
AP/Wally Santana
Mantan PM Benazir Bhutto mendapat sambutan dari pendukungnya di Lahore, Pakistan, 12 November 2007.
arapan terhadap kemungkinan hadir kembali sosok perempuan untuk memimpin Pakistan telah lenyap seiring kematian tokoh oposisi Benazir Bhutto. Meski sudah dua kali terpilih sebagai perdana menteri, Bhutto masih menjadi panutan bagi kaum perempuan di tengah dominasi pria di panggung politik dan kekuasaan.
Harapan itu juga memudar saat partai pendukung Bhutto, Partai Rakyat Pakistan (PPP), akhirnya menunjuk putra sulung Bhutto, Bilawal Zardari sebagai penggantinya. Karena masih berusia muda dan belum banyak memiliki pengalaman politik, Bilawal dibantu ayahnya, Asif Ali Zardari.
"Pembunuhan Bhutto seharusnya tidak membuat kaum perempuan Muslim di seluruh dunia takut untuk berbicara lantang dan memperjuangkan hak-hak mereka di tengah masyarakat," ujar Kongres Islam Amerika beberapa saat setelah Bhutto tewas.
Kehadiran sosok Bhutto yang terpilih dua kali sebagai perdana menteri telah membuka pintu bagi kaum perempuan di Pakistan untuk terjun ke panggung politik. Namun, di sisi lain, Bhutto juga meninggalkan warisan lain yang justru bertentangan dengan harapan rakyat Pakistan, yakni pemerintahan yang korup dan politik kotor.
"Ya, tentu saja, ada simbol-simbol harapan ketika seorang wanita menjadi perdana menteri. Tapi, Bhutto menduduki posisi itu karena ayahnya adalah mantan pemimpin bangsa ini," ujar Aysha Iqbal (23 tahun), mahasiswi sebuah universitas di Lahore.
Asia Selatan memang banyak memiliki pemimpin wanita dibandingkan kawasan lain di dunia. Sebut saja nama Indira Gandhi di India, Sirimavo Bandaranaike dan putrinya Chandrika Kumaratunga di Sri Lanka, Sheikh Hasina dan Khaleda Zia di Bangladesh, dan tentu saja Benazir Bhutto yang dua kali menjadi perdana menteri, yakni pada 1988-1990 dan 1993-1996.
Namun, kekuasaan yang diperoleh para pemimpin wanita itu tidak terlepas dari "peran" pria-pria yang menjadi anggota keluarga mereka. Dalam kasus Bhutto, misalnya. Dia memimpin PPP yang didirikan oleh ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto, dan berhasil menang pemilu 1988.
"Dia (Benazir Bhutto) adalah pahlawan kami ketika itu. Kami berebut menyaksikan televisi untuk menyaksikan dia dan merasa bangga terhadapnya. Bagi perempuan muda seperti saya, Bhutto telah membawa harapan," ujar Zareen Ahmed, Ketua Forum Muslim Inggris.
"Berbagai program bertemakan kaum perempuan mulai banyak mengumandang di radio-radio pada masa kepemimpinannya. Di stasiun-stasiun televisi Pakistan, muncul berbagai program tentang hak-hak kaum perempuan," ujar Asma Jehangir, Ketua Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan.
"Dia telah memberikan banyak akses kepada kaum perempuan sampai pada tingkat pengambil keputusan. Saya baru pertama kali menginjakkan kaki di kantor perdana menteri, yaitu ketika Bhutto berkuasa," ujarnya.
Dominasi Pria
Namun, semakin lama harapan yang dibebankan ke pundak Bhutto terus menghilang. Dominasi kaum pria di penghujung kekuasaan Bhutto kembali terlihat. Korupsi pun merajalela. Bahkan, suami Bhutto mendapat julukan "Tuan 10 Persen" karena kerap mengutip komisi kepada pengusaha yang mendapat proyek dari pemerintah.
"Menurut saya, kaum feminis Barat ingin melihat Bhutto dan pemimpin perempuan lain sebagai pelopor. Namun, ternyata tidak. Para pemimpin perempuan itu terlihat justru terlihat sebagai kilas balik kekuasaan kaum pria sebelum mereka. Mereka menjalankan roda kekuasaan sama dengan kaum pria. Memperjuangkan hak perempuan tampaknya hanya menjadi tujuan kedua," ujar Muneeza Rashed (38 tahun) asal Lahore.
Menurut dia, pada masa kepemimpinan Bhutto masih banyak perempuan yang hidup di bawah garis kemiskinan. Banyak gadis yang tidak mengecam pendidikan dengan baik. Pendidikan lebih diutamakan kepada anak laki-laki.
Selain itu, banyak pula kaum perempuan yang menjadi korban perkosaan dan mendapatkan perlakuan diskriminasi di hadapan hukum. "Kalau diperhatikan dengan seksama, kaum perempuan hanya sedikit mendapatkan keuntungan saat Bhutto berkuasa," ujar Unaiza Malik (64 tahun) yang kini bekerja untuk organisasi Masyarakat Muslim London.
"Dia baru menjadi ikon pemimpin perempuan setelah kematiannya. Orang-orang tentu masih mengingat kekuasaannya yang penuh dengan praktik korupsi dan bagaimana dia masih dikendalikan orang lain, terutama dari suaminya," ujar Malik. [AP/O-1]