SUARA PEMBARUAN DAILY

Wendit, Istana Kera Ekor Panjang

Jika Bali punya Sangeh dan Monkey Forest di Ubud, Jawa Timur tidak ketinggalan, punya Wendit. Keberadaan kera ekor panjang (Macaca fascicularis) dan objek wisata alam Wendit, Malang, mirip mata uang. Keduanya saling melengkapi.

Wendit terletak di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, sekitar delapan kilometer dari Malang, Jawa Timur. Letaknya strategis, di daerah perbukitan di jalan utama arah ke Gunung Bromo lewat Tumpang. Wendit yang luasnya sekitar sembilan hektare, dengan tutupan hutan yang lebat dan sumber mata air yang melimpah itu, menjadi habitat ideal kera ekor panjang.

Kera ekor panjang itu sudah terbiasa berhadapan dengan pengunjung. Jika menampak pengunjung, mereka turun dari perbukitan, sambil membuka mulut. Kera-kera itu suka sekali mendapatkan kacang, ketela, jambu, salak, singkong, pisang rebus, yang dibeli pengunjung dari pedagang makanan di objek wisata itu.

Tetapi, keakraban antara pengunjung dan kera ekor panjang untuk sementara terhenti. Pemkab Malang menutup sementara areal wisata alam itu untuk renovasi. Wendit mulai kehilangan pamor dibandingkan objek wisata lainnya di Malang Raya.

Bangunan sarana wisata dari kayu sudah tampak keropos. Atap seng kamar ganti pengunjung terlihat berkarat. Tembok tanggul air ambrol. Jalanan setapak untuk wisatawan berlubang-lubang. Taman yang tidak terawat berubah menjadi semak-semak.

Sumber air yang melimpah berubah menjadi danau. Belum lagi ditambah atmosfer mistik kehadiran makam "keramat" dan beberapa bangunan serupa candi. Minimnya pemeliharaan ikon pariwisata sampai tahun 1990 itu, membuat Wendit tampak menyedihkan.

Populasi kera ekor panjang yang menjadi daya tarik Wendit pun ikut terancam punah. Survei ProFauna Indonesia pada November 2007, menunjukkan populasi kera ekor panjang menurun drastis dari 300 ekor berdasarkan survei lima tahun silam. Kini hanya ditemukan tak lebih dari 125 ekor.

Rosek Nursahid, Chairman ProFauna Indonesia mengatakan, keberadaan kera ekor panjang tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung Wendit. Wendit identik dengan "kerajaan kera". "Namun kelestarian monyet ekor panjang terancam oleh pembangunan fisik dan penebangan pohon. Renovasi objek wisata alam ini hendaknya memperhatikan keberadaan monyet yang memberikan keuntungan jangka panjang bagi pengelolaan wisata Wendit," kata Rosek Nurhadi.

Penutupan objek wisata itu pun membawa dampak yang tak terduga. Kera ekor panjang menjarah perkampungan penduduk secara sporadis, sejak penutupan sementara Wendit.

"Monyet keluar dari taman Wendit, sejak ada pembangunan. Soalnya tidak ada pengunjung yang memanjakan dengan berbagai makanan. Bahkan, sejumlah pohon yang menjadi habitatnya dibabat. Mereka tidak takut pada manusia," kata Murdianto, seorang ketua rukun tetangga, desa setempat. Padahal, selama ini monyet penghuni kawasan wisata Wendit itu jinak, lucu, dan bersahabat.

Kepala Unit Wisata Wendit Willy Agus Salim menjelaskan telah menyediakan sekitar 1,5 kuintal ubi jalar dan tiga karung pisang sampai tiga kali dalam sepekan sebagai ganti pakan dari pelancong. Anggaran makan kawanan monyet sekitar Rp 130.000 itu berasal dari bantuan Pemerintah Kabupaten Malang. "Tapi dana itu kurang banyak," kata Willy.

Tertua

Wendit termasuk taman rekreasi tertua di Malang Raya, sedang berbenah untuk mengembalikan pamornya. Wendit dikenal memiliki objek sejarah, meski tidak jelas hubungan otentiknya dengan sejarah kuno Malang. Ada dua makam lama yang dikenal dengan Makam Wali "Atmasari" dan "Mbah Kabul".

Bahkan ada cerita Wendit menjadi tempat mandi putri-putri istana di zaman kerajaan. Dugaan arkeologis menyebutkan hubungan sumber air Wendit dengan sarana saluran air bawah tanah pada era Kerajaan Singosari.

Bagi yang tidak berani berenang di danau, naik perahu dari pusat danau sampai perairan tanaman kangkung, cukup mengasyikkan. Tukang perahu menggunakan galah panjang ditonjokkan ke dasar danau untuk menggerakkan perahu. Untuk menghindari panas dan hujan, dipasang kain di atas perahu.

Wisatawan bisa menyaksikan ikan dan tanaman ganggang panjang yang bergerak-gerak di dasar danau. Tanaman mendong setelah dijemur, dianyam menjadi tikar.

Seusai renovasi, Wendit diharapkan bisa menjadi "istana" kera ekor panjang, juga tempat wisata alam. Cendera mata mainan anak-anak berupa pesawat terbang baling-baling terbuat dari kayu sono atau randu, kembali ramai ditawarkan. Produksi cendera mata pesawat terbang kayu itu dikerjakan turun-temurun khas Wendit. [Edi Soetedjo]


Last modified: 7/1/08