[YERUSALEM] Presiden AS George W Bush, dalam sebuah pernyataan, Kamis (10/1), memprediksikan kesepakatan damai Timur Tengah dapat ditandatangani dalam kurun waktu satu tahun. Bush juga menyerukan segera diakhiri pendudukan Israel di Tanah Palestina yang sudah berlangsung selama empat dekade. "Ini waktunya bagi dua belah pihak untuk membuat 'pilihan-pilihan sulit' agar perdamaian dapat menjadi kenyataan, serta memungkinkan terbentuknya Negara Palestina yang berdaulat," ungkap Bush dalam konferensi pers di penghujung dua hari perundingannya bersama para pemimpin Israel dan Palestina.
"Pendudukan yang dimulai tahun 1967 harus diakhiri," ungkap Bush dalam perjalanan pulang ke Yerusalem seusai berkunjung ke Tepi Barat untuk pertama kalinya, kemarin. Di Ramallah, Tepi Barat, Bush menggelar sejumlah perundingan dengan Presiden Palestina Mahmud Abbas. Bush lebih jauh mengatakan, "Kesepakatan damai harus dapat membentuk negara Palestina sebagai tanah air bagi rakyat Palestina, sama halnya Israel sebagai tanah air bagi warga Yahudi."
Setelah mengakhiri kunjungan ke Israel dan Palestina, Bush bertolak menuju negara-negara sekutu Washington di Teluk, Jumat (11/1). "Negara-negara Arab harus dapat mengulurkan tangan ke Israel, sebuah langkah yang dinanti-nantikan sejak lama," kata Bush.
Bush berada di Timur Tengah dengan membawa sejumlah harapan untuk dapat membukukan kemenangan kebijakan luar negeri dia sebelum meninggalkan Gedung Putih pada bulan Januari 2009, setelah beberapa pemerintahan AS sebelumnya berkali-kali gagal menjembatani perdamaian Israel-Palestina.
Bush berupaya menghidupkan kembali perundingan damai Israel-Palestina yang sudah disepakati pada konferensi internasional untuk perdamaian Timur Tengah usulan AS yang diselenggarakan di Annapolis, Maryland, 27 November 2007. Meskipun sudah disepakati bersama, perundingan damai ternyata tak dapat terlaksana kembali, akibat perselisihan yang dipicu berlanjutnya perluasan pembangunan permukiman Israel di wilayah-wilayah Palestina, serta kekerasan Israel-Palestina yang tidak kunjung mereda.
"Saya yakin perundingan damai dapat terwujud. Kesepakatan damai akan sudah ditandatangani pada saat saya meninggalkan Gedung Putih," kata Bush di Ramallah. "Berdirinya Negara Palestina yang berdaulat sudah dinanti-nantikan sejak lama. Rakyat Palestina pantas mendapatkannya. Tidak hanya akan mendorong terciptanya stabilitas di kawasan, berdirinya Negara Palestina juga akan berkontribusi pada keamanan rakyat Israel," Bush menandaskan. Tetapi, Bush juga memperingatkan, "Keamanan adalah persoalan fundamental. Tidak akan ada kesepakatan damai dan tidak akan ada Negara Palestina yang dilahirkan dari teror. Saya menegaskan kembali komitmen kuat Amerika terhadap keamanan Israel." Pernyataan Bush tersebut jelas ditujukan pada Hamas, gerakan Islam di Palestina yang cenderung beraliran garis keras. Hamas mengambil alih kendali atas Jalur Gaza tujuh bulan lalu, sehingga memecah wilayah Palestina menjadi dua entitas berbeda sekaligus menyulitkan upaya penciptaan perdamaian di kawasan tersebut.
"Mewujudkan sebuah kesepakatan damai akan membutuhkan konsesi-konsesi politik yang sangat menyakitkan bagi dua belah pihak," kata Bush mengingatkan. Sebelumnya, Bush pernah mengimbau Israel untuk mengakhiri pendudukan Israel di Tanah Palestina pada bulan Juni 2002. Tetapi, pernyataan Bush pada hari Kamis, membawa gema khusus, terkait waktu dan tempat disampaikannya seruan tersebut.
Seorang pejabat senior Israel menyambut baik komentar-komentar Bush. "Pernyataan Bush merefleksikan sebuah solusi yang dengan senang hati disambut Israel," kata pejabat yang tidak bersedia disebutkan identitasnya. Juru bicara Abbas, Nabil Abu Rudeina mengatakan, seruan Bush agar segera diakhirinya pendudukan adalah "langkah pertama menuju perdamaian yang nyata". Nabil mengimbuhkan, Israel harus memahami bahwa permukiman-permukiman Israel di wilayah Palestina adalah ilegal.
Masih Terganjal
Kendati Abbas maupun Olmert bersepakat, menjelang kunjungan Bush, untuk memulai pembahasan penyelesaian isu-isu tersulit dalam konflik Israel-Palestina, seperti nasib pengungsi Palestina, status Yerusalem, hingga masalah batas-batas wilayah yang akan menjadi negara Palestina, tetapi pembicaraan sejauh ini masih terganjal.
Dalam pernyataan kemarin, Bush mengatakan, sebagai bagian upaya untuk menciptakan Negara Palestina yang berdaulat, mekanisme-mekanisme baru untuk menyelesaikan isu pengungsi Palestina harus diciptakan. Bush menghadapi tugas sulit untuk memenangkan hati dan pikiran rakyat Palestina, yang saat ini benar-benar skeptis tentang kemampuan Presiden AS itu untuk menjadi perantara perdamaian yang adil, di mana pada saat yang sama Bush bersekutu dekat dengan Israel.
Sejak perundingan damai berlanjut pada bulan November di Annapolis, sekitar 100 warga Palestina telah tewas akibat serangan-serangan Israel di Gaza yang dilakukan dengan dalih untuk menahan serangan roket militan. Tetapi, Israel pada hari Kamis (10/1) mengumumkan pencabutan sementara sanksi pemutusan suplai bahan bakar ke Gaza yang diberlakukan di wilayah kekuasaan Hamas yang dicengkeram kemiskinan, pada November 2007.
Jam malam ketat diberlakukan di Ramallah selama kunjungan Bush. Pasukan keamanan membubarkan demonstran memakai pentungan dan gas air mata. Sekitar 200 demonstran ditangkap ketika sedang menggelar unjuk rasa sembari meneriakkan yel-yel "Bush Penjahat Perang!" dan "Keluar Bush!"
Rangkaian perundingan Bush-Abbas digelar di kompleks Pemerintahan Palestina di Muqata yang pernah dihancurkan Israel dalam pengepungan terhadap pemimpin Palestina Yasser Arafat. [AFP/E-9]