SUARA PEMBARUAN DAILY

TOKOH MINGGU INI

Membuka Dialog

APMwai Kibaki

Pemilihan presiden Kenya pada Minggu (30/12) ternyata berbuntut panjang. Keputusan Komisi Pemilihan Umum bahwa Presiden Mwai Kibaki terpilih lagi, ditolak oleh kubu oposisi yang mengusung nama Raila Odinga. Penolakan itu menghasilkan kerusuhan di seantero Kenya yang terus mengarah ke konflik etnis. Sudah lebih dari 350 orang tewas.

Masyarakat internasional mengusulkan agar dibentuk sebuah pemerintahan koalisi di Kenya. Namun, Presiden Kibaki memiliki cara lain. Dia cenderung mengajak seluruh partai politik untuk berdialog agar kerusuhan tidak meluas.

"Saya siap untuk menggelar dialog agar suhu politik mereda. Dengan demikian, dicapai sesuatu yang konstruktif untuk menyelesaikan konflik," ujarnya, Kamis (3/1). Belum ada jawaban dari kelompok oposisi atas tawaran Kibaki itu.

Mwai Kibaki dilahirkan pada 15 November 1931 di Desa Gatuyaini, Distrik Nyeri, sebuah desa penghasil kopi di Kenya. Dia adalah anak pasangan Kibaki Githinji dan Teresia Wanjiku dan merupakan keturunan suku Kikuyu yang merupakan suku terbesar di Kenya.

Semasa muda, ia mendapatkan nama baptis Emilio Stanley oleh seorang misionaris Italia. Namun, nama itu tidak pernah digunakan sehingga kurang dikenal masyarakat Kenya.

Menjinjing tas kecil dan mengenakan baju kumal ketika berangkat ke Universitas Makarere di Uganda adalah hal yang biasa dilakukan Kibaki. Ia menempuh pendidikan dua tahun di Gatuyaini School, tiga tahun di Karima Mission School, Mathari Boarding Primary School (1944-1946).

Setelah lulus dari SMU Mang'u (1950) dengan nilai tertinggi, Kibaki melanjutkan pendidikan di Universitas Makeree. Di tempat itu dia belajar tentang ekonomi, sejarah, dan ilmu politik. Dia juga memimpin sebuah organisasi kemahasiswaan, Asosiasi Mahasiswa Kenya.

Pada 1955, Kibaki menerima beasiswa untuk belajar di London School of Economic. Ketika pulang kampung, ia mengajar ekonomi di Makarere sembari terlibat dalam gerakan kemerdekaan Mau Mau melawan Inggris.

Ia pun terlibat dalam menyusun konstitusi Kenya. Jika dilihat dari sejarah pendidikan dan sepak terjangnya selama menjadi mahasiswa, tak heran jika di kemudian hari Kibaki menjadi seorang ekonom sekaligus pemimpin partai politik.

Sebelum tampil sebagai kepala negara ketiga Kenya, Kibaki adalah wakil Presiden Kenya (1978- 988). Ia juga pernah menjabat menteri keuangan (1978-1981), menteri dalam negeri (1982-1988), dan menteri kesehatan (1988-1991).

Setelah kemerdekaan Kenya, ia ikut mengabdi dalam dua pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Jomo Kenyatta dan Presiden Daniel Arap Moi. Saat ia dipecat oleh Moi, Kibaki mendirikan partai oposisi yang diberi nama Partai Demokratik Kenya pada 1991.

Pada 1992 dan 1997, Kibaki berupaya meraih kursi presiden tetapi gagal. Tapi, akhirnya ambisinya terwujud saat memperoleh suara sebesar 63 persen pada pemilihan presiden 28 Desember 2002.

Keberhasilannya menyatukan partai oposisi dan menyingkirkan kandidat Partai Persatuan Nasional Afrika Kenya (KANU/Kenya African National Union) bernama Uhuru Kenyatta pantas menuai sukses. Pada 2005, ia menyodorkan konstitusi baru melalui sebuah referendum.

Tapi, 60% pemilih menolak konstitusi itu. Penolakan tersebut dinilai banyak pihak sebagai wujud meningkatnya kekecewaan rakyat setelah Kibaki dianggap menciptakan kediktatoran baru dan gagal memerangi korupsi. [Berbagai Sumber/SYH/O-1]


Last modified: 4/1/08