SUARA PEMBARUAN DAILY

PBB Kembali Diminta Ungkap Kematian Bhutto

[KARACHI] Partai Rakyat Pakistan (PPP) yang mendukung mantan pemimpin oposisi Benazir Bhutto, mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menyelidiki kematian mantan perdana menteri itu. Sedangkan Presiden Pervez Musharraf akhirnya mengakui adanya kemungkinan kalau Bhutto ditembak namun dia justru menuding PPP yang membuat wanita itu dalam posisi yang sangat berbahaya.

"Jika PPP memenangi pemilu, kami akan meminta PBB untuk melakukan investigasi atas kematian Benazir Bhutto," kata Juru Bicara PPP Farhatullah Babar, Minggu (6/1).

PPP menilai tim kepolisian Inggris Scotland Yard yang diminta oleh Musharraf untuk menyelidiki kasus itu dirasakan belum cukup mampu untuk mengungkap dalang pembunuhan. PPP menginginkan proses penyelidikan yang dilakukan seperti kasus pembunuhan Perdana Menteri Lebanon, Rafik al-Hariri pada 2005.

Selain itu, Babar mengatakan pernyataan pemerintah mengenai pembunuhan selalu berubah-ubah. Ia juga menambahkan, sebelum terbunuh Benazir sempat menyebutkan nama-nama orang yang patut dicurigai berencana membunuhnya.

Nama-nama itu ditulis dalam surat yang dikirim Benazir kepada Musharraf bulan lalu. Babar yakin kalau nama-nama itu tidak akan diselidiki oleh Musharraf. "Jika tim Scotland Yard tidak dapat menyelidiki beberapa nama yang disebut Bhutto dalam suratnya, lalu apa gunanya proses penyelidikan," ujarnya.

Permintaan untuk menurunkan tim investigasi dari PBB, diakui oleh Juru Bicara PBB, Michele Montas telah diajukan pemerintah Pakistan seminggu lalu. Namun, PBB belum mempertimbangkan semua aspek dari permintaan tersebut.

Pada Sabtu (5/1), seperti dikutip jaringan berita CBS, Presiden Pervez Musharraf menyatakan kemungkinan Bhutto tewas karena ditembak. Namun, menurut dia, kepentingan PPP telah memosisikan Bhutto dalam situasi yang berbahaya.

Sementara itu, suami Bhutto, Asif Ali Zardari mengatakan untuk saat ini ia enggan untuk berkomentar apa pun. Ia masih menolak dan belum menyebutkan kesediaan pihak keluarga untuk mengizinkan dilakukannya otopsi terhadap jenazah Benazir Bhutto.

Namun, seperti dikutip Washington Post, Sabtu (5/1), Zardari meminta kepada Pemerintah AS dan Inggris untuk mendorong agar PBB dapat menyelidiki kasus pembunuhan itu.

"Penyelidikan yang dilakukan oleh Pemerintah Pakistan tidak dapat dipercaya, baik di negara saya, dan di mana pun," kata Zardari.

Kontroversi seputar pembunuhan Bhutto di Rawalpindi pada 27 Desember 2007 semakin melebar. Pemerintah mengklaim Bhutto tewas akibat kepalanya terbentur atap kendaraan yang ditumpangi setelah mobil tersebut meledak. Tetapi, partai Bhutto bersikeras jika wanita tewas ditembak dari jarak dekat, sebelum ledakan. [Rtr/SYH/O-1]


Last modified: 7/1/08