SUARA PEMBARUAN DAILY

Ungkapkan Resolusi Tahun Baru dengan Daruma

foto-foto: SP/Ignatius Liliek

Sejumlah peserta menyelesaikan pembuatan boneka Daruma pada workshop pembuatan boneka daruma di Japan Foundation, Jakarta, Selasa (8/1). Daruma berasal dari kata Boodhisatva atau Buddha yang juga berarti darma. Boneka daruma adalah boneka yang mempunyai visi darma bagi pembuatnya karena dibentuk berdasarkan tujuan dari penciptanya.

Memasuki Tahun Baru 2008, banyak orang menyatakan resolusi untuk dicapai di akhir tahun. Resolusi diungkapkan dengan berbagai cara. Boneka Jepang, Daruma, pun dapat menguji seberapa jauh resolusi dapat tercapai.

Daruma adalah boneka asal Jepang yang sekaligus berfungsi sebagai mainan. Di tempat asalnya, boneka ini dipercaya dapat membawa keberuntungan dan lambang harapan yang belum tercapai. Selama Desember 2007 hingga Januari 2008, Japan Foundation Jakarta menggelar sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan Jepang. Salah satu acaranya adalah lokakarya yang memperkenalkan cara pembuatan Daruma.

"Kalau di sini (workshop) kita bukan mengejar orisinalitas, tetapi lebih pada semangatnya. Tantangan yang paling besar adalah membuat boneka Daruma yang seimbang ketika diletakkan dalam posisi berdiri. Kalau dikerjakan sambil marah-marah, tidak akan selesai dengan rapi dan maknanya pun kurang terasa," kata Siti Fitriyah selaku instruktur pembuatan Daruma.

Peserta harus melewati beberapa proses untuk membuat satu Daruma. Namun, dalam workshop kali ini, peserta diberi waktu selama enam jam untuk mengenal hingga membuat boneka. Di awal acara, peserta disuguhi pemutaran film tentang Tahun Baru yang berlangsung di Jepang. Dalam film berdurasi 15 menit itu, peserta diperlihatkan kegiatan yang dilakukan masyarakat Jepang selama tiga hari, sewaktu merayakan Tahun Baru. Dipertontonkan pula, peran Daruma di perayaan itu.

Di Jepang, sebuah boneka Daruma dijual dengan bola mata yang masih kosong atau belum digambar. Jika seseorang menginginkan harapan atau cita-citanya terkabul maka dia harus menggambar salah satu dari sisi kedua mata boneka menggunakan tinta. Apabila harapannya sudah tercapai, dia baru boleh menggambar mata yang satunya.

Butuh Kesabaran

Daruma dibuat dengan teknik Hariko. Patung yang dijadikan pola, ditempeli lapisan kertas hingga menjadi bentuk yang diinginkan. Setelah lem kering, kertas pelapis patung dibelah dan patung yang menjadi pola dikeluarkan.

Proses selanjutnya, belahan bagian depan dan belakang disatukan kembali dengan tempelan lapisan kertas. Setelah itu, Daruma biasanya dicat dengan warna merah menyala sesuai dengan warna pakaian Bodhidharma.

Dalam sejarah, Daruma merupakan boneka tradisional Jepang yang disebut Okiagari Koboshi. Boneka itu memiliki bagian dasar yang bundar dan berat, sehingga dapat kembali berdiri tegak jika dimiringkan.

Muka Okiagari koboshi digambar seperti wajah Bodhidharma. Posisi Daruma yang selalu bisa berdiri tegak disesuaikan dengan cerita ketegaran Bodhidharma saat bermeditasi selama sembilan tahun menghadap tembok di Vihara Shaolin.

Oyasujiwo yang ikut membantunya dalam mengajarkan pembuatan Daruma mengatakan, ada beberapa perbedaan proses pembuatan yang dilakukan peserta workshop dengan orang Jepang. Di Jepang, pembuatan Daruma disertai ritual khusus, sementara di workshop tidak. Teknik yang digunakan selama workshop merupakan teknik sederhana.

Teknik yang diajarkan pada peserta workshop pembuatan Daruma hampir sama dengan yang dilakukan di Jepang. Hanya saja, ada perbedaan dalam penggunaan bahan dasar.

"Di workshop ini kami memakai balon sebagai pola dasar boneka. Bentuk bulat balon, sesuai dengan dasar pola Daruma yang juga bulat. Sementara, kertas pelapis yang digunakan adalah kertas koran bekas. Kami mencari bahan-bahan yang mudah didapat dan tidak mahal," ujar Siti Fitriyah, yang biasa dipanggil Iput.

Para peserta yang terdiri dari atas berbagai usia terlihat antusias saat mengerjakan Daruma. Sesekali mereka bertanya pada Iput, apakah bonekanya sudah dikerjakan dengan baik.

"Workshop Daruma ini menarik. Selain kami dapat mempelajari tentang pembuatannya, juga terkandung nilai seni. Boneka ini dibuat dengan suatu tujuan dan ada filosofi yang dapat diambil. Tantangannya, kita harus sabar, tekun, serta diperlukan sikap tidak mudah menyerah," ungkap Rima Prakarsa, seorang peserta workshop yang datang bersama lima murid sekolahnya.

Iput membenarkan tentang proses pembuatan Daruma yang butuh kesabaran dan ketekunan. Menurutnya, boneka harus dibalut sekitar sepuluh lapisan kertas. Semakin besar boneka, maka waktu yang dibutuhkan akan semakin lama dengan jumlah kertas yang lebih banyak. Sambil mengajarkan pembuatan Daruma, Iput sesekali mengajak peserta bercanda agar tidak jenuh.

Jika di Jepang boneka Daruma didominasi warna merah, sementara di workshop itu ada peserta yang menggunakan warna putih atau kuning sebagai warna dasar. Berbagai media dapat digunakan untuk memacu semangat pencapaian resolusi Tahun Baru. Boneka Daruma dapat menjadi alternatif untuk menunjukkan perjalanan resolusi yang sudah dan akan diwujudkan sebelum tahun 2008 berakhir. [DMP/N-4]


Last modified: 10/1/08