[CILACAP] Banjir yang melanda areal pesawahan di beberapa kecamatan di Kabupupaten Cilacap, Jawa Tengah, setiap hari terus bertambah luas. Genangan air di sawah pun sudah berlangsung sepekan dan belum ada tanda-tanda akan surut, karena hujan masih juga turun sampai Sabtu (5/1) pagi.
"Petani saya imbau waspada, karena genangan di sawah menjadi ancaman. Bila genangan tak surut bibit bisa menjadi busuk," kata Kepala Dinas Pertanian (Dipertan) Cilacap Anton Santosa, di Cilacap, Sabtu pagi.
Dikatakan, petani harus berupaya agar tidak kehilangan bibit padi yang tergenang karena setiap hektare sawah minimal butuh dana Rp 500.000 untuk bibit dan biaya tanam. Luas sawah yang tergenang saat ini sekitar 2.000 hektare (ha), dari total 63.000 ha. Kalau dilihat persentasenya, luas genangannya masih sedikit dibanding yang bebas genangan.
Harus dipikirkan nasib petani yang sawahnya tergenang seperti yang ada di Kecamatan Sampang, Kroya, Adipala, Nusawungu, Sidareja, Kawunganten, Gandrungmangu, Majenang, dan Wanareja. "Daerah tersebut sudah menjadi langganan banjir setiap tahun," katanya.
Tanaman atau bibit padi yang masih muda, hanya bisa bertahan hidup dalam genangan selama tiga sampai sampai empat hari. Bila genangan sudah memasuki hari ke lima, dipastikan batang dan akar bibit itu akan membusuk dan mati, katanya.
Dalam curah hujan biasa, sawah di Cilacap yang tergenang biasanya berkisar antara 2.000 sampai 3.000 ha per tahun. Namun, bila curah hujan tinggi di atas normal, luas genangan di sawah akan lebih dari angka tersebut. Bisa mencapai 5.000 ha.
Daerah yang paling berat menanggung genangan banjir adalah wilayah Cilacap barat seperti Sidareja, Cmanggu, Cipari, Majenang, rata-rata bibit yang terendam baru berusia 25 hari. Sedang di wilayah Cilacap timur meliputi Kecamatan Sampang, Kroya, dan Nusawungu.
Dia tetap optimistis walau terjadi genangan di sana-sini, produksi pangan, khususnya padi di Cilacap pada 2008 akan tetap terpenuhi. Apalagi Cilacap merupakan daerah penyangga pangan nasional utama di Jawa Tengah. "Target yang dipatok tahun 2008 adalah 765.000 ton. Pada 2007, dari target 719.000 ton, bisa tercapai 720.000 ton," katanya. [WMO/M-11]