SUARA PEMBARUAN DAILY

SEKILAS

Bahaya Timbal Konversi Teknologi TV

Metode menghadirkan gambar tidak banyak berubah sejak televisi (TV) pertama kali diluncurkan. Namun pada 17 Februari 2009, stasiun TV beberapa negara akan mencoba teknologi baru, berganti ke transmisi baru yang mengirim sinyal digital melalui udara.

Ketika perubahan itu datang, diperkirakan 30 juta TV yang masih menggunakan antena tradisional tak bisa mengakomodir teknologi baru itu tanpa alat konversi digital. Industri TV menyiapkan sosialisasi bagi pelanggan sebesar US$ 200 juta. Kongres AS menyisihkan dana US$ 1,5 miliar untuk subsidi pembelian alat konversi digital tersebut.

Survei The Cable & Telecommunications Association for Marketing bulan November membuktikan sebagian pemirsa Amerika masih tidak tahu perubahan itu. "Satu dari lima pengguna TV di Amerika masih menggunakan antena konvensional," kata Profesor komunikasi di Ball State University in Muncie, Indiana, Barry Umansky.

Perubahan metode penerimaan gambar di TV dan juga di beberapa perangkat komunikasi nirkabel itu bermula dari penyerangan teroris pada 11 September 2001. Saat itu, saluran komunikasi polisi dan pemadam kebakaran tidak berfungsi, karena banyaknya panggilan yang masuk di saat bersamaan.

TV bukan satu-satunya yang menggunakan sinyal analog. Telepon seluler ada yang masih menggunakan sinyal analog demikian pula jutaan peranti di rumahan dan industri, masih menggunakan sinyal analog sehingga mengkonversinya ke digital sangatlah mahal. Perubahan sistem dari analog ke digital bukannya tidak mendatangkan kemungkinan bahaya. Potensi bahaya racun dapat menjadi ancaman tersendiri bagi para konsumen pengguna TV analog. Para konsumen yang beralih ke TV digital harus membuang TV lama yang mengandung material berbahaya penghasil sinar X-rays, yakni timbal.

Kontaminasi timbal dari pembuangan sampah dapat mencemari tanah dan air tanah. Menurut Enviromental Protection Agency, TV tradisional banyak mengandung timbal rata-rata seberat dua kilogram.

Koordinator suku dinas kebersihan di Terrace Heights, Washington, AS, Mikal Heintz, mengatakan, mereka mau memisahkan limbah timbal, tetapi mereka tidak mempunyai sumber daya manusia memadai untuk memilah bahan berbahaya itu.

Presiden dan Kepala Goodwill Industries of Central Texas, Jerry Davis, menuturkan semua orang akan membuang TV model lama sewaktu mendekati tanggal 17 Februari 2009. [msnbc.com/HST/N-5]

istimewa

Tidak Paham Menonton HDTV

Tren high-definition television (HDTV) meningkat seiring kualitas gambar yang mengagumkan, penurunan harga, dan banyak pilihan. Ironisnya, banyak konsumen di AS tidak mengerti bahwa tampilan gambar HDTV yang mereka saksikan bukanlah kualitas gambar sesungguhnya yang dimunculkan HDTV. HDTV lebih canggih kualitas gambarnya dibanding televisi (TV) model tabung. Namun konsumen membeli HDTV, tanpa bisa mengoperasikan sesuai fungsinya.

Menurut survei Leichtman Research Group (LRG), satu dari enam rumah tangga di AS sekarang memiliki sedikitnya satu HDTV. Jumlah tersebut meningkat dibanding dua tahun lalu saat satu dari empat belas rumah tangga AS mempunyai TV berteknologi digital itu. Presiden LRG, Bruce Leichtman, mengatakan, sebagian dari pengguna HD memang menonton siaran berkualitas HD. Sementara, seperempatnya percaya jika mereka menonton siaran kualitas HD, walaupun sebenarnya mereka tak menontonnya. Leitchman menambahkan, kesalahpahaman disebabkan karena tidak adanya perangkat pendukung HDTV, yakni kotak buatan perusahaan TV kabel atau satelit. Masalah utamanya, penjual HDTV malas menjelaskan bagaimana cara kerja TV tersebut.

Kongres AS menetapkan tenggat waktu 17 Februari 2009 untuk mengganti teknologi analog menjadi digital pada tahun 2006. TV analog tetap dapat diputar , tetapi perlu kotak perubah format siaran digital menjadi analog.

HDTV memerlukan kemampuan tampilan video beresolusi tinggi (720pixel lebih ). Penggunaan alat penerima HD yang terpasang di dalam TV maupun disediakan TV kabel atau satelit diperlukan untuk pengaktifan teknologi digital. Perlu diketahui, program HD belum tersedia di semua stasiun TV dan TV kabel.

Grup industri Consumer Electronics Association menemukan 44 persen pemilik HDTV menerima siaran HD. Pengguna lain sebanyak 34 persen tidak menerima siaran HD sama sekali. Sebanyak 16 persen tidak yakin dan enam persen pemilik berpikir jika mereka menerima siaran HD, padahal kenyataannya tidak.

"Kebingungan konsumen mengerikan, sungguh mengerikan," kata penerbit dan pendiri HDTV Magazine, Dale Cripps. Ketika publik tertarik kepada HDTV, layar plasma, dan liquid crystal display (LCD) Cripps menyarankan jenis TV yang memimpin industri tanpa tujuan finansial. Isu ini diperlukan agar konsumen tidak perlu bingung menghadapi kompetisi teknologi.

Menurut juru bicara Sony, Greg Belloni, industri elektronik tidak melakukan penjelasan semestinya bagi para konsumen. Ada sedikit kebingungan, tapi masalah itu lebih teratasi. Kami melakukan pekerjaan lebih baik sekarang ketika menjelaskan kepada agen. Sedangkan, produsen mempunyai cara masing-masing bagaimana mempromosikan HDTV.

Sony mengirimkan beberapa perwakilan tahun lalu ke agen elektronik untuk memberikan uji coba HD. Nantinya, penjual akan mempresentasikan kembali ke konsumen tentang HDTV.

Manajer perencanaan produk HDTV Samsung, Dan Schinasi, mengatakan, perusahaan memastikan segala detail informasi dicetak di atas kotak pembungkus dan petunjuk manual. Cetakan petunjuk lebih besar dapat terlihat di TV itu sendiri. [msnbc.com/HST/N-5]


Last modified: 4/1/08