SUARA PEMBARUAN DAILY

Menhut: Banjir di Jawa Bukan karena Hutan Gundul

SP/Teguh LR

Tinggi genangan air di Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, mendekati pucuk pohon pisang.

[LAMONGAN] Banjir yang melanda sebagian besar Pulau Jawa tidak disebabkan oleh hutan yang gundul, tetapi karena di sepanjang bantaran sungai beralih fungsi dengan ditanami pohon produktif seperti pohon pisang.

Bantaran sungai mulai hulu Bengawan Solo, dari Wonogiri sampai di Gresik, seharusnya ditanami pohon konservasi sehingga bisa menahan derasnya arus sungai ketika mengalami puncaknya.

Hal tersebut dikatakan Menteri Kehutanan, MS Kaban, seusai jalan sehat keluarga di Lamongan, Jawa Timur (Jatim), Minggu (6/1). Kondisi lainnya, terjadi degradasi hutan lindung di Pulau Jawa. Hutan lindung yang seharusnya menjadi konservasi menjadi milik warga. Mereka kemudian menanami dengan pohon produktif. Ini berdampak pada lahan hutan yang terancam longsor.

Dikatakan, tingkat partisipasi mengembalikan fungsi hutan sebagai lahan konservasi di Jatim cukup bagus. Tahun 2007 terdapat 17 juta pohon lindung ditanam dengan melibatkan masyarakat. Hasilnya 4-5 tahun akan tampak.

Sementara itu, genangan air di Kecamatan Kota Bojonegoro masih sekitar 20-30 sentimeter (cm). Genangan air di wilayah perkotaan itu terlihat di Jalan Mastrip, Panglima Sudirman, Basuki Rahmat, Hayam Wuruk, dan Rajawali.

Guna mengurangi genangan, pihak Dinas Pekerjaan Umum setempat, melakukan penyedotan dan airnya dibuang ke Bengawan Solo. Warga berharap dalam beberapa hari ke depan tidak turun hujan.

Kerusakan terparah akibat banjir Bengawan Solo di Bojonegoro terjadi di Desa Kanor, Kecamatan Kanos. Banjir kiriman di sungai tersebut menggerus jalan dengan kedalaman 3-5 meter. Dengan tergerusnya tanah di desa tersebut akhirnya terbentuk delta baru. Desa Kanor 25 kilometer dari Kota Bojonegoro.

Sementara itu, dalam dua hari terakhir di wilayah Provinsi Banten, banjir mulai surut karena curah hujan menurun, namun sedikitnya 4.427 hektare (ha) sawah di seluruh kabupaten/kota se-Banten terendam banjir. Ribuan ha sawah itu dipastikan akan rusak jika curah hujan naik.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Banten, Egi Djanuiswati di Serang, Minggu (6/1) menjelaskan, ribuan ha sawah itu memang akan terganggu pertumbuhannya akibat terendam air.

Terancam Puso

Namun, kalau curah hujan menurun, padi itu masih bisa diselamatkan. Sementara berdasarkan laporan dari kabupaten/kota, seluas 17 ha padi yang puso.

Sementara itu, hujan lebat yang mengguyur wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan intensitas cukup tinggi, menyebabkan sungai-sungai yang semula kering tak berair menjadi banjir. Setidaknya 283 unit rumah yang tersebar di enam desa dan kelurahan di Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) terendam banjir yang meluap dari Sunagi Motabenar.

Bupati TTU, Gabriel Manek kepada SP per telepon, Senin (7/1) pagi mengatakan, laporan yang diterima dari camat setempat menyebutkan, dua unit rumah warga hanyut tersapu banjir. Warga di enam desa dan kelurahan itu sempat mengungsi ke daerah yang lebih tinggi. Namun, genangan air mulai surut.

Selain itu, akibat hujan deras yang turun selama kurang lebih 9-10 jam sejak Sabtu, (5/1) mengakibatkan sungai Mariadey meluap. Sedikitnya 1.212 rumah yang berada di Distrik Yapen Selatan dan Distrik Angkaisera, Kabupaten Yapen Waropen, Provinsi Papua terendam banjir.

Warga selanjutnya di evakuasi ke sejumlah tempat yang aman, termasuk Markas Kepolisian Resort (Mapolres) Yapen Waropen.

Sungai Mariadey mengalir melintasi di kedua distrik tersebut dan membela ibu kota Kabupaten Yapen, Serui. Sampai berita ini diturunkan tidak ada korban jiwa karena warga masih bisa menyelamatkan diri. Mereka dibantu aparat keamanan dari Polres Yapen Waropen dan aparat TNI.

Warga Serui, Maikel Samori, yang dihubungi SP di Serui, Senin pagi ini mengatakan warga telah kembali ke rumahnya masing-masing namun khawatir terkena banjir susulan. Dari Merauke dilaporkan para Nelayan di seluruh pantai Selatan Papua diimbau untuk tidak melaut karena akan terjadi badai tropis.

Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika Merauke, Papua, Philips Mustamu, mengatakan gejala akan terjadi badai tropis sudah ada hanya masih sulit untuk dipastikan waktu terjadinya. [080/070/149/148/GAB/120]


Last modified: 7/1/08