[JAKARTA] Kinerja sektor perdagangan di beberapa program prioritas, khususnya kestabilan dan keamanan harga bahan pokok belum maksimal di 2007. Untuk itu, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu berjanji akan melanjutkan program tersebut di 2008. Beberapa program yang dikategorikan prioritas yakni kestabilan harga bahan pokok, prasarana distribusi produk, dan peningkatan daya saing ekspor.
"Khusus untuk kestabilan dan keamanan bahan pokok, pada bulan Januari sampai Februari 2008 akan dipantau maksimal. Gula dan beras menjadi prioritas komoditas yang harus dijaga stok dan harganya sebelum memasuki musim panen dan giling pada pertengahan Mei-Juni," papar Mendag Mari Elka Pangestu kepada SP, di Jakarta, pekan lalu.
Dikatakan Mendag, untuk harga minyak goreng dinyatakan masih stabil apabila berada di level Rp 9.000 per kilogram (kg). Sebelumnya, bahkan minyak goreng sempat mencapai Rp 12.000 per kg pada pertengahan tahun 2007. Semenjak diberlakukan kebijakan Pungutan Ekspor (PE) dan penghapusan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10 persen, harga minyak goreng berangsur turun.
"Harga minyak goreng dalam negeri tidak boleh terlalu jauh dari harga minyak mentah dunia. Kalau saat ini harga minyak mentah menyentuh US$ 100 per barel maka minyak jadi dalam negeri otomatis ikut naik. Apalagi bila harga CPO (minyak sawit mentah) di Rotterdam naik, minyak goreng pasti naik," kata Mari.
Penyesuaian harga minyak jadi dan minyak goreng dengan harga dunia, menurut Mari, dilakukan untuk menghindari produsen mengekspor minyak ke luar. Sebab, bila harga jual dalam negeri terlalu rendah, produsen lebih memilih menjual ke luar untuk mendapatkan untung besar. Sehingga stok dalam negeri diamankan memalui penyesuai harga.
Sedangkan untuk beras ketersediaan stok sampai Desember 2007 tercatat sebanyak 3.221.750 ton. Stok tersebut diperkirakan cukup sampai dua bulan ke depan. Sebagai upaya stabilisasi harga beras, Depertemen Perdagangan bekerja sama dengan Bulog menyalurkan 17.050 ton ke 13 provinsi. Selain itu, dilakukan juga operasi pasar khusus di 15 provinsi untuk menyalurkan 62.585 ton yang berasal dari cadangan beras pemerintah.
Ditambahkan Mari, khusus untuk mengurangi beban masyarakat miskin pemerintah menyalurkan beras raskin sebanyak 1,72 juta ton atau 99,26 persen dari pagu sebesar 1.740.000 ton kepada 15,8 juta rumah tangga.
Komoditas lain yang juga menjadi prioritas yakni gula pasir yang diprediksi cukup sampai musim giling. Namun tetap saja untuk berjaga-jaga, Mendag telah mengeluarkan izin impor gula sebanyak 110.000 ton. Recananya, impor gula akan dilakukan pada Januari-Mei 2008.
Tidak Perlu Impor
Ditempat terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Gula dan Tepung Terigu Indonesia (Apegti) Natsir Mansyur mengatakan, Mendag tidak perlu mengeluarkan izin impor gula konsumsi di 2008. Sebab, stok gula pasir dan gula rafinasi dipastikan cukup sampai musim giling tiba. Dikhawatirkan keluarnya izin impor justru akan membuat gula lokal tergeser dengan gula impor.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Rafinasi (Agri) HM Yamin Rahmin menyatakan stok gula masih berlebih. Berdasarkan neraca gula di 2007 sisa stok gula dari importir terdaftar sebanyak 448.000 ton. [EAS/M-6]