SUARA PEMBARUAN DAILY

"Visit Indonesia Year 2008"

Upaya Menjaring Turis di Tengah Bencana Alam

SP/Ignatius Liliek

Menteri Budaya dan Pariwisata, Jero Wacik (kiri) bersama dengan Menteri Komunikasi dan Informatika, M Nuh (kanan) saat peluncuran "Visit Indonesia 2008" di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (26/12). Visit Indonesia 2008 merupakan program kunjungan wisata untuk menarik wisatawan asing maupun lokal mengunjungi daereah wisata di Indonesia. Program dicanangkan untuk memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional.

Dari segi promosi, kondisi ini tentu tak menguntungkan. Kesuksesan pelaksanaan VIY 2008 pun terancam, padahal sepanjang tahun 2008 pemerintah Indonesia menargetkan dapat menarik 7 juta wisatawan mancanegara (wisman) dan 118 juta wisatawan nusantara (wisnus). Dengan jumlah wisman sebesar itu, diharapkan pariwisata Indonesia akan mendulang devisa sekitar US$ 6,4 miliar.

Menghadapi kondisi tersebut, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) pun pasang strategi baru. Mencontoh keberhasilan promosi pariwisata saat krisis beberapa tahun lalu, Depbudpar pun kembali menerapkan pendekatan promosi ISO licence marketing dalam mempromosikan VIY 2008.

"Jadi kita hanya akan mempromosikan daerah-daerah yang tidak terkena bencana alam. Sedangkan daerah yang dilanda banjir dan longsor untuk sementara tidak akan kita promosikan," kata Direktur Jenderal Pemasaran, Depbudpar, Thamrin B Bachri, ketika dihubungi SP, baru-baru ini.

Hal itu dimaksudkan untuk menjaga citra Indonesia sebagai negara yang aman, nyaman dan indah untuk dikunjungi. Jika daerah-daerah tersebut telah pulih dari bencana, pemerintah pun akan kembali mempromosikannya.

"Kita berharap mudah-mudahan ini tidak akan menjadi bencana besar dan meluas hingga ke pelosok daerah. Jika daerah-daerah yang terkena bencana itu sudah aman, kita akan mempromosikannya kembali," tuturnya.

Sementara itu, promotor musik internasional Adrie Subono mengatakan gencarnya pemberitaan tentang berbagai bencana alam yang belakangan ini terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia sangat mempengaruhi jadwal kunjungan artis internasional ke Indonesia.

"Belum lama ini saya dihubungi sejumlah agen (artis internasional-Red.) dari Amerika Serikat yang cemas karena mendengar berita banjir. Mereka mempertanyakan kondisi di sini. Kata mereka, negeri kamu sedang banjir ya. Rupanya mereka mengira, seluruh Indonesia sudah terendam banjir," kisah Adrie kepada pekan lalu.

Hal semacam ini, menurut Adrie, merupakan faktor yang mempengaruhi kedatangan artis internasional untuk menggelar pertunjukan di Indonesia. Padahal, kedatangan mereka membawa dampak positif terutama dalam hal membangun citra Indonesia di mata dunia internasional.

"Konser-konser musik dari artis internasional itu bisa dijadikan promosi untuk meyakinkan orang asing bahwa Indonesia aman. Pemberitaan tentang konser seorang artis ada di banyak media massa, mulai dari media hiburan hingga media politik dan ekonomi. Jika pemberitaannya baik berarti efeknya pun akan baik, termasuk menjadi referensi yang baik bagi para investor, sehingga mudah-mudahan investor juga akan merasa nyaman dan aman untuk menanamkan modal di sini, dan perekonomian kita akan semakin maju," papar Adrie.

Saat ini, dengan anggaran promosi sebesar US$15 juta atau sekitar Rp 150 miliar, Depbudpar mengaku telah memasang iklan VIY 2008 di stasiun televisi sejumlah negara, seperti CNN, Starworld dan CNBC. Selain itu juga iklan VIY 2008 dapat ditemui di media asing seperti majalah Times dan beberapa media dalam negeri.

Tapi jangan dibayangkan intensitas penayangan iklan VIY 2008 akan seperti penayangan iklan Visit Malaysia Year 2007 (VMY 2007) yang bisa dilihat hampir setiap jam diputar di stasiun televisi sejumlah negara.

Wajarlah jika kemudian gebyar VMY 2007 menjadi lebih terasa dan gaungnya lebih terdengar dibandingkan VIY 2008. Hal itu bisa dimaklumi mengingat dana promosi yang dikucurkan pemerintah Malaysia jauh lebih besar dari yang dimiliki Indonesia, yaitu mencapai US$ 80 juta.

Selain membuat iklan promosi untuk media televisi yang berdurasi sekitar 30 detik, Depbudpar, kata Thamrin, juga telah bekerja sama dengan maskapai penerbangan Garuda untuk mengecat logo VIY 2008 di badan pesawatnya.

"Kita juga telah bekerja sama dengan Amex (American Express-Red.) melalui 80 juta cardholder-nya untuk mempromosikan VIY 2008. Kedutaaan besar kita di sejumlah negara juga membantu mempromosikan VIY, bahkan kedutaan besar RI di Brussel akan membuat semacam signed board yang memuat tentang beberapa program VIY 2008," ungkap Thamrin.

Sejumlah bandara-bandara besar yang dimiliki beberapa daerah di Indonesia, lanjut Thamrin, juga telah dihimbau untuk memasang logo VIY 2008. Diharapkan tak lama kemudian semua bandara termasuk bandara kecil di seluruh daerah di Indonesia ikut memasang logo VIY 2008. "Kita juga telah memasang logo VIY 2008 berukuran besar di bundaran Hotel Indonesia," imbuhnya.

