SUARA PEMBARUAN DAILY

Memfokuskan Objek Foto, Seberapa Penting?

SP/Luther Ulag

Para korban banjir Sungai Ciliwung tampak di pengungsian dari refleksi kaca spion sebuah mobil. Kaca spion tidak tampak fokus, karena titik fokus berada di area bayangan berupa para pengungsi. Memfokuskan objek foto adalah upaya menyetel lensa agar menimbulkan imaji tajam pada fotonya nanti

Di samping teknis fotografi yang lainnya seperti ketepatan pencahayaan dan komposisi, kemampuan seorang fotografer dalam memfokuskan suatu objek amat menentukan bagus tidaknya imaji yang bakal terekam di dalam kameranya. Kegagalan memotret salah satunya bisa disebabkan karena kesalahan dalam memfokuskabn objek yang difoto.

Fokus yang "meleset" misalnya akan dapat menghancurkan sebuah foto. Jadi, kalau ada yang bertanya, memfokuskan objek foto, seberapa penting? Jawabnya, jelas penting. Kalau begitu, langkah-langkah apa sajakah yang perlu dipahami dalam memfokuskan suatu objek foto?

Secara definisi, memfokuskan objek foto adalah upaya menyetel lensa agar menimbulkan imaji tajam pada fotonya nanti. Pada kamera SLR atau kamera refleks tunggal, apa yang tampak di jendela bidik sama dengan yang akan terjadi pada fotonya. Maka memfokuskan objek foto pada kamera SLR adalah menyetel titik fokus lensa sampai menimbulkan imaji tajam pada jendela bidik.

Fotografi pada dasarnya adalah memindahkan imaji yang ada di alam nyata ke dalam gambaran dua dimensi dengan bantuan lensa. Maka dengan pemindahan dimensi dari tiga menjadi dua ini, ada bagian yang akan lebih menonjol daripada yang lain akibat keterbatasan lensa. Di alam nyata, mata manusia akan langsung memfokuskan kepada suatu objek yang dilihatnya, sedangkan lensa kamera hanya akan memfokuskan ke bagian-bagian tertentu yang diinginkan sang pemotret saja.

Lensa kamera mempunyai keterbatasan dalam memfokuskan objek. Lensa hanya akan mampu memberikan imaji tajam pada suatu kedalaman tertentu saja. Lensa secara umum tidak bisa memfokuskan pada semua yang tampak di jendela bidik. Secara teknis disebut bahwa lensa mempunyai depth of field.

Lensa lebar (wide) tampaknya memang mempunyai depth of field sangat besar, namun sesungguhnya tidak demikian. Seperti lensa lain, lensa lebar sebenarnya juga mempunyai titik fokus satu bidang saja. Sementara bagian lainnya, sekadar mempunyai acceptable sharpness atau ketajaman visual yang layak bagi mata manusia.

Dengan keterbatasan lensa itu, fokus yang "meleset" akan menghancurkan sebuah foto. Bayangkan, misalnya Anda berfoto di depan Danau Toba, namun dalam fotonya yang terfokus adalah Danau Toba-nya, sementara Anda sendiri cuma berupa gambar samar-samar akibat out of focus. Dalam kasus ini, istilah "meleset" layak dipakai karena seharusnya yang terfokus adalah Anda, sementara Danau Toba adalah sekadar latar belakang yang seharusnya tampak namun tidak perlu fokus.

Pemilihan bagian mana yang harus fokus dan bagian mana yang tidak sangat bergantung kepada bagian mana yang sekadar latar belakang. Kegiatan memfokuskan objek bisa juga untuk menghilangkan sama sekali latar belakang dengan bukaan diafragma sebesar mungkin dengan lensa sepanjang mungkin. Memfokuskan untuk menonjolkan objek tertentu disebut dengan istilah selective focus atau fokus selektif.

Adanya depth of field pada lensa memang memudahkan kita saat memfokuskan suatu objek foto. Namun kita harus camkan baik-baik bahwa fokus yang tepat hanya ada pada satu bidang di depan lensa saja tidak peduli berapa panjang jarak fokal lensa Anda. Masalah fokus yang sangat teliti akan sangat menonjol bila kita akan mencetak foto kita dalam ukuran sangat besar.

Memfokuskan objek foto bisa digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu fokus statis (static focus), fokus bergerak (follow focus), dan fokus jebakan (focus trapping). Fokus statis adalah kegiatan membuat fokus dalam pemotretan yang objeknya tidak bergerak, misalnya memotret pemandangan atau memotret manusia yang memang berpose.

