[JAKARTA] Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) menyarankan pemerintah untuk meningkatkan produk di sektor perkebunan selain minyak sawit sebagai komoditi ekspor di 2008. Komoditi perkebunan seperti rempah-rempah dinilai mampu merebut pasar internasional khususnya di pasar Eropa dan Amerika Serikat (AS).
Hal tersebut dikemukakan Ketua Umum GPEI Benny Soetrisno dan Ketua Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) Bachrul Chairi, secara terpisah kepada SP, di Jakarta, Sabtu ( 5/1). Mereka mengemukakan hal tersebut terkait dengan perkembangan ekspor 2008 yang diprediksi tetap didominasi oleh CPO dan barang tambang.
"Tahun 2007 pertumbuhan ekspor minyak nabati mencapai 10 persen, dari total pertumbuhan ekspor non migas sebesar 16,2 persen. Diharapkan tahun depan pemerintah mengembangkan komoditi lain seperti kopi, teh, dan coklat agar menigkat sampai 5 persen," ujar Bachrul.
Pertumbuhan ekspor Indonesia periode Januari-November 2007 mencapai US$ 103,1 miliar atau bertumbuh 13 persen dibandingkan 2006 sebesar US$ 100,8 miliar. Sementara untuk eskpor non migas mencapai 16,2 persen dengan nilai US$ 83,5 miliar. Nilai tersebut bertumbuh dibandingkan 2006 sebesar US$ 79 miliar.
Ditambahkan Bachrul target pertumbuhan ekspor 2008 yakni bertumbuh 14 persen sampai 16 persen dengan nilai US$ 104 miliar sampai US$ 106 miliar. Sebagai penunjang peningkatan ekspor Departemen Perdagangan menetapkan 10 komoditas utama penunjang peningkatan ekspor yakni udang, kopi, minyak sawit, kakao (coklat), karet dan produk karet, tekstil dan produk tekstil, sepatu, elektronik, komponen otomotif, serta furnitur.
Sementara 10 produk potensial di 2008 yakni, kerajinan tangan, ikan dan produk ikan, kulit dan produk kulit, makanan olahan, perhiasan, minyak atsiri, bumbu dan rempah-rempah, peralatan kantor bukan kertas, alat-alat kesehatan, serta tumbuhan obat-obatan.
Belum Diolah
Ditempat terpisah, Benny Soetrisno mengatakan rempah-rempah seperti merica merupakan komoditi yang belum berhasil diolah menjadi bahan jadi oleh pemerintah. Sebagai negara penghasil rempah-rempah, Indonesia masih tetap mengimpor merica bubuk dari AS. Sementara AS dan Eropa sendiri mengambil bahan baku rempah-renpah dari Indonesia.
"Apabila pemerintah bisa mengolah rempah-rempah dan kemudian dijadikan komoditas potensial eskpor, hasilnya dapat meningkatkan nilai ekspor di 2008. Pangsa pasar rempah-rempah sangat tinggi baik kawasan Eropa dan Asia," ujar Benny.
Ditambahkan Benny, kelemahan pemerintah yakni memberikan bahan mentah untuk diekspor kepada negara luar. Setelah dioleh menjadi bahan jadi, Indonesia kembali mengimpor produk tersebut dengan nilai yang lebih tinggi dibandingkan nilai jual sebelumnya.
Sebagai contoh, coklat sampai saat ini tetap diekspor tanpa melakukan fermentasi sehingga nilai jualnya rendah.
"Indonesia merupakan produsen terbesar ketiga di dunia untuk penghasil coklat. Seharusnya pemerintah memanfaatkan peluang tersebut dengan mengekspor coklat jadi bukan hanya bahan baku saja," tambahnya. [EAS/M-6]