SUARA PEMBARUAN DAILY

Petaka di Penghujung Tahun

AP/Anjum Naveed

Peti mati mantan PM Benazir Bhutto diangkat beramai-ramai oleh pendukungnya saat hendak dibawa ke luar rumah sakit di Rawalpindi, Pakistan, 27 Desember 2007. Bhutto tewas dibunuh seusai berkampanye.

Ribuan orang berkerumun di sebuah lapangan di Kota Rawalpindi, Pakistan, pada Kamis, 27 Desember 2007. Empat hari lagi tahun berganti, dari 2007 ke 2008. Tapi, orang-orang itu berkumpul bukan untuk menyambut pergantian tahun.

Mereka berada di sana untuk mendengarkan pidato kampanye pemimpin mereka, mantan Perdana Menteri Benazir Bhutto. Wanita berusia 54 tahun itu tampak berapi-api saat berpidato dan menyampaikan program partainya, Partai Rakyat Pakistan, agar terpilih pada pemilihan umum yang dijadwalkan pada 8 Januari 2008.

Sambutan warga berlanjut hingga kampanye selesai. Mereka terus mengelu-elukan Bhutto hingga dia naik ke dalam mobilnya. Tak berapa lama kemudian terdengar suara tembakan sebanyak tiga kali. Paling tidak itu yang dikatakan saksi mata.

Belum habis rasa kaget, secara tiba-tiba pula terdengar suara ledakan dahsyat di antara kerumunan pendukung Bhutto. Sedikitnya 20 orang tewas dan puluhan lain luka-luka dalam insiden itu.

Bhutto, sang pemimpin, mengalami cedera dan langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Selang beberapa jam, muncul kabar yang menggemparkan. Bhutto dinyatakan tewas akibat luka yang dideritanya!

Semula disebutkan Bhutto mengalami luka di dada dan leher. Sehingga muncul dugaan kalau dia tewas karena ditembak dari jarak dekat. Belakangan, menurut pemerintah, Bhutto tewas karena kepalanya terbentur atap mobil saat dia buru-buru masuk ketika terdengar suara tembakan.

Berbagai reaksi dari seluruh penjuru dunia pun berdatangan. Sebagian besar adalah kecaman atas tindakan biadab terhadap seorang ikon demokrasi di Pakistan. Mereka juga khawatir kalau stabilitas keamanan di negara bersenjata nuklir itu terganggu.

Menurut PM India Manmohan Singh, Bhutto adalah sosok wanita yang unik dan sulit dicari tandingannya. Bhutto termasuk pemimpin yang berusaha mempererat hubungan dua negara nuklir, India dan Pakistan. "Pakistan telah kehilangan seorang tokoh yang telah bekerja keras untuk mewujudkan demokrasi dan rekonsiliasi," ujarnya.

Di Texas, Amerika Serikat (AS), Presiden George W Bush meminta agar pembunuhan itu segera diselidiki dan pelakunya diadili. Bush langsung melontarkan tuduhan kalau pelaku pembunuhan adalah kelompok garis keras di Pakistan. Sepertinya, Bush yang kian akrab dengan Presiden Pakistan Pervez Musharraf menampik kemungkinan pembunuhan itu bermotif politik.

Kekagetan juga dirasakan Presiden Afghanistan Hamid Karzai. Apalagi, pagi hari sebelum tragedi itu terjadi, Karzai bertemu dengan Bhuhtto. "Dia telah mengorbankan hidupnya untuk Pakistan dan untuk kawasan ini. Saya bertemu dia tadi pagi dan berbicara tentang perdamaian di Afghanistan dan Pakistan," ujar Karzai.

Belum Jelas

Sampai saat ini masih belum jelas motif dan bagaimana cara pelaku hingga berhasil membunuh Bhutto. Terkait motif pembunuhan, paling tidak beredar dua kemungkinan.

Pertama, Bhutto dibunuh oleh kelompok ekstrem, seperti yang diyakini oleh AS dan Pemerintah Pakistan. Dugaan itu diperkuat dengan sikap Bhutto sebelum kematiannya. Dalam kampanyenya, Bhutto berkali-kali menegaskan akan melawan kelompok ekstrem jika partainya menang pemilu nanti. Menurut dia, kelompok tersebut telah menjadi ancaman bagi demokrasi.

Pernyataan-pernyataan Bhutto itu mendapat reaksi dari kelompok Al Qaeda di Pakistan. Mereka pun mengancam akan membunuh Bhutto. Apalagi, saat Bhutto baru pulang dari pengasingan, Oktober 2007, percobaan pembunuhan telah dilakukan terhadapnya.

