SUARA PEMBARUAN DAILY

Sajak Maghfur Saan

Siapa?

siapa yang lewat barusan?

ketika itu orang-orang belum tidur pulas,

masih menghitung sederetan nama

yang retak di atas bebatuan

rupanya wajah sendiri telah dilupakan lantaran pengharapannya

sebagai pemenang dalam taruhan semalam sudah pupus

akh barangkali dia yang telah merebut bulan dan menelannya pelan-pelan

ya, siapa yang lewat barusan?

terlalu banyak telapak menyerupai lingkaran waktu

menggoreskan prahara cinta di kening matahari

dan melahirkan anak cucu baru dimulai dari nol dan berakhir ke nol berikutnya

menjadi rutinitas yang tak pernah usai

siapa? ya, siapa yang lewat barusan?

orang-orang masih bersimpuh pada sungai-sungai yang mengalirkan

cerita muasal batu

mencatat partiturnya untuk sebuah muara

tapi tak ada panggilan bagi pengembara yang tersesat

mungkin dia yang telah memutar arah jarum jam ke pusaran beliung waktu

lantas siapa yang lewat barusan?

perahu-perahu telah bergoyang pertanda siap berebut bendera ke tengah laut

tapi nakoda masih sibuk mencari tiang-tiang untuk membentangkan layar

rupanya dia yang telah merompaknya dan menebarkan dendam kesumat camar

batang' 2007

Belajar dari Matahari

apa matamu tidak ngantuk?

semalam kau tidak tidur

padahal sudah kukatakan padamu tak baik terus-menerus memelihara gundah

tapi kau bahkan menyemainya dari tampah satu ke tampah lain dan memberi

nama baru kepada setiap yang lahir

kau menulisnya pada buku kumpulan mantra-mantra

begitu sakral kau keluar-masuk kamar kesadaranmu

subuh tak akan kembali menjadi subuh lantaran matahari telah membuka kelir

yang sama sekali baru

tinggal kau sendiri mau memungutnya atau lagi-lagi berpihak pada ketidakpastian

kerut dahimu tak bisa meleleh oleh bintang-bintang semalam, yang dengan mata

jalang mengawasi perputaran jarum jam

kau telah terlanjur meniti putaran waktu lain pada poros yang bernama ragu dan

jarum-jarumnya bernama jemu

sekarang matahari sudah menabuh genderang

jangan biarkan tanganmu sembunyi menghadapi perang!

sebab menang dan kalah hanya sebagian yang terpenggal dari rasa takut dan

kengerian

yang bakal kaudapati sesungguhnya adalah bagaimana cara mempreteli dusta pada

setiap jari-jemarimu

maka belajarlah bagaimana cara matahari meliuk-liukkan jemarinya memainkan

partitur genderang itu

batang '2007

Rapuh

setiap jalan di kotamu telah diterangi oleh lampu yang menyala dengan warna

abu-abu

sedang bulan menampakkan wajah pipih seperti daun yang layu

kulihat banyak orang menangis sepanjang malam menyesali peta yang tak pernah

selesai mereka anyam

kubaca penanggalan, masih jauh sungai-sungai waktu yang harus kulewati

sedang bendera yang melilit di keningmu sudah

tercabik-cabik

apakah mungkin kau masih mampu berteriak 'tidak' untuk sebuah pilihan yang

tak memberi peluang membunuh kedengkian?

kota semakin jadi abu-abu untuk sekadar menjadi penunggu lintasan mulai

kian menipis dan menerawang

bagian tubuhmu yang paling sensual pun tampak lekak-lekuknya

saatnya para pemulung menikmati pemandangan itu dan memungutnya untuk

dirombengkan

di kota ini begitu banyak daur ulang dari keyakinan yang rapuh

menumpuk di rumah-rumah kumuh lantas dikemas kembali dengan berbagai

warna-warni dan dikirim ke mal

kau sendiri lebih tertarik untuk menjadi penjaja sekaligus penunggu etalase

dengan tangkasnya bibirmu yang abu-abu itu mengurai dendam, memasung

keteguhan dan meyakinkan pameo baru

"sementara bimbang, sementara senang"

batang, 2007

Puisi

menunggu sesuatu, di sebuah sore yang hampir gelap

mirip sebuah cerita kemurungan dengan langit warna abu-abu

melilitkan butir-butir salju ke leherku

sepertinya membukakan pintu kulkas: masa kanak-kanakku membeku di sana

potongan-potongan puisi yang katamu sekadar

menjadi penghibur

masih tersimpan dalam saku baju kanak-kanakku

belum sempat kubaca kembali huruf-hurufnya yang dulu berpijar

di depan mataku manakala ibuku menyuruhku

memasukkan ujung benang

ke lubang jarum waktu

baling-baling kipas angin masih berputar

menggumamkan putaran zaman yang tak henti-hentinya menampar-namparkan

ke wajahku dengan sayatan tajam

tubuhku pun terpotong-potong menjadi jutaan

penggalan waktu yang tak mungkin

dapat dipersatukan kembali

saat itu baru kurasakan bahwa malam memang

sangat gelap

dan di sana kau muncul menemukan dendammu!


Last modified: 4/1/08