SUARA PEMBARUAN DAILY

Seberapa Lama Bertahan dengan Alat Pacu Jantung?

Didit Majalolo

Mantan Presiden Soeharto didampingi putrinya Siti Hardiyanti dibawa dengan tempat tidur yang dilengkapi dengan berbagai peralatan medis di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, Selasa (8/1).

Apakah alat pacu jantung itu? Tetapi setelah tahu apa alat ini, mungkin pertanyaan berikutnya adalah seberapa lamakah orang yang menggunakan atau dipasangi alat itu bisa bertahan hidup?

Pertanyaan ini mungkin tidak menarik, tetapi ketika berita tentang kondisi mantan Presiden Soeharto yang terus menurun akibat penumpukan cairan di seluruh tubuh dan kerusakan jantung yang dideritanya, ada juga masyarakat awam yang penasaran dengan alat ini. Lalu mengapa Soeharto harus menggunakan alat pacu jantung?

Tim dokter kepresidenan menemukan ketidaksinkronan kerja jantung bilik kiri dan kanan mantan penguasa Orde Baru itu. Karena itu, tim dokter kepresidenan memutuskan melakukan pemasangan alat pacu jantung di tubuh Soeharto.

Alat pacu jantung yang disebut juga Cardiac Resynchronization Therapy (CRT) itu rencananya akan dipasang pada bilik kiri jantung mantan orang nomor satu Indonesia itu. Tetapi, hingga Jumat (11/1) alat itu belum dipasang, karena kondisi kesehatan Soeharto belum memungkinkan pemasangan.

Sebelumnya, pada Tahun 2001 salah satu anggota tim dokter kepresiden dr Muhammad Munawar SpJP juga telah memasang alat pacu jantung pada bilik kanan jantung mantan Presiden yang pernah berkuasa selama 32 tahun di Indonesia itu. Berbeda dengan alat pacu jantung biasa, CRT bukan untuk memacu kerja jantung, tetapi mengharmonisasikan gerak jantung kiri dan kanan.

Mengatur Denyut

Alat pacu jantung adalah alat medis yang didesain untuk mengatur denyut jantung. Alat ini digunakan bila sel pacu jantung tidak cukup cepat atau bila ada penyumbatan dalam sistem penghantar listrik yang menghalangi penghantaran sinyal listrik.

Alat pacu jantung di luar tubuh pertama dibuat oleh John Hopps pada tahun 1950. Menurut catatan, alat di luar tubuh ini sangat ruwet dan mengesankan betapa sengsaranya orang yang menggunakannya.

Pada tahun 1958 tim dokter di Swedia mendesain alat pacu yang dapat diimplantasikan dalam tubuh walaupun hanya dapat bertahan tiga jam. Namun, sejak saat itu, alat ini berkembang pesat, dan dengan alat pacu jantung ini, orang yang menggunakannya dapat bertahan hidup berpuluh-puluh tahun.
Bagian utama dari alat pacu adalah baterai, yang kembali sangat berhubungan dengan elektrokimia. Alat pacu jantung kini biasanya diberi tenaga oleh baterai "kancing" litium-perak kromat, yang memiliki potensial 3,5 V. Baterai ini mampu bertahan beberapa lama.

Awalnya baterai yang digunakan untuk alat pacu jantung adalah baterai yang dapat diisi ulang. Jadi secara berkala orang yang menggunakan alat pacu seolah diisi ulang.

Pemasangan alat pacu jantung yang merupakan generator, kabel dan elektrodanya dilakukan dengan dimasukkan melalui pembuluh darah balik (vena) yang terletak di bawah tulang selangka kanan atau kiri, sampai masuk ke dalam atrium kanan lalu ventrikel kanan dan ujung eletroda dibiarkan menempel pada dinding dalam ventrikel kanan.
Selanjutnya generator difiksasi di antara lapisan otot dan lemak dada kanan atau kiri atas dan setelah kabel dihubungkan dengan generator dan alat berfungsi baik, luka ditutup kembali.

Operasi pemasangan pacu jantung dilakukan oleh dokter ahli kardio- logi. Pemasangan alat pacu jantung disesuaikan dengan keluhan, gejala, penyakit yang diderita, usia dan aktivitas. Pada prinsipnya, alat pacu jantung dapat menyesuaikan dengan aktivitas lebih baik daripada yang statis.

Ahli Jantung dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Budhi Setianto, mengungkapkan alat pacu jantung berfungsi mempertahankan denyut jantung agar ada harmoni antara serambi dan bilik jantung. Alat itu dipasang dalam tubuh manusia, jika seseorang yang menderita penyakit jantung.

"Jika ada kelainan di jalur listrik atau generator dalam tubuh maka harus menggunakan alat pacu jantung permanent," katanya di Jakarta Rabu (9/1).

Menurut Budhi, ada dua jenis alat pacu jantung yaitu alat pacu jantung temporer dan permanen. "Alat pacu jantung permanen juga harus dipasang di bilik kiri dan kanan supaya terjadi sinkronisasi antara bilik kiri dan kanan," lanjutnya.

Dikatakan, alat pacu jantung temporer generatornya berada di luar tubuh sedangkan pacu jantung permanen generatornya ditanam di dalam tubuh. Alat pacu jantung permanen bisa bertahan sampai sepuluh tahun dalam tubuh manusia, sehingga alat pacu jantung dapat membantu orang untuk bertahan hidup berpuluh-puluh tahun.

Budhi mengatakan alat pacu jantung dapat mengalami ganguan jika terjadi kerusakan pada alatnya atau ganguan pada aliran listriknya. "Seperti baterainya rusak, kabel listriknya rusak terkena cairan tubuh dan pemasangan alat pacu jantung tidak melekat dengan jantung pasien," paparnya. [DLS/M-15]


Last modified: 10/1/08