[JAKARTA] Keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) di angka 8 persen pada Januari 2008, memberi peluang bagi perbankan dan lembaga keuangan untuk menurunkan suku bunga kredit.
Menurut Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia (BI), Miranda Gultom, beberapa bank besar bahkan bank BUMN, terutama PT Bank Mandiri Tbk memiliki kapasitas untuk menurunkan suku bunga kredit.
"Sebenarnya suku bunga pinjaman masih bisa turun meskipun BI rate tidak turun. Kalau kita perhatikan, cost of loanable fund atau biaya untuk berikan pinjaman di beberapa bank besar terutama Bank Mandiri sudah turun cukup banyak. Itu berarti, bank memiliki kapasitas untuk menurunkan suku bunga kredit," kata Miranda, di Jakarta, baru-baru ini.
Dia mengungkapkan, bank dapat menurunkan suku bunga kredit, jika dapat meningkatkan efisiensi. Dengan turunnya cost of loanable, maka efisiensi bank dapat meningkat dan memberi ruang untuk menurunkan suku bunga kredit.
Miranda menilai, dalam suasana persaingan ketat sektor perbankan, bank harus memperbaiki efisiensinya supaya dapat menekan suku bunga kredit agar sedikit lebih rendah dibandingkan pesaingnya.
Sementara itu, analis perbankan dari BNI, Ryan Kiryanto mengatakan, dengan ditahannya BI rate pada level 8 persen, ada peluang strategis bagi bank dan lembaga keuangan untuk turunkan suku bunga kredit tanpa mempengaruhi tingkat pendapatan bunganya.
"Justru sekarang saatnya bagi bank dan lembaga keuangan yang tingkat efisiensinya bagus berlomba menurunkan suku bunga kredit. Ini akan menarik debitur," kata Ryan kepada SP.
Menurut dia, bank yang memiliki tingkat efisiensi sekitar 75 persen berpeluang menurunkan tingkat suku bunga kredit. Sebaliknya bank yang tingkat efisiensinya di atas 80 persen, tidak memungkinkan untuk menurunkan suku bunga kredit.
Seperti diketahui, suku bunga kredit modal kerja bank umum swasta nasional hingga akhir Desember 2007 mencapai 13,13 persen. Suku bunga kredit investasi sebesar 13,37 persen. Sedangkan kredit konsumsi sekitar 15,24 persen.
Sementara untuk kelompok bank BUMN (Persero), suku bunga kredit modal kerja pada akhir 2007 sebesar 13,68 persen, kredit investasi 13,27 persen dan kredit konsumsi 14,18 persen.
Menunggu
Sementara itu, Wakil Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiadmadja mengatakan, pihaknya belum akan menurunkan suku bunga kredit, terkait dengan BI rate yang tetap di level 8 persen.
Menurut dia, BCA masih menunggu perkembangan makro ekonomi, terkait pengaruh kenaikan harga minyak dunia yang masih terjadi. Selain itu, pihaknya juga mempertimbangkan likuiditas perusahaan, mengingat banyak pinjaman untuk proyek-proyek infrastuktur yang sudah disepakati, tapi belum digunakan debitor.
"Jadi dalam jangka waktu dekat ini, kami belum akan menurunkan suku bunga kredit. Kemungkinan pada semester II tahun ini, kami baru dapat melakukan penyesuaian untuk suku bunga kredit karena stabilnya kondisi perekonomian bisa terukur," ujar Jahja, kepada SP, Jumat (11/1). [J-9]