SUARA PEMBARUAN DAILY

Jalan Baru Keagamaan di Indonesia

Judul Buku: Manusia AlQuran

Penulis: Prof Dr Abdul Munir Mulkhan
Penerbit: Kanisius Yogyakarta
Cetakan: 1, 2007
Tebal: 372 Halaman

Perubahan dan perkembangan zaman pada akhirnya menuntut manusia untuk melakukan banyak penyesuaian dalam kehidupannya, tidak terkecuali dalam kehidupan beragama. Sayangnya, dalam konteks kehidupan beragama, seringkali muncul fenomena keengganan untuk merubah sikap atau pun pemikiran karena berasal dari guru, ulama maupun kelompok atau sumber yang mereka yakini kebenarannya, betapa pun tidak relevan pemikiran maupun sikap tersebut dalam kehidupannya.

Kondisi tersebut pada akhirnya membawa dampak sikap eksklusif, fanatis, kebekuan berpikir dan bahkan benturan fisik antarpemikiran dan kelompok yang berbeda dalam kehidupan umat ber- agama.

Dalam situasi seperti itulah Islam memerlukan hadirnya seorang mujaddid (pembaharu) untuk menafsir ulang pamikiran lama atas ayat-ayat kitab suci tanpa harus mengurangi esensi kebenaran yang terkandung di dalamnya. Hal itu sangatlah penting untuk dilakukan, agar kitab suci Al-qur'an-sebagai penuntun jalan hidup umat manusia-tetap relevan dengan konteks zamannya.

Oleh sebab itu, maka terobosan baru berupa interpretasi ulang atas seluruh ajaran Islam sebagaimana tafsir para ulama terdahulu yang sepertinya telah ditempatkan dalam ruang sakral itu, nampaknya memang sangat diperlukan. Mengingat kondisi sosial masyarakat yang selalu berkembang dan terus mengalami perubahan. Selain itu, upaya reaktualisasi misi Alqur'an adalah sebuah keniscayaan, sehingga sinergis dengan perubahan sosial yang terjadi dalam suatu masyarakat.

Perkembangan sejarah dan perubahan sosial tersebut merupakan bagian dari daya kreatif manusia secara sendiri atau kelompok yang dimotivasi oleh kebutuhan empiris dan pragmatis atau sistem nilai yang diyakini seseorang atau masyarakat. Dalam hal ini, Al-qur'an telah memberi informasi tentang beragam pola dan model perkembangan sejarah dan perubahan sosial yang terjadi dalam suatu masyarakat.

Masalahnya tinggal bagaimana kita mengkonstruksi tafsir atas ayat-ayat di dalam kitab suci tersebut menjadi suatu gagasan teoritis yang bisa dikaji secara rasional dan dialogis.

Landscape (peta empiris) baru pemikiran generasi muda santri itu muncul di hampir semua bangsa-bangsa Muslim di dunia, mulai dari Aljazai, Mesir, Arab Saudi, Iran, dan sampai ke berbagai kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Gagasan kritis mereka itulah yang biasanya akrab diberi label Liberal, Progresif, Transformatif, atau Profetik yang kadang sangat sulit dibedakan satu dengan lainnya.

Di Indonesia sendiri, kelompok tafsir yang umumnya melibatkan anak-anak muda santri itu kini tanpak bermunculan dengan berbagai macam corak. Beberapa kelompok kaum muda santri itu meliputi Jaringan Islam Liberal (JIL), Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), Gerakan Islam Transformatif (GIT), Generasi Santri Progresif (GSP), Gerakan Dakwah Islam Profetik (GARDIF), Jaringan Filantropi Islam (JIFI), atau Gerakan Praksis Kemanusiaan Ma- dani (Gaprikima), dan lemabaga sejenis lainnya.

Lahirnya beragam gerakan sosial baru Islam dari anak-anak muda Muslim tersebut bersumber pada model penafsiran sumber-sumber primer ajaran Islam secara kritis. Model penafsiran yang demikian itu merupakan tuntutan sejarah akibat perkembangan kehidupan sosial-budaya pemeluknya sendiri dan dunia global.

Seluruh kelompok tafsir yang umumnya melibatkan anak muda santri terus berusaha mengembangkan pemahaman baru atas ajaran Islam baik dari sumber asli Alquran dan sunnah ataupun dari beragam penafsiran yang sudah ada.

Namun demikian, lahirnya kelompok kaum muda santri itu bukanlah tanpa tujuan yang jelas. Tujuan utamanya, mereka menginginkan bagaimana ajaran Islam yang mereka yakini itu benar-benar bisa memecahkan persoalan yang dihadapi pemeluk Islam dan peradaban dunia. Dan berawal dari hal itulah anak-anak muda santri itu ingin mewujudkan fungsi doktrin rahma li al-'alamin dari ajaran Islam, sekaligus juga para pemeluk Islam itu sendiri. [Dewi Mabruroh, aktivis Lembaga Kajian Sinergi Yogyakarta]


Last modified: 4/1/08