Memotret pemandangan, karena objeknya relatif terletak pada jarak tidak terhingga, kita biasanya bisa langsung menyetel lensa pada jarak tidak terhingga pula. Dengan cara ini hasilnya, biasanya sangat memadai terutama kalau kita memakai bukaan diafragma kecil.

Namun sebenarnya memotret pemandangan adalah memotret sesuatu pada jarak nyaris tidak terhingga, atau sedikikit lebih dekat daripada jarak tidak terhingga. Seharusnya kita memfokuskan objek pada setelan lensa sedikit sebelum tidak terhingga. Pada pembesaran foto yang sangat besar, selisih yang sedikit ini akan sangat kentara.

Pada pemotretan manusia, titik yang harus difokus adalah mata manusia. Sedangkan pada keadaan tertentu kita bahkan terpaksa memilih mata mana yang harus fokus. Pada foto close up manusia, fokus sebaiknya pada mata yang lebih dekat kepada kamera.

Pada kasus memotret orang dalam jumlah banyak, kita harus bijaksana. Untuk jarak yang relatif jauh dari kamera, sekitar empat sampai 10 meter, depth of field lensa membantu kita dalam memotret. Kalau orang-orang yang kita potret misalnya berdiri dalam tiga baris, sebaiknya kita memfokus pada baris yang tengah. Baris depan dan baris belakang akan terfokus akibat adanya depth of field itu.

Penting untuk dicatat adalah, depth of field ke bagian jauh dari lensa sekitar dua kali lebih panjang daripada depth of field ke bagian dekat lensa. Dengan kenyataan itu, kalau kita memotret orang dalam tiga baris seperti disebut tadi, sebaiknya kita memfokuskan kamera kita ke deret tengah, lalu geser penyetelan lensa sedikit ke baris yang depan.

Fokus Bergerak

Pemotretan benda yang bergerak menuntut sang pemotret terus menerus mengubah setelan fokusnya. Pemotretan dengan objek yang terus bergerak misalnya memotret atlet yang bermain tenis atau memotret peragaan busana.

Dalam pemotretan tenis, fotografer menunggu sang petenis sampai mempunyai pose yang dinamis, sementara pada pemotretan peragaan busana sang fotografer menunggu saat sang peragawati berada pada pose yang baik dan pakaian yang dikenakannya terekspos maksimal. Di sini selective focus juga berperan, yaitu dengan mengaburkan latar belakang sehingga objek utama menonjol.

Pada hal-hal tertentu, kita harus memfokuskan kamera kita dengan perkiraan karena berbagai hal. Misalnya objeknya akan lewat dalam waktu singkat, atau pada waktu yang tidak terduga, atau pada keadaan yang tidak memungkinkan kita memotret dengan normal. Menyetel fokus dengan perkiraan tanpa membidik biasanya disebut dengan istilah preset focus.

Pada pemotretan olahraga lari 100 meter, kita memang bisa melakukan follow focus. Namun hal ini sering tidak memungkinkan karena tidak selalu bisa kita tahu siapa yang akan menang, atau siapa yang harus diikuti. Untuk itu kita bisa "menjebak" pemenang dengan memfokus pada sedikit di depan garis finish. Umumnya saat menyentuh garis finish, seorang pelari belum berekspresi. Ia baru menunjukkan kegembiraannya sekitar dua atau tiga meter setelah melalui garis finish. Ke titik inilah kita harus memfokuskan untuk menjebak adegan tersebut.

Pemakaian fokus jebakan lain adalah saat kita akan memotret hewan langka di Ujungkulon misalnya. Kita tidak pernah tahu kapan seekor badak Jawa akan lewat pada suatu tempat. Maka kita memasang sebuah kamera tersembunyi, lalu memfokuskan lensa pada suatu tempat di mana sang badak akan menginjak tombol penjepret rananya.

Pemakaian preset focus lain adalah saat kita ingin memotret dari suatu tempat tinggi. Misalnya kita akan memotret dengan kamera jauh di atas kepala sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi, tentunya kita tidak bisa memfokus sambil memotret. Di sini, kita harus memperkirakan dulu jarak fokusnya, baru mengangkat kamera lalu memotret. [RONY SIMANJUNTAK]


Last modified: 4/1/08