[NEW YORK] Harga minyak mentah dunia menyentuh level US$ 100 per barel untuk pertama kalinya dalam sejarah pada perdagangan di pasar New York, Rabu (2/1). Pada perdagangan hari pertama di 2008, harga minyak akhirnya ditutup di posisi US$ 99,62 per barel, naik US$ 3,64 dari penutupan akhir tahun.
Terkait kondisi tersebut, kalangan pengusaha di Tanah Air meminta pemerintah merumuskan kebijakan yang tepat, untuk melindungi kepentingan industri nasional. Langkah yang disarankan, yakni mengatur dan menghitung kebutuhan minyak untuk kalangan industri dan rumah tangga, sehingga harga jual minyak di dalam negeri tidak perlu dinaikkan.
"Lonjakan harga minyak pada perdagangan pertama tahun ini karena faktor musim dingin dan kekerasan politik di Nigeria dan Aljazair, yang merupakan dua anggota OPEC (Organisasi Negara Pengekspor Minyak, Red) yang menjadi sumber impor minyak mentah AS," kata analis Newedge Group, Antoinne Halff.
Setidaknya 12 orang terbunuh di Port Harcourt, Nigeria pada libur Tahun Baru lalu. Kekerasan oleh kaum militan ini telah mengurangi seperlima produksi minyak Nigeria sejak awal 2006.
Menyikapi hal tersebut, Sekjen Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Djimanto, di Jakarta, Kamis (3/1) meminta pemerintah segera mengambil kebijakan yang tepat. Apindo berharap pemerintah tidak mengulangi kebijakan yang sama di tahun 2007, yaitu menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) industri per dua minggu.
Djimanto meminta kenaikan harga BBM industri dikembalikan setiap bulan sekali, bahkan bila memungkinkan tiap tiga bulan sekali.
Kenaikan harga minyak yang menyentuh rekor US$ 100 per barel juga menyebabkan investor di pasar saham panik. Investor khawatir lonjakan harga tersebut kian memicu perlambatan pertumbuhan sektor manufaktur sebagai penggerak terbesar ekonomi dunia.
Indeks Dow Jones di Bursa New York, terkoreksi 220,86 poin dan ditutup di posisi 13.043,96 pada perdagangan Rabu (2/1).
Sedangkan, pada pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.30 WIB, indeks turun 19,121 poin ke level 2.712,386.
Turunnya indeks itu diikuti melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Pukul 09.35 WIB, dolar AS di pasar spot antarbank diperdagangkan di posisi Rp 9.405, turun dari sebelumnya Rp 9.307 per dolar AS. [AFP/MRS/EAS/B-15]