[JAKARTA] Selagi puluhan ribu orang memusatkan perhatian di tengah lapangan hijau, menikmati pertandingan menarik dan menegangkan semifinal Copa Dji Sam Soe antara Persipura Jayapura versus Persija Pusat di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis (10/1), para penonton yang berada di sektor 17, 18. dan 19, malah sibuk sendiri.
Sektor tersebut, yang ditempati sekitar 1.000 pendukung Persipura dan 500 pendukung Sriwijaya FC, menjadi bulan-bulanan tindakan tidak senonoh yang dilakukan pendukung Persija yang dikenal dengan sebutan Jakmania.
Selain melempari botol minuman mineral yang berisi air seni dan batu, sektor 17, 18, dan 19, juga menjadi sasaran tembak Jakmania dengan senjata petasannya. Ulah itu membuat sebagian besar pendukung Persipura berlari ke tribun atas yang ditutupi alas tribun rata-rata di atasnya agar tidak menjadi korban pelemparan.
Ada juga para pendukung Persipura yang tetap di posisinya, meskipun keinginan mereka untuk menyaksikan pertandingan sangat terusik. Akibat ulah Jakmania yang duduk di tribun rata-rata tepat di atas sektor 17, 18, dan 19 tersebut, memicu kerusuhan. Bukan saja saling ejek, tetapi, baku hantam pun terjadi.
Sebagian pendukung Persipura yang tidak menerima diperlakukan seperti itu, berlari meninggalkan sektornya untuk menghampiri sektor 14, 15, dan 16, yang menjadi salah satu basis tribun Jakmania. Di sektor itu, sebanyak 10 orang lebih pendukung Persipura dengan beraninya baku hantam dengan Jakmania.
Kerusuhan itu berlangsung sejalan dengan berlangsungnya pertandingan. Bahkan, ketika pertandingan usai. Pengerusakan fasilitas stadion pun dilakukan pendukung kedua tim, seperti merusak bangku tribun yang terbuat dari kayu.
Seusai pertandingan, keributan berlanjut. Kali ini, bukan antara pendukung Persipura dengan Jakmania, tetapi antara pendukung Persipura dengan pendukung Sriwijaya FC. Pemicunya adalah pelemparan yang dilakukan pendukung Sriwijaya terhadap pendukung Persipura yang sedang menyeruak ke tengah lapangan hijau dengan cara menjebol pagar besi.
Belum jelas berapa kerugian yang diderita atas insiden ini. Yang jelas, apa yang terjadi sektor 17, 18, dan 19 tersebut harus dikatakan sebagai sesuatu yang "wajar" dalam persepakbolaan di Indonesia. [F-4]