SUARA PEMBARUAN DAILY

Industri Berbahan Baku Kedelai Terancam

[ JAKARTA ] Ribuan usaha kecil dan menengah berbasis kacang kedelai terpaksa berhenti berproduksinya karena sulitnya bahan baku kedelai lokal. Sementara, kedelai impor harganya melonjak dari Rp 3.500/kg menjadi Rp 7.000 - Rp 7.500 per kilogram. Akibatnya, sekitar 3,2 juta tenaga kerja industri berbasis kedelai terancam menganggur. Demikian disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Thomas Darmawan, Jumat (11/1) kepada SP di Jakarta.

Diungkapkan, para produsen tahu/tempe menghadapi pilihan sulit antara menaikkan harga jual produknya atau mengecilkan ukuran produknya. Dua-duanya sulit dilakukan karena bisa berakibat enggannya konsumen membeli produk mereka.

Untuk itu, dia mendesak pemerintah menurunkan bea masuk impor kedelai untuk jangka pendek, dan menggenjot produksi kedelai dalam negeri untuk jangka panjang.

Langkah tersebut lebih dimaksudkan untuk mencegah pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran di Industri Tahu/Tempe, ujarnya. Saat ini, ada sekitar 1,2 juta usaha kecil dan rumah tangga dengan tenaga kerja 2,5 juta orang dan 5.000 perusahaan skala besar dengan tenaga kerja 780.000 orang.

Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Deptan, Sutarto Alimuso mengakui produksi kedelai dalam negeri tahun 2007 meleset dari target. Tahun ini jumlah produksi berdasarkan angka ramalan III Badan Pusat Statistik (BPS) hanya sekitar 608.000 ton atau setara 64 persen dari target yang dicanangkan sebanyak 950 ribu ton. Sementara jumlah kedelai impor tahun 2007 lalu masih tinggi yakni sekitar 1,2 juta ton atau setara 66 persen dari total kebutuhan kedelai setahun.

Sutarto berkilah, penurunan tersebut disebabkan petani lebih memilih untuk menanam jagung dan padi ketimbang kedelai, karena secara ekonomi lebih menguntungkan. Saat ini angka produktivitas kedelai lokal sekitar 1,3 ton per hektar. Dengan harga jual kedelai lokal hanya Rp 3.000 - Rp 3.500 per kilogram, maka petani hanya memperoleh penghasilan bersih Rp 2 juta pe musim tanam. Sementara dengan menanam jagung atau padi, penghasilan bersih mereka per musim tanam bisa mencapai Rp 4-5 juta.

"Terjadi kompetisi penggunaan lahan pertanian antara kedelai dengan padi, jagung, tebu dan tembakau," kata Sutarto.

Jika harga kedelai lokal dinaikkan menjadi Rp 5.000 saja, artinya masih dibawah harga kedelai impor yang mencapai Rp 7.500, diharapkan bisa menggairahkan petani untuk menanam kedelai. Namun, lanjut Sutarto, pihaknya akan mendorong peningkatan luas tanam kedelai di luar Jawa seperti Sumatera. Pemerintah juga akan terus memberikan penyuluhan agar petani tidak lagi menjadikan tanaman kedelai sebagai tanaman sela dalam sistem budi daya pertanian.

Tahun 2008, Deptan menargetkan luas tanam kedelai seluas 620 juta hektar dengan luas panen 590 juta hektar. Sehingga diharapkan terjadi kenaikan produksi sebesar 20 persen menjadi 800.000-900.000 ton pada tahun 2008.

Untuk mendukung pencapaian target tersebut, pemerintah menurut Sutarto, menyediakan benih kedelai sebanyak 14.400 ton untuk tahun 2008 ditambah 5.500 benih ton bersubsidi. Pemerintah juga akan melakukan pembinaan terhadap 20.000 kelompok tani kedelai agar produksi tahun 2008 bisa digenjot.

Produktivitas Komoditas

Sementara itu, pengamat ekonomi Iman Sugema menilai, penurunan produksi kedelai dalam negeri saat ini karena Deptan menggunakan luas tanam sebagai basis peningkatan produksi komoditas pangan. Sehingga ketika padi dan jagung digenjot produksinya, kedelai yang kalah ekonomis, mengalami penurunan luas tanam. Yang terjadi, pada peningkatan padi dan jagung, para petani berbondong-bondong menanam padi dan jagung dan pada saat yang sama menomorduakan kedelai.

Seharusnya, basis perhitungan pemerintah lebih kepada produktivitas komoditas, bukan luas tanam sebagai basis perhitungannya. Sehingga ketika mencanangkan target jumlah produksi sekian juta ton, yang dijadikan patokan mestinya produktivitas per satuan luas lahan. Ketika produktivitas sulit dinaikkan, barulah kemudian dilakukan penambahan luas lahan. Sehingga kompetisi antar komoditas tidak perlu terjadi, ujarnya. [L-11]


Last modified: 10/1/08