanfaatkan umpan silang Ernest Jeremiah.
Ini merupakan satu dari tiga gol yang dicetak Albeto dalam pertandingan itu. Dua gol yang melengkapi hat-trick-nya dia jaringkan pada injury time babak pertama dan menit ke-54. Satu gol Persija lainnya dicetak Hamka Hamzah di menit ke-63.
Dalam pertandingan kedua, Pelita Jaya membuktikan sebagai tim "kuda hitam". Tim asuhan Fandi Ahmad ini memaksa Sriwijaya harus bermain lewat duel penalti. Meski kalah 5-6, Fandi merasa menang.
Saat drama penalti terjadi, dari enam penendang Pelita Jaya, dua di antaranya gagal, yaitu Ardan Aras dan Lois Vagner. Tendangan mereka berhasil diblok kiper Ferry Rotinsulu. Satu pemain Sriwijaya yang gagal mengeksekusi penalti adalah Christian Lenglolo yang tendangannya melambung. [F-4]