SUARA PEMBARUAN DAILY

Ratusan Nelayan Cilacap Tak Melaut

[CILACAP] Gelombang tinggi yang berlangsung sejak dua pekan lalu sampai saat ini, mengakibatkan ratusan kapal penangkap ikan milik nelayan Cilacap, Jawa Tengah, tidak berani melaut dan ditambatkan di dermaga-dermaga Kaliyasa dan dermaga lain di sekitar Pantai Teluk Penyu.

"Banyaknya nelayan yang tidak melaut ini, membuat potensi pendapatan nelayan hilang sampai Rp 10 miliar," kata Kepala Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC), J Silaen, di Ci- lacap, Jumat (11/1) pagi.

Menurut Silaen, dampak itu terasa sejak akhir 2007. Produksi ikan tuna biasanya mencapai 500 ton. Sejak terjadinya gelombang tinggi, terjadi penurunan drastis menjadi hanya 50 sampai 60 ton.

"Harga ikan tuna saat ini cukup tinggi, di pasaran mencapai Rp 80.000 per kilogram (kg). Ini benar-benar menghilangkan potensi pendapatan nelayan," katanya.

Saat ini, ikan tuna sedang muncul di perairan Cilacap sampai Pelabuhan Ratu. Banyaknya nelayan Cilacap yang tidak melaut, jelas menguntungkan nelayan di daerah lain. Padahal menurut informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Cilacap, angin kencang dan gelombang tinggi itu masih akan berlangsung sampai bulan Maret mendatang.

Suprihadi (27) nelayan warga Telukpenyu, Cilacap Selatan menuturkan, ia memilih tidak melaut dan tinggal di rumah bersama keluarga seorang istri dan dua anaknya yang masih kecil-kecil. Kalau dipaksa melaut juga hasilnya belum tentu dapat, dan nyawa menjadi taruhannya.

"Korban nelayan yang hilang atau tewas sudah cukup banyak. Masa saya harus ikut menjadi korban?" katanya ketika ditanya alasan tidak melaut.

Ia memilih beralih profesi sebagai pedagang pakaian keliling, untuk menghidupi anak dan istri. Barang dagangan berupa kain celana pendek pria dan kaus santai serta pakaian lain, diambil dari juragan di Pasar Gede Cilacap.

"Setiap hari saya setor hasil jualan pakaian ke juragan, sambil mengambil barang lagi," katanya.

Dengan demikian, dia bisa memperoleh uang antara Rp 25.000 sampai Rp 40.000 per hari. Dari uang inilah dia bisa menghupi anak istrinya selama tidak melaut. Kalau melaut pendapatannya lebih besar dari itu. Bisa menjadi dua atau tiga kali lipatnya.

Sayuran Mahal

Sementara itu, pedagang sayur di Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung, Liani mengatakan, beberapa sayuran seperti kol, tomat, labu siam, kembang kol yang terlambat datang dari Palembang, Sumatera Selatan, mengakibatkan pedagang kehabisan stok. Hal ini karena kapal cepat yang biasa membawa sayur dari Palembang ke Muntok, sementara waktu tidak diizinkan berlayar karena gelombang tinggi.

Sayuran seperti kol dan tomat sudah bisa masuk, harganya naik. Sayur kol yang biasanya dijual dengan harga Rp 7.000 per kilogram (kg), sekarang menjadi Rp 10.000 per kg. "Kenaikan harga ini disebabkan ongkos angkutnya mengalami kenaikan karena sayur-mayur terpaksa diangkut mengunakan boat yang sewanya lebih mahal," katanya.

Hasani, Mualim Satu KM Sumber Bangka Enam mengatakan, sejak sepekan terakhir gelombang di Selat Bangka lumayan tinggi hingga mencapai dua meter. Besarnya gelombang ini menyebabkan waktu tempuh pelayaran terlambat. Biasanya waktu tempuh Muntok ke Palembang memakan waktu selama dua setengah jam, sekarang bisa mencapai tiga jam.

"Itu pun patut kita syukuri karena sampai saat ini kita masih bisa mengangkut penumpang, namun kita berharap angin kencang ini bisa segara berakhir. Karena cuaca sekarang tidak bisa kita prediksi. Kalau menurut kebiasaan bila sudah habis Imlek, angin sudah kembali normal. Tapi sekarang tidak bisa dibuat patokan," jelasnya.

Administrator Pelabuhan (Adpel) Muntok, Hermanto mengatakan, untuk menjaga keselamatan pelayaran pihak Adpel di seluruh Indonesia berdasarkan surat dari Dirjen Perhubungan Laut, selalu melakukan koordinasi dengan para nahkoda dan pemilik kapal tentang adanya ombak tinggi sewaktu-waktu yang selalu berubah-ubah terutama di Laut Cina, Laut Jawa, Laut Berhala, Laut Sulawesi, dan Laut Arafuru. [WMO/055]


Last modified: 11/1/08