SUARA PEMBARUAN DAILY

Tidak Perlu Salahkan Faktor Eksternal

Akhir Desember lalu, tepatnya satu minggu setelah berakhirnya ajang SEA Games 2007, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Pelatihan Nasional (Pelatnas) SEA Games 2007, Achmad Soetjipto mengeluarkan pernyataan menarik. Ia mengatakan penyebab kegagalan sejumlah cabang meraih emas di SEA Games 2007 lalu karena adanya pengaruh faktor eksternal.

Yang dimaksud adalah perlakuan wasit yang tidak jujur, juri yang tidak adil dan panitia yang berusaha menghambat perolehan medali selama pertandingan. Dengan tindakan-tindakan tersebut, Indonesia dirugikan yang menyebabkan kehilangan sekitar 10 medali emas dari cabang-cabang seperti tinju, menembak, sepakbola, tenis, renang, senam, taekwondo dan cabang lainnya (SP, Rabu, 19/12).

Benarkah faktor eksternal sebagai penyebab kegagalan?

Kalau mengacu ke data yang disampaikan Soetjipto, hal itu tentu sangat mungkin. Sebagai contoh, pada cabang balap sepeda, Indonesia gagal meraih emas pada nomor pursuit putra karena panitia meminta start ulang pertandingan. Hal itu terjadi karena tim tuan rumah, Thailand belum siap melakukan start.

Padahal pada start pertama, tim Indonesia sudah berhasil berada di depan dan siap meraih emas. Namun dengan adanya tindakan tersebut, Indonesia lalu gagal merebut emas. Hasil itupun membawa tim balap sepeda Indonesia gagal menyabet tujuh emas yang ditargetkan. Cabang itu hanya mampu membawa pulang empat medali emas.

"Mereka (Thailand, Red) tampaknya tidak rela kalau emas pada nomor itu lepas dari tangan mereka. Karena itu, mereka minta start ulang," tutur mantan Kepala Staf Angkatan Laut ini menunjuk salah satu tindakan tidak adil panitia.

Pada cabang-cabang lain seperti taekwondo, rowing, anggar, karate, renang dan senam, juga ditemukan hal yang sama. Pada cabang taekwondo misalnya, adanya angka-angka "siluman" yang menguntungkan tuan rumah. Pada cabang tersebut, para taekwondoin Indonesia sebenarnya mampu meraih banyak emas jika tidak ada angka-angka siluman tersebut. Demikian pun pada cabang senam atau anggar. Terdapat angka siluman yang lebih banyak menguntungkan tuan rumah.

"Panitia menggunakan segala macam cara untuk memperbanyak perolehan medali, termasuk menjalankan pertandingan yang tidak jujur dan adil. Cara-cara seperti itu yang membuat kita kehilangan sekitar 10 medali emas," ujar Soetjipto usai rapat evaluasi tentang SEA Games bersama anggota satgas lainnya saat itu.

Bukti

Tetapi sungguhkah faktor eksternal sebagai penyebab kegagalan tersebut?

Rasanya tidak. Kegagalan itu sesungguhnya karena masalah kita sendiri. Berikut ini adalah buktinya.

Pertama, pernyataan Hadi Wihardja yang merupakan salah satu anggota Satgas SEA Games menjadi alasan. Hadi yang bertindak sebagai Ketua Bidang Terukur pada Satgas SEA Games 2007 lalu mengatakan, kegagalan beberapa cabang meraih emas pada SEA Games lalu karena para pengurus cabang-cabang tersebut tidak jujur memberikan nama atlet ke satgas. Pada saat pemilihan atlet, mereka menegaskan atlet yang disodorkan ke satgas adalah yang terbaik, yang berpeluang meraih emas dan memiliki mental bertanding yang kuat.

Tetapi kenyataannya adalah semuanya gagal. Jadi sesungguhnya bukan atlet yang terbaik yang dikirim, tetapi atlet kelas dua yang dipilih karena unsur nepotisme atau anak dari para pengurus sendiri.

"Ini dugaan kami bahwa mereka tidak jujur memberikan nama atlet. Bayangkan renang sampai gagal total," ujarnya.

Kedua, pernyataan Sekjen Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PB TI), Ade Lukman juga dapat menjadi acuan. Ade yang bertindak sebagai tim manajer di SEA Games lalu, mengakui atletnya tak siap bertempur. Meski ada kecurangan dalam pengaturan soal skor, namun secara jujur dia mengaku atlet-atlet Tanah Air masih kurang nyali saat berhadapan dengan atlet tuan rumah Thailand, Filipina dan Vietnam.

Jadi memang atlet kita yang tidak mampu meraih medali, bukan karena faktor eksternal.

Ketiga, pernyataan pelatih kawakan renang nasional, Radja Murnisal Nasution mengenai kegagalan cabang akuatik (renang, loncat indah, dan polo air) juga menarik untuk diperhatikan. Menurutnya, cabang akuatik gagal karena memang dari awal, proses perekrutan atlet dan pelatih tidak jelas serta tidak melalui tahap yang berlaku umum.

Pada cabang ini ada aturan yang mengharuskan atlet yang dikirim harus mencapai batas waktu tertentu. Namun hal itu tidak dilakukan para pengurus cabang akuatik.

"Tiba-tiba saja sudah ada nama atlet yang akan dikirim. Padahal kami tidak tahu siapa mereka dan berapa batas waktu yang dicapainya. Pengurus daerah (Pengda) DKI Jakarta saja tidak tahu kalau ada atletnya yang dikirim. Itu kan sudah merupakan sebuah kesalahan dari awal," komentar Rajda.

Jadi menurutnya, bukan faktor eksternal sebagai penyebab kegagalan, tetapi kesiapan tim Indonesia sendiri yang memang amburadul.

Fakta lainnya adalah pada cabang menembak. Ada seorang narasumber yang mengatakan cabang itu gagal karena tidak ada kaderisasi atlet. Saat ini, jumlah atlet menembak seluruh Indonesia hanya 500 orang. Dari jumlah ini, hampir separuhnya merupakan atlet senior yang berumur 30 tahun ke atas.

Kondisi ini, tentu sulit untuk mendapatkan atlet muda yang berbakat. Jadi artinya kita memang tidak mengirimkan atlet terbaik di ajang SEA Games lalu. Tetapi merupakan atlet tua yang tidak layak bertanding. Inilah fakta-fakta sesungguhnya yang menyebabkan sejumlah cabang meraih emas di SEA Games lalu, bukan karena faktor eksternal.

Soetjipto mungkin tidak salah karena dia menilai berdasarkan hasil pertandingan. Artinya, apa yang ia kemukakan adalah berdasarkan pengamatannya selama pertandingan. Namun, dia sesungguhnya tidak tahu bagaimana persiapan tiap-tiap cabang sebelum berlaga di SEA Games lalu. Karena itu, pernyataannya tidak semuanya benar. Beberapa alasan di atas perlu diperhatikan.

Kepada para pengurus olahraga, terutama yang gagal meraih emas di SEA Games lalu, jangan menjadikan pernyataan Soetjipto itu sebagai alasan. Kegagalan berawal dari Anda sendiri yaitu karena ketidakjujuran memberikan nama atlet, proses rekrut yang tidak sesuai aturan, minimnya stok atlet dan pembinaan yang tidak berjalan efektif.

Kedepannya perlu pembenahan total terhadap semua cabang, baik yang berhasil maupun gagal. Hanya dengan itu, kita berhasil dan tidak perlu menyalahkan faktor eksternal. [Robertus Wardi]


Last modified: 4/1/08