SUARA PEMBARUAN DAILY

Nelayan Pandeglang Mulai Makan Nasi Aking

[PANDEGLANG] Sejumlah nelayan di Desa Sidamukti, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten mulai mengonsumsi nasi aking sebagai pengganti nasi dari beras karena kehabisan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari selama tidak melaut sekitar dua pekan terakhir. Tingginya gelombang membuat mereka tidak melaut.

Sedikitnya 20 keluarga yang berprofesi sebagai nelayan dan bermukim di pesisir Pandeglang, khususnya di Kecamatan Sukaresmi, sehari-harinya hidup dari hasil tangkapan ikan. Selama cuaca buruk ini mereka tinggal di dalam rumah dan tidak melakukan aktivitas untuk mencari nafkah.

"Selama cuaca buruk ini hidup kami sangat konsumtif, hanya makan dan tidur. Mau keluar dari rumah tidak bisa karena hujan. Kami mau melaut tidak bisa karena gelombang tinggi. Kami makan dari sisa hasil melaut sebelum musim hujan tiba. Stok beras sudah habis dan uang pun tidak ada. Karena itu kami terpaksa makan nasi aking," ujar Karyadi (37), nelayan asal Kecamatan Sukaresmi, Pandeglang, Minggu (6/1).

Hampir semua nelayan di kampungnya mengonsumsi nasi aking selama tidak melaut. "Kami mencoba bertahan dengan apa yang ada. Kami makan nasi aking dan lauknya ikan teri atau ikan kecil yang kami tangkap di pinggir laut. Ya, yang penting kenyang," ujarnya.

Nasi aking kalau diolah dengan baik rasanya enak, kendati tidak seenak makan nasi dari beras. Nasi aking, terbuat dari nasi sisa yang dikeringkan dan dimasak lagi menjadi nasi.

"Memang sekarang cuaca sedikit berangsur membaik, namun ketika kami mencoba melaut, hasil tangkapan justru sangat minim. Ya, pas untuk konsumsi sendiri dan tidak bisa dijual untuk membeli beras," ujarnya.

Tak Ada Transaksi

Sementara itu, Manager Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sidamukti, Raspendi mengungkapkan, selama dua pekan terakhir ini, transaksi ikan di tempat itu sama sekali tidak ada. Selama para nelayan tidak melaut, suasana di TPI sepi dan tidak ada aktivitas.

"Kami berharap, cuaca ini akan segera membaik dan para nelayan kembali melaut, sehingga aktivitas penjualan ikan mulai bergerak lagi. Mudah-mudahan kalau para nelayan melaut lagi hasil tangkapannya melimpah karena sudah selama dua pekan lebih beristirahat," katanya.

Sementara itu, dari TPI Kali Wadas, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, Banten dilaporkan, seorang nelayan bernama Asmali, warga Kampung Kubang Kepuh, Bojonegara, tewas terbawa arus di Perairan Selat Sunda, ketika pulang melaut, Sabtu (5/1) malam.

Korban yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang seusai melaut bersama 14 rekan, menggunakan KM Putri Santi. Sekitar pukul 18.00 WIB, saat kapal dalam perjalanan menuju TPI Kali Wadas, korban Asmali yang duduk di bagian belakang kapal, tiba-tiba jatuh ke laut. Rekan-rekan korban berusaha menolong, tapi karena arus sangat kuat korban terbawa arus dan baru bisa ditemukan Sabtu malam dalam kondisi tidak bernyawa.

"Kami sempat melihat tangan korban melambai minta tolong. Ketika kami mendekat, korban terbawa arus dan hilang ditelan ombak yang tinggi. Korban terjatuh karena kapal kami tergoncang ombak," ujar Sehnurul, rekan korban.

Lurah Karang Kepuh, Junaidi Tamin mengatakan, para nelayan terpaksa melaut karena terdesak kebutuhan sehari-hari.

Kepala Kepolisian Sektor Bojonegera, AKP Yul Hendri menjelaskan, jasad korban berhasil ditemukan oleh rekan-rekannya hanya beberapa menit setelah korban terjatuh.

"Kami akan meminta keterangan rekan-rekan korban guna mengetahui secara persis kronologi peristiwa tenggelamnya korban di tengah laut. Memang kalau dilihat, ini murni musibah, karena faktor cuaca di laut yang sangat buruk. Namun, kami tetap me- lakukan pemeriksaan sebagai bahan laporan," katanya. [149]


Last modified: 7/1/08