Menurut Thamrin, sifat dari promosi yang telah dilakukan merupakan semacam inhouse promotion dan ditujukan bagi orang-orang asing yang berada di Indonesia. Dengan begitu diharapkan orang asing yang berada di Indonesia akan mengetahui tentang program VIY 2008, dan kemudian menceritakannya pada rekan atau keluarga mereka yang berada di negara asalnya.

Pentingnya promosi ini juga ditekankan oleh kalangan biro perjalanan dan hotel di Indonesia. Director of Operations Destination biro perjalanan Panorama, Achmad Sufiani, mengatakan bencana yang menghantam Indonesia dalam rangka program "VIY 2008, sebenarnya tidak membawa pengaruh terlalu serius. Bencana alam tersebut hanya merupakan bagian dari kejadian berulang setiap tahun. Dia menuturkan, bencana alam bukan masalah serius yang perlu ditakutkan sektor pariwisata.

Kurang Sosialisasi

Sufiani berpendapat, VIY 2008 sangat kurang sosialisasi. Pemerintah sangat perlu meningkatkan promosi di luar negeri. Dia mengakui, promosi pemerintah untuk VIY 2008 kurang greget dan jarang terlihat atau terdengar di mancanegara.

Dia mencontohkan dekorasi stand pameran pariwisata Indonesia di luar negeri tidak sebagus negara lain seperti Bangladesh, yang notabene masih berada jauh di bawah Indonesia. Keberanian negara lain mengusung isu pariwisata dapat dilihat dengan keseriusan pemerintah membangun infrastruktur demi kelancaran wisatawan.

Hal hampir senada diungkapkan pula oleh Public Relations Manager Hotel Gran Melia Jakarta, Hana Hoed. Dia mengatakan bencana alam di Indonesia terkait VIY 2008 bukan ancaman serius kedatangan turis. Dia beranggapan yang namanya bencana alam bisa datang kapan dan di mana saja.

Hana mengakui, Hotel Gran Melia memang pernah dibuat repot saat banjir Februari 2007. Namun, bencana tersebut tidak menghalangi keinginan turis untuk terus berdatangan ke Indonesia khususnya Jakarta. Hana menilai isu terorisme lebih menakutkan bila dikaitkan dengan kemajuan sektor pariwisata.

Dia bercerita, teror bom di Indonesia pada medio 2002-2004 berdampak sangat buruk pada peningkatan perekonomian. Sektor ekonomi turut mendorong kemunduran di bidang wisata, sehingga dapat dikatakan secara langsung teror telah menghantam perkembangan pariwisata Indonesia. Walaupun begitu, Hana berpendapat teror juga dapat terjadi kapan dan di mana saja. "Kita tidak dapat memastikan kalau negara lain lebih aman dari Indonesia," tambahnya.

Hana juga memuji ada itikad baik dari pemerintah memajukan pariwisata melalui program VIY 2008. Ironisnya, dia tidak melihat keseriusan pemerintah menjalankan program ini. Sosialisasi pemerintah tidaklah "semulus" penciptaan program VIY 2008. Pemerintah kelihatan enggan mengundang pelaku usaha menyukseskan program tersebut. Program lebih bersifat slogan tanpa langkah nyata berkesinambungan.

Sementara itu, Communication Executive Hotel Shangri-La Jakarta, Yuska Lutfi Tuanakotta, ikut menuturkan bencana alam di Indonesia tidak memberikan pengaruh secara langsung untuk pariwisata Indonesia pada umumnya.

Seperti juga Hana, mengungkapkan sosialisasi pemerintah tidak menjadi nyata sampai ke pihak hotel. Hana mengatakan, tidak pernah menerima sosialisasi VIY 2008 sama sekali dari pemerintah. Sedangkan Yuska pernah menerima faksimile tawaran pemasangan spanduk, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut lagi.

Puteri Indonesia 2007, Putri Raemawasti mengatakan, dari segi dana, Indonesia memang tidak seberuntung Malaysia dan beberapa negara lainnya, yang mempunyai dana berlebih sehingga mampu melakukan promosi dan sosialisasi besar-besaran. Meski demikian sudah seharusnya seluruh masyarakat Indonesia optimistis dalam menyongsong VIY 2008.

"Apalagi saya lihat sejumlah daerah di Indonesia juga sudah siap menyukseskan pelaksanaan VIY 2008. Kita harus saling bahu-membahu untuk meningkatkan citra Indonesia sebagai negara yang pantas untuk dikunjungi," ungkap perempuan kelahiran Blitar, Jawa Timur pada 5 Desember 1986 ini.

Bencana yang kini melanda sejumlah daerah di Indonesia, kata Putri, tak seharusnya dijadikan halangan yang menghambat kesuksesan VIY 2008, tapi justru dijadikan tantangan yang mampu melecut semangat bangsa Indonesia untuk mampu menyukseskan program ini.

Sementara Puteri Pariwisata 2006, Rahma M Landy menilai, Indonesia memiliki potensi wisata yang sangat besar. Sayangnya kita belum mampu untuk mengolahnya. Oleh karena itu, diperlukan dukungan serta partisipasi seluruh masyarakat untuk meningkatkan citra positif Indonesia di mata dunia internasional.

Rahma menitip pesan bagi seluruh lapisan masyarakat agar senantiasa memilih berwisata ke berbagai daerah di Indonesia daripada berwisata ke luar negeri. [HST/W-10/Y-6]


Last modified: 4/1/08