
[TBILISI] Oposisi Georgia, Minggu (6/1), menolak untuk menerima hasil-hasil penghitungan suara resmi yang memutuskan kemenangan Mikhel Saakashvili dalam pemilihan presiden. Oposisi Georgia juga mendesak segera dilakukan pemilihan ulang.
"Kami tidak meyakini angka-angka (hasil penghitungan suara) itu. Kami tidak bisa mempercayainya. Kami mempunyai informasi sendiri," kata Tamara Rukhadze, juru bicara untuk penantang utama Saakashvili, Levan Gachechiladze.
Ketua Komisi Pemilihan Umum Georgia Levan Tarkhnishvili mengatakan Mikhel Saakashvili, pemimpin Georgia yang pro-Barat, berhasil meraih kemenangan dramatis, Minggu. Saakashvili berhasil meraih 52,8 persen suara dari seluruh surat suara yang rampung dihitung kemarin.
penghitungan suara kemarin meliputi 3.500 buah kotak suara. Untuk memenangkan pemilihan presiden dalam satu putaran, Saakashvili perlu melampaui batas minimal 50 persen suara. Saingan terkuatnya, yakni Levan Gachechiladze, meraih 27 persen suara. Pengumuman kemenangan Saakashvili sangat mengejutkan. Sebab, lebih dari separo hasil-hasil pemilihan presiden pada Sabtu (5/1) rampung dihitung hanya dalam waktu satu jam saja.
Pada saat pengumuman dilakukan, situs resmi pemilihan presiden Georgia bahkan memperlihatkan hasil yang mengacu pada penghitungan suara masih kurang dari 50 persen dari sejumlah daerah yang telah melakukan penghitungan. Oposisi langsung menolak hasil-hasil penghitungan suara.
Penolakan tersebut mendorong Georgia, sebuah negara kecil bekas wilayah Uni Soviet, kembali terjerumus ke arah ketidakstabilan yang baru. Gachechiladze memimpin demonstrasi besar-besaran ribuan orang di Tbilisi yang tengah tertutup salju untuk memprotes apa yang dinilainya sebagai sebentuk kecurangan.
Gachechiladze mengklaim menang pemilihan presiden. Ia juga menuduh kubu Saakashvili melakukan kecurangan penghitungan suara, mencuri kotak-kotak suara, dan mengerahkan para pendukungnya untuk melakukan pencoblosan dua kali. [AFP/E-9]