Ternyata masalah lingkungan bukan hanya menjadi kepedulian para petinggi negara (PBB) sebagaimana yang berlangsung di Bali. Agamawan juga memiliki kepedulian dan keprihatinan yang sama terhadap masalah lingkungan yang semakin kritis di bumi ini. Bahkan agama memiliki peran penting untuk melestarikan lingkungan dan memiliki kepedulian terhadap perubahan iklim. Itulah sebabnya, Presiden Yudhoyono melibatkan agamawan lintas agama ikut menyelesaikan masalah perubahan iklim ini. Beberapa waktu yang lalu Presiden menghadiri pertemuan lintas agama danperubahan iklim di Bali.
Pelibatan tokoh agama dalam program pelestarian alam ini sangat penting karena mereka memiliki umat yang sangat potensial bagi pelestarian lingkungan. Namun demikian, pelibatan dan keseriusan kaum agamawan ini harus disertai dengan komitmen pemerintah untuk sungguh-sungguh bekerjasama sehingga diperoleh keuntungan bersama. Para tokoh agama beserta umatnya harus menjadi subyek yang terlibat aktif dan pemerintah memberi perhatian terhadap keterlibatan mereka.
Isma Rahmawati - Jl Ir H. Juanda No 95 Ciputat, Tangerang
Bencana alam kembali hadir di tengah-tengah kita. Longsor dahsyat terjadi di Karanganyar dan Wonogiri, sedangkan Solo diterjang banjir bandang. Beberapa tempat lainnya, juga mengalami nasib serupa. Semuanya menelan korban jiwa puluhan orang dan harta benda yang merugikan ratusan juta rupiah. Kita prihatin dengan bencana ini, namun ekspresi keprihatinan saja tidak cukup. Kita harus melakukan introspeksi dan koreksi mengapa hal ini terjadi. Penggundulan hutan, dan pembalakkan liar, serta tata manajemen saluran air yang buruk, bisa menjadi kambing hitam dalam bencana ini. Namun mempersoalkan kambing hitam tanpa solusi dan langkah nyata, sama saja perbuatan yang mubazir.
Benar kata iklan layanan masyarakat, bahwa bencana bukanlah obyek tontonan. Justru melalui bencana ini, kita sepatutnya mengambil hikmah untuk meningkatkan solidaritas dan kesetiakawanan bagi sesama dalam bentuk tolong-menolong dan saling mengirim doa keselamatan. Suasana Tahun Baru 2008, adalah momentum yang tepat untuk menyisihkan sebagian biaya kegembiraan dan keceriaan kepada mereka yang menderita karena bencana.
Budi Purnomo - Koordinator JEJAK