![]()
SP/Ignatius Liliek
Barisan Prajurit Ganesha atau pasukan gajah mengawali arak-arakan pada kirab seni dan budaya malam 1 Suro atau peringatan Tahun Baru Islam di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (9/1). Kirab Budaya yang diikuti oleh seniman, paranormal, prajurit ke kraton serta forum silaturahmi sultan nusantara ini diisi dengan arak-arakan pusaka dan pertunjukan kesenian.
erayaan Kirab dan Selamatan Agung malam 1 Sura 1941, yang berlangsung pada Rabu (9/1) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dihadiri oleh 104 raja, sultan, dan pemangku adat dari berbagai kerajaan dan keraton di Nusantara. Acara tersebut juga dihadiri anggota Forum Komunikasi Paranormal dan Penyembuhan Alternatif Indonesia (FKPPAI).
Kehadiran para pemimpin kerajaan dan keraton dari seluruh Nusantara tersebut merupakan wujud dari kebersamaan, yang bertujuan mendoakan Indonesia yang sering mengalami bencana.
Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan disusul beberapa sambutan. Sambutan dari Forum Silaturahmi Keraton se-Nusantara disampaikan oleh Raja Denpasar, Ida Tjokorda Ngurah Jambe Pemecutan.
Dalam pidatonya, Ida mengatakan, para raja, sultan, dan pemangku adat menginginkan terjadinya kesucian, keagungan, dan keselamatan di Nusantara.
Di sela-sela pidatonya, dia mengajak seluruh hadirin untuk mendoakan kondisi kesehatan mantan Presiden Indonesia Soeharto.
Sementara, sambutan dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata disampaikan Dirjen Nilai Budaya, Seni, dan Film, Mukhlis Paeni. Menurutnya, Tahun Jawa pada hakikatnya adalah waktu untuk merenungkan, mengevaluasi, dan introspeksi terhadap segala perbuatan yang pernah dilakukan. Hal itu kemudian dijadikan cermin untuk berpijak dalam menjalani kehidupan selanjutnya.
Mukhlis menambahkan, bangsa Indonesia yang masyarakatnya majemuk dan multikultural menghadapi berbagai perubahan sosio kultural yang menyeluruh karena kontak budaya dan proses industrialisasi dan modernisasi. Dia berharap agar globalisasi tidak melunturkan jati diri dan identitas bangsa.
"Perayaan 1 Sura adalah sebuah tradisi ritual yang memiliki makna kearifan yang luar biasa. Mengenai bencana yang terjadi di Indonesia, hal tersebut merupakan isyarat dari Tuhan bagi bangsa Indonesia untuk berintrospeksi," ujar Mukhlis setelah pelaksanaan pelepasan barisan Kirab.
Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan doa bersama. Pembacaan doa dilakukan oleh perwakilan tokoh-tokoh agama Hindu, Buddha, Islam, dan Nasrani, serta tokoh penghayat kepercayaan.
Dalam pelaksanaan acara Selamatan Agung tersebut ditampilkan tarian Bedoyo Maha Kala Warana Sraya. Tarian tersebut merupakan tari ritual yang berisi permohonan pada Tuhan agar terhindar dari malapetaka. Tarian tersebut diadakan berkaitan dengan bencana yang akhir-akhir ini terjadi secara beruntun di Indonesia.
Tarian Maha Kala Warana Sraya tersebut dibawakan oleh sembilan penari. Sembilan penari menggambarkan energi Mantra Rajah Kalacakra, yang bergerak Menari dan Makarti. Hal itu ditujukan untuk membuat keseimbangan ekosistem pada kehidupan universal. Sementara, terdapat delapan Dwijawara yang merupakan ujung tomba, yang melambangkan energi Rajah Kolocokro selalu Samadhi-Tafakur dalam pengabdian yang tulus demi harmonisasi kehidupan jagat raya.
Kirab Pusaka
Dalam peringatan Satu Sura Selamatan Agung juga diadakan Kirab, yang berlangsung di jalan-jalan di lingkungan TMII. Sebelum Kirab berlangsung, dilakukan penyerahan Pusaka Majapahit dari Mukhlis Paeni pada Subamanggala, selaku pimpinan Kirab. Kirab dilakukan dengan membawa pusaka dan tumpeng yang dibawa oleh berbagai kelompok.
Susunan barisan Kirab diawali dengan barisan prajurit, pusaka keraton, dan barisan raja dan sultan. Sebagai pembuka jalan adalah dua ekor gajah atau disebut dengan pasukan Ganesha. Kemudian diikuti penolak bala, subamanggala dan manggalayuda, dupa wangi dan sesaji, barisan prajurit Keraton, Pusaka Keraton Surakarta Hadiningrat, dan barisan Raja/Sultan se-Nusantara.
Kirab tersebut juga diikuti oleh barisan pembawa tumpeng. Tumpeng berasal dari direktorat kepercayaan, organisasi penghayat, serta berbagai kelompok lain, termasuk juga FKPPAI. Sementara di barisan akhir terdiri dari barisan kesenian anjungan daerah, serta kesenian Reog Ponorogo. Setelah proses Kirab, acara dilanjutkan dengan Kembul Bujono, yaitu makan bersama. Selama acara tersebut berlangsung, ditampilkan kesenian Sintren dan Beluk yang merupakan persembahan dari Forum Silaturahmi Keraton se-Nusantara. Acara di Sasono Utomo TMII diakhiri dengan pemberian penghargaan dari FKPPAI kepada tokoh-tokoh masyarakat. [DMP/N-4]