Kemungkinan kedua lebih mengarah ke masalah politik menjelang pemilihan parlemen yang dijadwalkan pada 8 Januari 2008. Tudingan, terutama dari para pendukung Bhutto dan kelompok oposisi lainnya, langsung diarahkan ke Presiden Musharraf.

Dugaan motif politik semakin diperkuat dengan surat elektronik yang dikirim Bhutto kepada juru bicaranya di AS, Mark Siegel. Keberadaan surat elektronik itu diungkapkan oleh stasiun televisi CNN.

Menurut CNN, surat itu dikirim Bhutto pada Oktober 2007, beberapa hari setelah percobaan pembunuhan terhadap dirinya. Menurut Siegel, dalam surat itu Bhutto menganggap Musharraf adalah orang yang bertanggung jawab jika terjadi sesuatu terhadap dia.

Menurut Bhutto, Musharraf tidak memberikan jaminan keamanan yang memadai selama dia berada di Pakistan untuk berkampanye. Padahal, Bhutto telah meminta pengamanan khusus.

Sedangkan tentang bagaimana Bhutto bisa tewas memunculkan tiga kemungkinan. Kemungkinan pertama, Bhutto tewas ditembak dari jarak dekat oleh pelaku yang kemudian meledakkan diri.

Kedua, Bhutto tewas terkena atap mobil, seperti yang diyakini pemerintah. Hal itu diperkuat dengan bekas darah di atap mobil yang membawa Bhutto. Sedangkan kemungkinan ketiga terkait keberadaan penembak jitu (sniper) yang beraksi dari salah satu gedung di dekat lokasi kejadian.

Semua kemungkinan itu masih belum terjawab. Pihak keluarga dan partai pendukung Bhutto mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melakukan penyelidikan terhadap pembunuhan Bhutto itu.

Tapi, Presiden Musharraf memiliki keinginan lain. Dia malah mengundang penyelidik dari Inggris agar membantu untuk mengungkap misteri kematian tokoh oposisi itu. Dan, sekali lagi, AS mendukung rencana Musharraf tersebut.

Kepentingan AS

AS memang memiliki banyak kepentingan terhadap Pakistan. Apalagi, sebagai negara nuklir, Pakistan memiliki posisi yang strategis. AS dan negara-negara Barat lain khawatir kalau konflik di Pakistan akan dimanfaatkan kelompok ekstrem untuk menguasai senjata nuklir negara itu. Hubungan Washington dan Islamabad pun semakin erat. Dengan dalih melawan terorisme di Pakistan dan Afghanistan, Presiden Bush mendukung rezim militer yang dipimpin Musharraf.

Padahal, AS selama ini mengecam keberadaan rezim militer dengan dalih demokrasi dan penegakan hak asasi manusia. Sikap keras AS terhadap kekuasaan militer, misalnya, diperlihatkan terhadap junta Myanmar. Setelah kematian Bhutto, pertanyaan yang muncul adalah apa rencana AS terhadap Pakistan selanjutnya?

Bagi AS, stabilitas keamanan Pakistan merupakan tujuan utama. Sebelum Bhutto kembali dari pengasingan, AS termasuk pendukung rencana koalisi pemimpin oposisi itu dengan Musharraf.

Berbagai upaya telah dilakukan agar koalisi itu bisa berjalan, salah satunya adalah pengunduran diri Musharraf dari jabatan militer. Musharraf yang terpilih lagi pada pemilihan yang kontroversial, awal Desember 2007 dilantik sebagai presiden sipil. Menurut CNN, pembunuhan Bhutto menyebabkan pemerintahan Bush saat ini tengah mencari "rencana lain" untuk tetap menciptakan stabilitas di Pakistan.

Salah satu pilihannya adalah tokoh oposisi lain, mantan PM Nawaz Sharif. Selama ini, AS sedikit menjauh dari Sharif karena kedekatannya dengan partai-partai Islam oposisi. Kemungkinan koalisi Sharif-Musharraf juga amat sulit karena kedua tokoh itu memiliki perseteruan pribadi yang sukar untuk didamaikan.

Tampaknya, AS masih kesulitan untuk mencari "rekan" Musharraf agar kepentingan negara adidaya itu tetap berjalan. Dengan situasi seperti itu, bukan tidak mungkin pemerintahan Bush akan membiarkan Musharraf dan partainya kembali menang pemilu, dengan cara apa pun, sehingga sang presiden bisa fokus pada tuntutan AS dalam membasmi para ekstremis. [Berbagai Sumber/O-1]


Last modified: 4/1/08